Romantisme ala Kashmir

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Puisi
dipublikasikan 30 April 2017
Romantisme ala Kashmir

= Romantisme ala Kashmir =

 

sore itu, ditepi Dal Lake

sudah dua kali dia mondar-mandir dihadapanku,

tersenyum, kemudian tersenyum lagi

 

“maukah kau berkeliling melihat danau?”

akhirnya dia tak hanya tersenyum,

jika dibelahan hindustan lainnya aku biasa mengucapkan,

tidak, terimakasih!

melihat dia, rasanya aku tak berani menolak,

entah insting macam apa yang memerintah sang cortex

 

kusisihkan “The Worshipping Grass” yang kugenggam,

teman setia dalam perjalanan,

ku sambut uluran tangannya,

kami duduk berhadap-hadapan,

sampan kecil membawa kami menyusuri danau Dal

 

“malaysia?”

pertanyaan kedua keluar dari mulutnya,

“bukan, Indonesia”

“ooh, Indonesia, aku pernah mendengarnya”

kami masih berhadapan,

 

tanganku menyentuh air danau, dingin sekali,

“pertama kali ke Kashmir?”

aku mengangguk,

“kau suka Kashmir?”

dia sekarang mulai berani menatap mataku,

“hmmm, aku belum tahu, aku baru datang”,

kulihat dia tertegun

“jangan khawatir, kau akan jatuh cinta pada Kashmir”

ujarnya sambil terus mengayuh sampan.

 

kutatap dia lekat-lekat,

rasanya aku pernah melihat dia,

wajahnya familiar,

tapi dimana aku melihatnya?

 

alisnya tebal,

wajahnya oval,

kulitnya bersih,

perawakannya sedang,

senyumnya manis sekali,

sesekali dia tampak rikuh,

kemeja hitamnya tampak kebesaran dibadannya,

dia,

aku ingat!

Jamal Malik!

ya, benar! aku pernah melihatnya!

dia mirip sekali dengan pemeran Jamal Malik,

Slumdog Millionaire!

 

“kau mau mampir kerumahku?”

hmm, tawarannya kedua mulai datang,

“rumahku dekat sini kok, di dekat house boat”

aku belum menjawab,

“mau?”

dia mengulangi pertanyaannya.

“baiklah”,

senyumnya mengembang lagi

 

dia mengaitkan sampan pada sebatang sandaran kayu,

aku berjalan dibelakangnya,

dia terlihat tergesa-gesa,

“ayo masuk”

aku duduk didalam rumah panggung,

ditengah-tengah danau Dal,

seorang wanita memakai dupata emas keluar,

menatapku,

Jamal Malik memperkenalkan aku kepada, ibunya

sang Ibu barulah terlihat senyumnya,

dia segera menyuguhkan secangkir butter tea,

teh bercampur mentega, teh yang tak lazim dilidahku

“Kashmiri bread”,

wanita setengah tua itu menyorongkan kudapan dihadapanku,

kini banyak makanan didepan mataku,

“begini cara memakannya”,

wanita tua berhidung bangir memberitahu cara makan

“ambil kashmiri bread dan celupkan kedalam butter tea”

tiba-tiba,

orang-orang mulai berdatangan,

satu persatu kulihat orang-orang masuk kedalam rumahnya,

anak-anak, lelaki, wanita, tua, muda,

ruang tamunya hampir penuh

kulihat ada juga yang menonton lewat jendela

aku duduk bersila, menatap orang-orang yang juga menatap dan

sambil berbicara yang tentu tak aku mengerti.

“they are my neighbour, they want to meet you,

i told them i have a muslim guest,

sementara aku hanya bisa nyengir kuda,

“come on, I’ll show you the whole part of the Lake”

dia sudah memintaku berdiri,

aku mengikutinya,

dan anak-anak kecil itu mengikuti kami,

 

kami berjalan melewati halaman belakang,

tak kusangka Dal Lake yang hanya kufikir sebuah danau,

ternyata juga memiliki lapangan sepakbola,

tempat pelelangan ikan,

spot khusus untuk memancing,

dan tentu saja warung-warung makan,

ibu-ibu berkerumun, sesekali melihat kearahku,

 

“muslim new friend from Indonesia”,

begitu kira-kira aku mendengarnya berkata,

jika ada yang bertanya, siapa aku

dan aku hanya bisa tersenyum,

 

sore merangkak senja,

“aku harus kembali ke house boat”

dia menelisik wajahku,

“tak maukah kau minum kopi denganku?”

tawaran apa lagi ini?

“ada coffee shop di Dal, kepunyaan temanku”

“tapi sudah hampir maghrib”

“kau bisa shalat dulu di rumahku”,

dia menyela

“kemudian kita bisa ke coffee shop”

okay, aku mulai terpesona akan Jamal Malik

 

maghrib telah berlalu,

sampan kembali dikayuh,

kami kembali menyusuri Dal,

“kamu suka latte ?”

“aku tidak suka kopi”

dia tampak kebingungan,

seorang pemuda keluar dari kedai kopi

memperkenalkan diri sebagai teman Jamal Malik,

mereka berbincang dalam bahasa Urdu,

tiba-tiba sang teman masuk kemudian keluar,

“you will like this”, katanya sambil memberikan secangkir kopi

kami kemudian duduk bertiga, menikmati semilir Kashmir

“berapa lama akan tinggal di Kashmir?”

sang teman bertanya,

“tak lama, besok aku sudah harus ke Ladakh”

Jamal Malik terlihat kaget,

“cepat sekali ya, kau harus tinggal lebih lama di Srinagar”,

sang teman masih memberi komentar,

Jamal Malik hanya terdiam

“tidak bisa, Geshe La sudah menunggu ku di Choglamsar besok”

 

kami akhirnya berpamitan,

Jamal Malik yang dari tadi banyak berkata-kata,

mengapa tiba-tiba membungkam kata,

“house boat ku disebelah sana”,

aku menunjuk ke arah utara

“aku ingin mengajakmu melihat Srinagar dimalam hari”,

kali ini tak ada pertanyaan,

hanya pernyataannya.

 

perahu kecil terus berputar,

Srinagar semakin indah di malam hari,

“malam ini kebetulan ada bazaar”

“ada Asian shop juga”,

aku hanya membalas senyumnya.

 

benar! jauh sedikit meninggalkan kerumunan house boat,

bazaar di Srinagar ramai adanya,

semua transaksi di atas sampan,

penjual baju,

sepatu,

bunga,

makanan,

dan banyak yang lainnya.

 

entah berapa lama kami bersama,

ia tak terlihat letih menarik sampan,

“sekarang aku akan mengantarmu pulang”

 

“bolehkah aku mengantarmu besok”

dia menawarkan,

aku mengangguk untuk yang kesekian

kalinya.

 

pagi menjelang,

dia sudah berdiri didepan,

Srinagar diguyur hujan,

“hati-hati”,

dia memperingatkan,

ketika kakiku menginjak sampannya.

 

“terimakasih untuk kemarin dan hari ini”

aku menjabat tangannya,

dingin!

“ini”

dia memberikan secaraik kertas,

“maukah mengabariku jika sudah sampai di Ladakh”,

“I will”

 

kami berpisah,

secarik kertas lusuh,

bertuliskan sebaris nama

dan beberapa angka.

  • view 51