BERJUANG UNTUK SIAPA?

Irfan Asyhari
Karya Irfan Asyhari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Juli 2017
BERJUANG UNTUK SIAPA?

BERJUANG UNTUK SIAPA?

Oleh : Irfan Asyhari

Hidup berawal dari masa kecil, semenjak usia belia kita dirawat, dipupuk dan dibesarkan oleh orang tua dan lingkungan keluarga, supaya kedekatan kita senantiasa erat, dan hubungan antar keluarga benar-benar tertanam dalam diri kita.

Hal tersebut merupakan salah satu cara orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan cara hati ke hati, supaya kelak si anak tumbuh dewasa memiliki rasa 'paseduluran', kalau istilah Jawa mengatakan : 'cetho marang dulur lan njawani' (perhatian terhadap keluarga dan mengerti), ngerti jalur dan nasabnya keluarga, baik dari jalur ibu maupun dari jalur bapak, karena terkadang ada anak yang tidak mengetahui pakdhenya, budhenya, ataupun bibik dan pamannya, padahal orang-orang tersebut mestinya sangat dekat hubungannya dengan bapak dan ibu kita, namun entah karena bapak atau ibunya yang tidak menunjukkan bahwa orang-orang tersebut keluarganya, ataupun si anak tersebut enggan untuk menelusuri jejak kekeluargaannya.

Inilah yang terjadi hari ini, makanya tidak jarang ditemui ketika acara halal bihalal keluarga, ataupun saat lebaran tiba hanya sekedar tatap muka, namun namanya saja tidak cukup mengerti, apalagi mengetahui jalur kekeluargaannya.

Sungguh sangat ironis, bukankah syari'at Islam sudah menggariskan bahwa orang yang rajin dan mau menelusuri jalur kekeluargaan atau sering disebut silaturahmi ini akan menambah panjang umur seorang manusia. Nah, disinilah sangat diperlukan yang namanya 'bermuhasabah' atau koreksi diri, supaya kita dalam berjuang dimana saja, kapan saja, untuk siapa saja tidak lupa akan keluarga, akan lingkungan masyarakat yang dulunya kita ditimang dan dibesarkan di tanah kelahiran tersebut.

Hanya sedikit orang yang bisa memahami arti dari pentingnya perjuangan dan berjuang, baik berjuang dalam daerahnya sendiri, ataupun berjuang di luar daerah. Barangkali merantau ataupun mengembangkan wawasan dan menambah ilmu pengetahuan. Dalam hal ini model perantauan ada dua macam, yakni merantau karena melihat kondisi masyarakat hanya begitu saja dan ia merantau guna mencari ilmu dan wawasan untuk dikembangkan di masyarakatnya supaya menjadi masyarakat yang sejahtera, ada juga yang merantau karena enggan hidup di lingkungan masyarakat yang hanya begitu-begitu saja.

Melihat dan mempertimbangkan hal yang demikian, sudah saatnya kita berfikir, apakah perjuangan kita selama ini hanya untuk diri kita dan kebahagiaan kita sendiri saja? Ataukah perjuangan kita selama ini akan kita hadiahkan sebagai kado untuk keluarga tercinta?

Jawabannya berada ditangan kita sendiri.

  • view 47