“Seharusnya kau merasakan betapa merananya Anak Rantau”

Mafida Khoiriyah
Karya Mafida Khoiriyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 November 2016
“Seharusnya kau merasakan betapa merananya Anak Rantau”

Yuk. Cung, yang anak rantau? Ada berapa yang membaca page ini??  Pasti nanti ada yang private chat ke aku, atau ketemu aku dikampus bilang “aku kemarin baca tulisan mu, aku bilang dihatiku. Bener.. bener banget” Alah ke pDan ya yang nulis. Well.. thank you bagi yang sudah membaca kemudian ada yang bilang “ira galauan” atau sekedar mengatakan “bagus tapi kurang bla bla” thank you banyak ya..

Ayo kita ulas betapa galaunya menjadi anak rantau.

Selain dari sisi keuangan bagi anak rantau yang tidak bisa langsung dikasih sama orang rumah. Missal nih, jam 11 malam baru sms orang rumah “uangku tinggal xxxxxx ribu” banyak amat x nya .kan missal, suka suka yang nulis dong *wkwkw #maksa ya

Kita harus nunggu kirimannya  barangkali iya kalau atm si bapak ibu keisi kalau kosong baru dapat rizqi terus ditarik, atm nya kan kosong harus nunggu ke BANK. Datang  ke BANKnya hari sabtu, minggu libur harus nunggu senin. Berbeda dengan dirimu yang serumah dengan orang tua, uang habis tinggal minta dan langsung dikasih. Ya paling dimarahin dulu kenapa boros, ya sama kok. Aku kalau boros juga di omelin.

Nah, disisi lain. Dirimu yang sudah berada di dalam rumah tidak jauh dari orang tua setidaknya merasakan betapa menggalaunya merindukan pelukan ibu *huhu.. terus aku di labrak, kalau kangen mah video call. Setidaknya kalian bedakan lah bertemu dengan video call enggak se aselole bertemu langsung.

Kadang aku sampai nangis kejer *ahahah emang dasar aku nangisan. Tapi. Sebelum aku nangis kejer aku telpon ibu ke duaku. Yap mbakku. Kamu pikir aku telpon dia dalam keadaan nangis dia bakal nenangin. Enggak, dia bakal bilang seperti ini

Ira           : *nangis*

Mbak nana : kenapa kok nangis?

Ira : *maasih nangis*

Mbak nana : ditanya kenapa dijawab karena, bukannya nangis terus

Ira : kangen ibook

Mbak nana : huahahaha, nangisan. Kamu itu sudah semester berapa?

Ira : semester 5 (boong, padahal udah semester tua)

Mbak nana : semester lima kok sudah skripsi. Inget usia. Usia mu sudah 21 tahun lho dik. Kamu baru ngga pulang berapa bulan sih (ternyata mbakku enggak bisa di boongin)

Ira : dua bulan lebih *sesenggukan nangis*

Mbak nana : mbak lho dulu baru pulang 6 bulan sekali

Ira : la salahe mbak di jogja kuliahnya 8 jam dari rumah. Aku 5 jam dari rumah *ngeyel*

Mbak nana : sana telpon ibok, malah nangis.

Ira : la aku nelpon mbak biar tenang enggak nangis kok, nek aku nelpon ibuk langsung ntar ibok khawatir *padahal pas nelpon ibok malah nangis lagi hahaha

Setidaknya kau rasakanlah betapa hati ini ingin memeluk ibuk. Tapi kenapa engkau yang disana bilang ini lebay. Lihat tu si x enggak pulang. Kau tidak pernah tahu rasanya hangatnya keluarga, berarti kau di rumah hanya mampir tidur aja tanpa ada interakasi *ngeyel pokonya aku yang menang #hahaha

Barangkali, kau harus merasakan bertahun tahun berpisah dengan orang tua mu. Dan kau akan mengatakan “ah ini yang dulu dirasakannya” iya memang benar kalau enggak melakukan enggak greget.

 

Salam anak rantau, semoga semakin cling cling ya

  • view 298