“Sebilah kayu untuk Rumahku”

Irma Permata Asri
Karya Irma Permata Asri Kategori Renungan
dipublikasikan 14 September 2016
“Sebilah kayu untuk Rumahku”

 

“Sebilah kayu untuk Rumahku”

buah tangan dari negeri sebrang

                                                                                                created by Irma Permata Asri

13.31 PM waktu singapura

Siang, Changi Airport

Setibanya, aku dan kamu berjalan menelusuri jejalanan diantara gedung-gedung yang menjulang. Tempat para Pebisnis ulung menjadikan uang prioritas harga mati.

Tidak terlihat polisi, tentara atau pemertahan negeri lainnya seperti satuan polisi pamong praja dan sejenisnya layaknya dirumah kita. Sekali lagi, tak nampak pemertahan negeri.

Mereka mempertahankan negerinya dengan kesadaran diri

Kita dapat memperkirakan bahwa ada tidaknya sistem pertahanan bukan karena mereka takut dan merasa segan, tapi merasa perlu perlindungan, keamanan, dan mereka sadar akan hal itu.

Kamu akan menemukan tidak terdapat banyak tempat sampah di tempat umum, tapi keadaan tempat semua bersih, dan tertata sangat rapih. Mengapa bisa?

Dipojokan ruang pada gedung yang menjulang ditemukan tempat sampah yang indah, terbuat dari bahan yang mahal; kayu, alumunium, tembaga, atau besi yang dimodifikasi. Sampahnya dialasi garbage sebelum betul-betul menyentuh tempat sampah. Tempat sampahnya sangat bersih, sedikit kemungkinannya menimbulkan penyakit lingkungan. Sehingga pekerja tidak kehabisan energi dengan harus membersihkan 2 kali. Kemudian dengan begitu, mereka memiliki lebih banyak waktu luang untuk melakukan hal lainnya. rapih bukan?

Hal yang sederhana, mereka membiasakan tidak menyampah.

Agaknya, sangat menarik jika dirumah kita buat tempat sampah yang bagus, dari bahan-bahan yang lebih mahal, sebab kita punya itu semua. Wol, kapas, kayu, alumunium, tembaga, besi, apalagi? Sepertinya mutiara pun dapat kita jadikan tempat sampah. Agar indah, dan orang-orang akan merasa sadar dirinya berdosa ketika menyampah.

18.25 PM

Aku dan kamu berjalan sepanjang trotoar menuju hostel sekitaran Little India. Senjanya kali ini mendung, langit Singapura gerimis, tetap indah dihiasi rapihnya tata kota yang memiliki nilai estetika. Alvard, merci, bis tingkat, mobil-mobil box, mobil-mobil bagus berjejer rapih tepat didepan traffic light. Terlihat hanya satu-dua motor diantara mobil-mobil elit. Sama sekali tidak ada kebisingan. Tidak terdengar klakson saat lampu hijau menyala.

Sejatinya, negeri ini tak lebih kaya raya dari rumah kita, Indonesia, semacam lautan dengan beragam ikan, hutan rindang dengan berjuta-juta pepohonan, hektaran tanah, bahkan ladang yang mudah dimanfaatkan. Jarang sekali pabrik industri ditemukan, kamu melihat?

Pebisnis ulung yang menjadikan uang prioritas harga mati

Bagaimana tidak dapat disimpulkan mereka cerdas? Keterbatasan sumber daya alam, lingkungan hidup, dan juga sumber daya manusia, bagi mereka bukan alasan untuk tidak membangun gedung-gedung pencakar langit, gedung bawah tanah, transfortasi super kilat, teknologi super canggih, pelayanan ekonomi sangat sexy, pelayanan kesehatan level tinggi, serta pendidikan yang berkualitas. Mereka terbiasa berada diluar comport zone untuk membudayakan membuat tempat tinggal senyaman mungkin.

Agaknya, kita perlu membuka mata, membuka pikiran, bahwa hal yang kita punya di rumah lebih dari itu, tak terbatas. Sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang berkuantitas, hadiah lingkungan dan geografis yang strategis, kurang apa? Apa yang masih kita pikirkan agar segera bertindak meningkatkan kualitas?

Semestinya akan baik, jika kita menjadi rakyat yang produktif dan memproduktifkan negara. juga, menjalin kesinambungan antara semua pengelola dan pemilik negeri. Bagaimana?

Berangkat dari hal tersebut, saya menemukan pola, bahwa akar permasalahan yang perlu diberikan solusi adalah bagaimana memperbaiki mindset pemilik rumah. Karena bisa jadi efektifitas dari sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang berkuantitas, hadiah lingkungan dan geografis yang strategis akan kecil dan sia-sia jika mindsetnya saja harus diperbaiki. Seperti budaya disiplin, budaya menghargai waktu, budaya menghargai diri, toleransi, berdamai, budaya hidup sehat, budaya belajar, budaya sosial, budaya bekerja dan segala hal yang sespecies dengannya.

Besok hari kamu, mari kuajak jalan-jalan.

08.00 AM

Sepanjang perjalanan kamu menemukan orang-orang berjalan sangat cepat and automaticly kamu terhipnotis berjalan mengikuti nada langkahnya. Rasanya tertinggal jika kecepatan jalan yang biasa dilakukan di rumah, masih dilakukan di negeri ini. Mass Rapid Transit (MRT) yang merupakan sistem pengangkutan gerak cepat sebagai tulang punggung utama sistem kereta di Singapura serta Light Rail Transit (LRT) sama-sama sistem pengangkutan hanya saja lebih ringan dan lokal, keduanya betul-betul menjadikan waktu sebagai nyawa kehidupan. Kamu bisa sampai pada setiap stasiun hanya dengan kurun waktu 3-8 menit. Tidak ada istilah macet ketika kamu menggunakan sistem pengangkutan gerak cepat ini. Aku dan kamu akan terhindar dari istilah come late.

Setiap aspek lingkungan di negara ini dibuat semendukung mungkin terhadap proses kehidupan sumber daya manusianya. Keren bukan?

Baiklah, akan lebih tepat jika langsung kusampaikan maksud terbesarku dalam pemberian buah tangan dari negeri sebrang ini, adalah tentang sebuah kesadaran diri. Kesadaran diri timbul setelah pola pikir seseorang baik. Bapak filsuf, Descartes pernah berungkap Cogito ergo sum. Aku berpikir maka aku ada. Berangkat dari hal ini, tentang mindset, tentang bagaimana setiap orang bisa mengendalikan dirinya lewat pikiran yang ia punya, menjadi peran penting untuk perbaikan sebuah negara. change starts within ourselves, barangkali kalimat kuat ini jika menjamur disetiap mindset pemilik rumah, maka Indonesia bisa semakin kaya raya. Bagaimana tidak?

Contoh sederhananya, saya seorang mahasiswa kebidanan maka saya belajar dan berusaha terampil dalam bidang saya, saya memantaskan diri saya sebagi bidan professional dengan service yang berbeda dengan tujuan-tujuan sederhana yaitu merubah mindset bahwa sebuah persalinan adalah natural, dengan kenaturalan tersebut semua wanita dapat mengatur tingkat kesakitannya melahirkan dengan sendirinya lewat pola pikirnya sendiri. Mungkin iya menurut pemikiran konvensional, melahirkan merupakan hal yang mengerikan. Padahal, alamiahnya melahirkan merupakan sebuah anugerah luar biasa yang sengaja Tuhan berikan kepada seorang wanita untuk bisa mengontrol diri dan emosi, bahkan mengontrol kehidupan dan kualitas regenerasi dengan nyaman, tenang, cinta kasih. Sebab datangnya sebuah kelahiran diawali dengan cinta kasih. Melalui ketenangan, bahwa melahirkan adalah hal yang normal dan natural, maka melahirkan tidak akan terasa sakit, yang sakit jika halnya dilatarbelakangi indikasi seperti penyakit/penghambat ia melahirkan secara normal.

Mengapa kusampaikan tentang salin-bersalin? Apa hubungannya dengan perbaikan negeri?

Ini hanya contoh, yang terpenting adalah apapun tugas atau profesi yang diemban, dilakukan dengan sebaik-baiknya, minimalnya tidak merugikan orang lain dan lingkungan. Pejabat berlaku sebagi pejabat yang baik, sesuai dengan amanatnya tapi bukan berarti mesti disuguhi hal-hal yang segalanya mesti dihormati. Begitupun pemulung sampah, berlaku sebagai pemulung sampah yang baik, sesuai dengan amanatnya tapi bukan berarti mesti tidak dihargai dan dilecehkan dengan harga rendah. Pun hal ini berlaku pada siapapun. Bagaimana dengan pemangku kebijakan? Memang bukan hal yang mudah mengatur kepala orang dengan isi yang unik dan beragam, tapi dengan sistem do the best your own, agaknya akan baik dalam memulai perbaikan ini. Semua orang bekerja dengan baik sesuai bidangnya, dengan penghargaan yang tinggi, dilihat bukan dari apa yang dikerjaan, tapi dari bagaimana ia mengerjakan pekerjaan tersebut.

Setiap manusia memulai kehidupan dunia sejak ia melewati sebuah proses bernama kelahiran. Sejatinya orang-orang tidak bisa merayu Tuhan untuk bisa hidup melalui rahim yang mana. Tapi kualitas kehidupan dapat dipola, diolah, sebaik mungkin.

Hal ini berawal dari pendidikan pertama yang diberikan orang tua sejak janin dalam rahim.

Diawali ketika beranjak tidur.

23.40 PM

Malam-malam begini, Kami di negeri ini kelaparan karena jarang ditemukan nasi dan makanan berat.

Dapatkah dirumah kita membuat sistem kuratif? Sebuah pencegahan hal-hal yang terlihat sepele yang bisa berakibat fatal. Seperti membiasakan tidak makan makanan berat sebelum tidur. Di negara ini, bukan karena mereka tidak memiliki bahan pangan yang melimpah seperti di rumah kita, tapi lebih karena makan makanan tepat pada waktu yang tepat akan mempengaruhi kesehatan. Nasi/makanan berkarbohidrat tinggi terbilang jarang sekali ditemukan. Iya memang lebih disebabkan karena sumber daya alam di negeri ini tidak sekaya di rumah kita, namun menurutku ini bukan perkara soal itu. sementara yang kamu lihat ketika hari mulai petang, jarang sekali terlihat orang-orang berkeliaran di tempat-tempat umum dinegeri ini, bukan? Mereka beristirahat setelah sepanjang hari bekerja keras. Mulai pukul 21.00 PM, pada hari kerja pusat kota lebih tenang dan tidak begitu ramai. Bisa jadi mereka mengkoverisasi diri dengan beristirahat lebih berkualitas atau melakukan persiapan-persiapan esok hari. Bisa kita pelajari apa dan bagaimana akibatnya orang yang makan makanan berkarbohidrat tinggi sebelum ia hendak tidur. Tapi bukan hal ini yang ingin kutekankan.

Pada rumah kita sumber pangan yang melimpah tidak hanya beras atau bahan yang mengandung karbohidrat bukan? Tapi banyak sekali. Bahkan kita bisa lebih sehat dari warga negeri seberang. Bermula pada bagaimana pola kita makan serta pola pikir cara memakan makanan tersebut.

Kemudian, menjauhkan segala aktivitas satu jam sebelum tidur untuk mempersiapkan tidur yang berkualitas bisa dibuat sistemnya dirumah kita. Supaya menekan tingkat distress kita hingga membentuk karakter yang bagus dalam bawah sadar, yang disebabkan oleh regenerasi sel dan metabolisme dalam tubuh ketika beristirahat. Disimpulkan ketika melihat setiap malam di negeri ini sangat hening sepagi mungkin.

Saat pagi hari, apa yang mereka makan? Bukan melulu Nasi.

Lagi-lagi berbicara soal pangan.

Sepertinya akan lebih baik jika dibuatkan sistem hasil dari sumber pangan kita tidak dijual, tapi diprioritaskan untuk dibagikan dan dimakan oleh kita sendiri, tanpa mesti membayarnya. Mengapa membuat orang lain terpenuhi kebutuhan dan pintar tapi perut kita sendiri tidak kita isi? Ini tentang mindset. Mengingat tingkat kurang gizi pada penduduk Indonesia masih 15 % yang tertera pada Permenkes No. 65 tahun 2013 tentang pedoman pemberdayaan kesehatan masyarakat tentang MDG’s 2015. Masih banyak orang kelaparan sedang sumber pangan begitu melimpah di Indonesia ini. Dapat dibayangkan jika kita memenuhi kesehatan kita sendiri dari hasil yang kita usahakan atau bahkan dari hadiah sumber daya alam yang diber Tuhan lewat alam Indonesia. Begitu kaya raya.

Hal sederhana, soal makanan yang bervariatif sejak bangun hingga bangun lagi, melalui pemanfaatan sumber daya alam yang kita miliki. Kita akan nyaman di rumah kita sendiri.

Mulai dari sanalah gizi terpenuhi, kesehatan biologis akan terpenuhi pula. Maka dengan menyehatkan biologis, pun tidak perlu memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan makanan bukan? Kita dapat teralihfokuskan oleh apa yang akan kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan lain. Ah, andaikan sistem tersebut berlaku, bisa jadi tak akan ditemukan orang kelaparan di rumah yang begitu kaya raya ini.

Pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah dengan baik, akan mengetaskan masalah kesehatan tadi, dengan begitu kesehatan biologis akan mempengaruhi kesehatan lainnya seperti psikologis, termasuk bahagia atau tidaknya karena tak perlu memikirkan ekonomi yang belum terpenuhi. Dengan begitu aku, kamu dan pemilik rumah kita bisa lebih fokus pada pendidikan yang harus dicapai.

Permasalahan gizi yang terjadi pada sumber daya manusia bisa ditekan, dengan begitu, wanita yang dititipkan meningkatkan kualitas regenerasi peradaban akan selamat lewat usaha perawatan pola hidup sehat. Dengan begitu angka kematian ibu dan anak yang disebabkan dari dirinya sendiri tidak mungkin terjadi. jika sehat, maka otak akan lebih mudah untuk mencerna dan membentuk sebuah karakter dari sistem pendidikan. Memulai dengan diberlakukan sistem pola hidup sehat, pendidikan akan menyeimbangi. Bagaimana tidak? Segala yang kita serap dari sari-sari makan menjadi sebuah energi bagi tubuh sendiri. Terlebih pembentukan karakter banyak dipengaruhi lingkungan, setidaknya orang-orang bisa sehat jasmani terlebih dahulu supaya dapat berpiikir jernih dan mengolah emosi diri.

23 July, 2016

Aku mengajakmu berdiskusi pada salah satu pergerakan implementasi  sistem pendidikan negeri ini, disebuah universitas.

Sistem pendidikannya memang lebih maju dari sistem pendidikan di rumah kita. Teknologi canggih yang mendukungnya mencapai kualitas tinggi. Tapi bisa jadi pendidikan berkarakter sedikit didapat karena cenderung individualis. Tapi tidak mesti begitu. Semua relatif.

Namun akan lebih baik jika antara guru atau pemberi materi, esensi materi, dan penerima materi bersinergi dengan baik. Agaknya pola pikir bahwa guru depan kelas harus begitu dihormati melalui adanya “jarak” dengan murid menimbulkan suatu beban? Mengapa pendidikan selalu digambarkan dengan sebuah sesi pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas dengan metode penyampaian antara guru dan murid berjarak seakan-akan berbatas? Tidakkah akan lebih mudah diserap jika antara guru dan murid terjalin relasi yang hangat dan penuh kasih sayang?

Guru dan murid semacam sebuah pertemanan. Teori sesulit apapun agaknya akan mudah diterima. Seperti sesekali belajar pagi hari ditaman, diatas rerumputan atau dibawah pepohonan, dibuat ringan dan bahagia, materi sesulit apapun akan terasa menyenangkan. Di negeri sebrang, metode ini digunakan telah lama. Tak seperti kita, yang melulu harus belajar dibalik meja dan papan tulis yang membosankan. Kurang menerima oksigen, bahkan bukan karena kurangnya suplai oksigen dari pepohonan, akan tetapi karena situasi kelas yang memanas disebabkan kondisi dan metode pembelajaran yang membosankan dan menimbulkan kemarahan.

Dapat dikoreksi, lagi-lagi hal ini berkaitan dengan mindset. Satu kelas dengan satu guru yang berisi berpuluh-puluh murid, bisa diprosentasikan esensi materi yang dapat diterima otak berapa? Mungkin efektif, mungkin juga tidak. Namun sepertinya bukan tentang ini yang ditekankan, tapi dapatkah kita mengingat berapa banyak guru yang pengangguran? Mengapa tidak dimanfaatkan sumber daya manusia ini? Akan baik jika mereka dilatih lalu murid-murid dipecah kuantitasnya supaya lebih terfokus. Semua pihak akan terpenuhi. Tidak ada pengangguran, tidak ada istilah anak tak berpendidikan.

Kesimpulannya adalah sinergisitas kesehatan dan pendidikan merupakan akar dari keberangkatan perbaikan negeri untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita, sebagai pemuda. Pendidikan pertama adalah orang tua, jauh sejak sebelum dalam rahim. Persiapannya adalah dengan pemenuhan kebutuhan, dan kebutuhannya adalah biologis dan psikologis. Biologis dan psikologis merupakan masalah kesehatan. masalah kesehatan mesti bersinergis dengan pendidikan dan sinergisitasnya berangkat dari perbaikan mindset. Sepertinya memang membutuhkan waktu lama untuk mengubahnya, tapi dengan semua orang do the best your own, akan singkat dan berhasil karena komprehensif.

Sebilah kayu untuk rumahku, home is where my heart there is; Indonesia, tempat kelahiran dan bertumbuh kembang.

 Dalam sebuah Dream book yang sedang di rilis Indonesian youth Dream Foundation

  • view 262