Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 6 Desember 2016   20:15 WIB
Tugas Kakak bukan Hanya Tanya "Uangmu Habis?" Tapi beginilah Tugasnya

Tidak semua orang terlahir memiliki kakak, dan tidak semua orang  terlahir memiliki adik. Semua adalah ketentuan Allah. Dan kita tak akan pernah tahu masa depan seperti apa dan bagaimana cara Allah mengatur pekerjaan hambaNya. Bisa jadi seorang koki yang sukanya menyicipi arak lalu sekarang pekerjaannya menjadi pekerja tahajud sampingannya jualan es kacang hijau atau sebaliknya, kita tak akan pernah tahu.

Aku kuliah dimana, lulus tahun berapa, skripsi kelar nya bagaimana, ada hambatan skripsi apa, kamu diterima kuliah dimana , lalu kamu kemudian ditempatkan Allah di luar jawa. Itu semua takdir dan tulisan. Kita bisa apa? Usaha, oh ya usahaku masih sangat minim, apa lagi berdoa sering sekali Cuma baca sesuatu yang dikasih bapak, habis itu langsung klomat klamit selesai saking padetnya jadwal jadi farmasi.

Aku ditakdirkan memiliki kakak, kakak perempuan. Apa itu pilihanku? Tidak, karena ini tulisan Allahku, Ia yang menuliskan. Barangkali sebelum Allah menciptakanku Allah tahu kelemahan ku sehingga mbakku lah yang menjadi penopang kelemahanku, pelengkap dari kelemahanku,

Aku ditakdirkan memiliki kakak perempuan pekerjaaan nya adalah dokter, apa itu pilihanku? Tidak, itu juga adalah takdir Allah, barangkali Allah memberikan takdir mbak ku dokter dan aku apoteker karena Allah ingin kami berdua bekerja sama, Allah ingin kami tidak berebut  pasien lalu terjadi perang saudara. Indah ya tulisan Allah.

Barangkali, nanti si mbak dan ibu bisa membuat klinik medis dan non medis ada apoteknya aku yang bertanggung jawab tidak usah membayar mahal2 gaji apoteker, agak tinggi mimpinya tapi mau bagaimana lagi? Bisa jadi nanti ada yang menarik saya jadi apoteker penganggung jawab apotek seseorang, saya pasang tarif mahal, apa lagi sekarang susah cari apoteker. Iya, teman ku ada yang mencari lulusan apoteker untuk pekerjaan yang ada didekat dirinya, tapi apa yang ia katakan “perasaan lulusan apoteker ya banyak tapi masih aja susah nyarinya” kalau seperti ini saya bisa dong pasang tarif besar kalau sudah tidak ada lagi apoteker yang mau menjadi penanggung jawab apotekmu. Tapi tidak, saya juga berkaca dengan diri saya, saya mengabdi untuk pasien bukan? Lalu untuk apa saya pasang tarif mahal, yang penting cukup untuk membeli rumah diperumahan, cukup membeli mobil pribadi #eh

Saya sering di samakan dengan  mbak , ya biasalah seperti ini “kok beda ya adiknya mbaknya. Adiknya fashion banget” “lebih pinteran mbaknya dari pada adiknya” terluka? Pasti, tapi kemudian saya mengobati sendiri, oh ya kan saya memang berbeda, ah nanti aku jadi MUA saja, aku jadi fashion blogger saja, bla bla tapi ternyata saya belum bisa mengatur waktu ikut class modelling, dan si bapak juga belum setuju jika anaknya ikut dunia seperti itu. Saya menuruti takdir sya, saya sudah tidak “mangkel” dengan perkataan tetangga2, teman2 bapak, yang tidak tahu apoteker. Oh beda lagi kalau sudah tahu kelas apoteker pasti akan bilang “apoteker? Itu kuliah kelas tinggi lho bla bla bla” jadi seneng kalau ngobrol sama yang tahu apoteker. Saya sudah memaafkan yang melukai hati saya,

Lalu, terjadilah ombak besar saat panitia PMB berkata “kemungkinan tahun depan 2 tahun  pendidikan profesi apoteker” disaat itulah omongan2 tetangga yang membuat saya terluka kembali melukai lagi. Ada hati yang bilang “aduh kalau 2 tahun, berati aku sama dengan mbakku 6 tahun mau apa? Pasti mereka yang mengejek aku bilang mbak nya dokter 6 tahun, adiknya apoteker 6 tahun.sama2 6 tahun tapi gaji dan kehormatannya lebih tinggi mbaknya” terjadilah perang setiap hari sehabis sholat nampaknya itu memang bisikan syaitonah.

Kemudian, malam ini si mbak menyadarkanku “kamu ini keadaannya masih mangkel” lalu saya tanya “mangkel kenapa?” beliau jawab “mangkel sama omongan2 tetangga”

“dek, tidak usah dengarkan orang lain. Mereka omong apa, kamu tidak usah mendengarkan yang penting kamu membuktikan hilangkan kemangkelan itu bisa jadi itu penyebab Allah tidak meridhoi setiap langkah”

Sekarang, aku lebih tahu lagi, ia bukan hanya bertanya “uang kurang enggak?” tapi ia diiciptakan Allah untukku agar aku selalu legowo, menjadi insan yang tidak mangkelan, dan tetap memaafkan seseorang yang telah menyakiti.

Mbak, semoga yang membaca ini bisa terbuka hatinya. Semoga kakak kakak diluar sana meniru sifatmu.

Dia jauh dari sempurna, dia kakak yang begitu sempurna

 

Karya : Mafida Khoiriyah