ANAK & BERMAIN PERAN

Irfan Kurniawan
Karya Irfan Kurniawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Juni 2016
ANAK & BERMAIN PERAN

TIAP sore setelah sholat Ashar, TPA Al Hunafa selalu ramai oleh anak-anak dan para orang tua yang mengantar anaknya untuk mengaji. Mulai dari anak pejabat, pengusaha, sampai anak yang orang tuanya bekerja sebagai Wiraswasta dan ibu rumah tangga. Rata-rata mereka masih duduk di jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). TPA ini berada persis di Masjid ‘Aisyah RA (Islamic Center Al Hunafa) yang berlokasi di Jln. Soromandi No. 01 Lawata Mataram.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid ‘Aisyah juga sebagai tempat kajian Islam (kajian ilmiah), belajar Bahasa Arab, belajar Tahsin, Tahfizd Qur’an, dan termasuk TPA Al Hunafa. Masjid ini dikelola sebagaimana fungsi masjid yang sesungguhnya yaitu sebagai pusat untuk mewujudkan peradaban Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Tidak seperti masjid-masjid dewasa ini yang hanya dijadikan sebagai tempat ritual ibadah semata.

Kembali ke masalah TPA, bahwa di tempat tersebut anak-anak tidak hanya diajarkan membaca Iqra’ dan Al Qur’an, tetapi juga diajarkan Tauhid, Hadist, Adab, Praktek sholat, praktek wudhu, menghafal, dan doa-doa keseharian. Waktu belajar mereka pukul 16-30 sampai 17-40 (70 menit), dari hari Senen sampai Jum’at. Sabtu-Ahad libur. Untuk menjaga efektifitas dan efisiensi belajar, maka mereka dibuatkan beberapa halaqoh (perkumpulan atau kelompok). Tiap halaqoh berisi 10-14 anak. Dan Tiap halaqoh dikelola oleh seorang ustadz atau ustadzah.

Barangkali kita bertanya, apakah anak-anak akan mampu menyerap semua mata pelajaran (Tauhid, Hadist, Adab, dll) dalam rentang waktu 70 menit setiap harinya??? Jawabannya tergantung kepada Pengajar. Tergantung metode (cara) yang mereka gunakan. Di dunia ini tidak ada yang “tidak mungkin”. Sebagaimana mungkinnya Nabi Muhammad melahirkan generasi Rabbani yang selalu menjadi pelipurlara dalam mozaik sejarah umat manusia. Sebagaimana mungkinnya Luqmanul Hakim mengajarkan anaknya Tentang Tuhan, tentang akhlak, tentang bagaimana menjadi Hamba yang baik. Sebagaimana mungkinnya Abu musa (Ayah Musa Hafizd Indonesia) mengajarkan Musa sehingga bisa menghafal 30 Juz Al Qur’an, Arba’in An Nawawi, Umdatul Ahkam. Apa yang tidak mungkin? Barangkali “mental” kita yang mengkerdilkan cita-cita luhur tersebut. Wallahu’alam

Mengajar anak-anak tidak sama mengajar orang dewasa. Ranah pengalaman dan nalar berpikir mereka pun berbeda. Anak-anak cenderung “suka” bermain, berimajenasi liar (abstrak), dan suka bertanya sesuai dengan apa yang diimajenasikan. Sekalipun pertanyaan-pertanyaannya tidak masuk akal. Sedangkan orang dewasa mulai berpikir tentang masa depannya, tentang jati dirinya.

Dari sinilah muncul metode (cara) mengajar. Kita mulai berpikir bagaimana cara mengajarkan mereka. Tentu metode (cara) yang baik diterapkan ke anak-anak adalah “belajar sambil bermain”, “bermain sambil berperan”.

Dibeberapa kali kesempatan, saya menerapkan metode tersebut. Waktu itu ada salah seorang santri yang membawa makanan berupa kacang-kacangan. Setelah itu saya suruh buka dan bertanya;

“Makanannya mau dibagikan?”

Anak itu menjawab mau dan dia langsung keliling untuk membagikan satu persatu ke teman-temannya. Alhamdulillah sampai hari ini, sikap “berbagi” tumbuh di antara mereka. Setiap yang membawa makanan, dengan sendirinya mereka berbagi.
Di waktu yang lain, saya mengajarkan tauhid dengan sesuatu yang ada disekitar mereka. Saya perintahkan untuk memegang panca indera mereka masing-masing (tangan, telinga, mata, hidung, dll), kemudian saya bertanya,

“Siapa yang menciptakan tangan, yang menciptakan telinga, mata, dan seterusnya?”

Spontan mereka menjawab Allah. Kemudian saya perintahkan untuk memandang langit, dan bertanya;

“Siapa yang menciptakan langit?”

Mereka menjawab Allah. Dan waktu itu, seketika hujan turun. Saya memanfaatkan moment tersebut untuk mengajarkan tauhid. Saya bertanya,

“Nahh…sekarang lagi turun hujan, ada yang masih ingat doa turun hujan?”

Mereka menjawab masihhh….dan berdoa Allhumma shoyyiban naafi’an. Saya bertanya lagi,

“Siapa yang menurunkan hujan?” Mereka menjawab Allah.

Hal-hal seperti itu yang sering melekat pada ingatan mereka. Lingkungan sekitar mereka bisa dijadikan sebagai media dan inspirasi pembelajaran. Apalagi melibatkan (peran) mereka dalam setiap pembelajaran. Contoh misalnya, praktek sholat. Di situ ada yang berperan sebagai imam dan ada yang berperan sebagai makmum. Bagaimana seharusnya menjadi imam dan bagaimana seharusnya menjadi makmum.

Di belahan dunia mana pun anak-anak senang bermain peran. Belakangan para ahli menemukan betapa pentingnya main peran dalam kehidupan anak. “Main peran adalah kekuatan yang menjadi dasar perkembangan daya cipta, tahapan ingatan, kerjasama kelompok, penyerapan konsep kata, konsep hubungan kekeluargaan, pengendalian diri, afeksi, dan kognisi, “(Gowen, 1995). Anak yang tidak main peran, menurut Sara Smilansky, sering terlihat tidak ada rangkaian dalam kegiatan dan percakapan. Mereka terlihat kaku, monoton, dan mengulang-ngulang perilaku.

Di dalam sebuah Hadist shahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa ‘Aisyah RA pun pernah bermain boneka bersama teman-temannya. Menurut Imam Nawawi dalam syarah Shahih Muslim, Hadist tersebut mengandung manfaat untuk mengajarkan dan melatih mereka tentang peran yang berkaitan seputar kehidupan mereka, rumah tangga, dan anak-anak.
Melalui main peran anak belajar peran-peran yang ada di muka bumi. Kelak ia akan memilih peran yang paling tepat dan ia pun akan memahami perang oramng lain. Ia akan empati terhadap berbagai profesi baik tukang parkir, petani, pedagang, ulama, dokter, guru, bahkan pembantu sekali pun.

Namun, yang tidak kalah pentingnya dari semua itu adalah niat karena Allah ‘Azza wa jalla dan mendidik dengan “keteladanan”. Harus ada guru yang menjadi teladan bagi murid-muridnya. Sebagaimana perkataan Muhammad Ibn Sahnun dalam karyanya “Kitabu al-Adab Mu’allimun bahwa “seorang guru dalam Islam tidak cukup hanya memilki kualifikasi akademik, tetapi juga harus berkarakter; berperilaku saleh, serta bertanggung jawab terhadap anak didiknya dunia dan akhirat.

Akhirnya, hanya kepada Allah lah tempat kita meminta hidayah. Tempat pengharapan atas semua permintaan kita. Mari infaqkan jiwa dan raga ini untuk mengabdi dan menginspirasi.

Bumi Allah, di Pulau Seribu Masjid (Lombok)
15 April 2016, ?

  • view 148