SAAT MUSAFIR KEHILANGAN ARAH

Irfan Kurniawan
Karya Irfan Kurniawan Kategori Motivasi
dipublikasikan 10 Juni 2016
SAAT MUSAFIR KEHILANGAN ARAH

 Bismillahirrahmanirahim…

Kau datang waktu gelap menyeluruh…

Saat musafir kehilangan arah…

Inilah gambaran kita hari ini. Kehilangan arah dalam nahkoda dakwah. Kabut gelap telah menyelimuti kita sehingga jarak pandang akan masa depan dakwah ini tidak bisa kita lihat dengan jelas. Kita berjalan pelan, namun tidak pasti. Terminal-terminal kecil sebagai tujuan, belum kita tahu pasti ke mana arahnya. Kita masih meraba-raba dengan peta visi yang telah kita dibuat. Peta visi yang dibuat seadanya tanpa penghayatan mendalam sehingga tidak menimbulkan kecintaan terhadapnya. 

Orang bijak mengatakan bahwa “suksesnya seseorang dalam percaturan kehidupan ketika visi hidupnya jelas. Dia tahu langkah-langkah untuk meraih sukses tersebut”. Boleh jadi kita kehilangan arah karena peta visi yang kita buat belum jelas. Akibatnya, kita belum mampu memetakan langkah-langkah untuk sampai pada terminal tujuan.

Memiliki peta sebagai petunjuk sangatlah penting. Ibarat Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa agar selamat sampai tujuan (Surga). Tapi tatkala Al-Qur’an tidak dibaca dan tidak dihayati sebagai petujuk, maka Al-Qur’an hanyalah benda pajangan yang dipenuhi debu-debu rumah. Begitu juga dengan peta visi yang telah kita buat. Akan bernilai ketika kita membuka kembali, kemudian kita baca (menganalisa), dan selanjutnya kita aplikasikan (pengamalan) sebagai strategi. Tapi, ketika kita tidak membukanya kembali, maka peta visi tersebut sama saja kondisinya dengan Al-Qur’an di atas.

Begitu banyak umat Islam yang tersesat dari agamanya karena tidak membaca petunjuk (Al-Qur’an). Begitu banyak umat Islam yang berhujjah tapi tidak sesuai dengan petunjuk (Al-Qur’an). Jangan sampai kondisi kita seperti itu. Kita berdalih, tapi tidak sesuai dengan konstitusi yang telah ada. Kita berbuat, tapi tidak sesuai dengan peta visi yang telah dibuat.

Oleh karena itu, satu hal yang perlu kita lakukan yaitu memperbaiki peta visi. Kita buka kembali kran pemikiran kita sehingga bisa mengalir memenuhi cita-cita luhur kita. Kita alirkan pikiran kita ke sesama agar menjadi kebaikan bersama.

Peta visi akan kelihatan indah, manakal kita bingkai dia dengan iman kita. Karena imanlah yang memberikan kita enegri sehingga sampai pada terminal tujuan kita (niat). Imanlah yang menggerakan hati sehingga kita peka terhadap kondisi sekitar. Peka akan kondisi umat, dan peka akan syariat Allah.

  • view 96