AKRAB DI ATAS KEDUSTAAN

Irfan Kurniawan
Karya Irfan Kurniawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Oktober 2016
AKRAB DI ATAS KEDUSTAAN

Membuat orang lain bisa senang dan tertawa adalah kebahagiaan tersendiri bagi kita. Maklum, kita ingin akrab, ingin dekat. Setiap kata yang kita ucapkan memiliki harapan agar orang lain bisa senyum dan tertawa walaupun tingkat humor yang kita tawarkan tidak berkualitas.

Canda dalam perkataan ibarat garam dalam makanan. Bila takarannya pas, maka ia dapat menciptakaan keakraban dan kedekatan. Namun bila terlalu banyak, maka ia bisa menjatuhkan harga diri dan kehormatan. Begitu pun sebaliknya, bila tidak ada canda, kehidupan ini akan terasa kering kerontang laksana di padang pasir yang tandus.

Tapi, pernahkan kita berpikir dan merenung atas candaan yang kita lontarkan. Penuh dusta!. Ya, dusta. Barangkali kita tidak terlalu memikirkan hal itu. Apalagi mengambil langkah untuk muhasabah diri. Rasulullah sering bercanda, tetapi beliau tetap menjaga kejujuran saat bercanda. Menjaga kejujuran dalam perkataan dan perbuatan merupakan tindakan mulia. Para malaikat pencatat amal akan senantiasa mencatat setiap tindak tanduk kita setiap saat dan setiap tempat. Baik hitam maupun putih. Yang tersembunyi maupun terang-terangan. Yang dzahir maupun yang batin. Hingga titik komanya.

Kenapa perlu benar dan jujur dalam setiap perkataan? Bukan karna ingin mendaptkan gelar “as-shidiq” sebagaimana Abu Bakar. Bukan pula ingin dipandang sebagai manusia terpuji. Tapi semata-mata melaksanan Titah dari Tuhan semesta alam. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia menang dengan kemenangan yang agung”. [QS. Al-Ahzab 33: 70-71]

Bergegaslah! Jalan perbaikan senantiasa terbuka lebar. Janji ampunan masih Allah berikan bagi hamba yang beristighfar dan bertobat. Kita mesti belajar canda yang benar meskipun ke-kakuan mengiringi setiap parkataan dan ekspresi muka kita. Keakraban hari ini, harus senantiasa terjalin dalam nuansa kejujuran.

Jika ungkapan bijak mengatakan: “Jujurlah, meskipun menyakitkan”. Tapi katakan: “Jujurlah, meskipun polos, meskipun lugu, meskipun garing yang penting jujur meng-alur”.

#BumiAllah (Lombok), 28 September 2016 ~ Irfan Kurniawan

  • view 165