karena kita tercipta begitu sempurna

Mafida Khoiriyah
Karya Mafida Khoiriyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 November 2016
karena kita tercipta begitu sempurna

Beberapa waktu lalu saat di laboratorium seorang sahabat datang. Ia juga sedang sibuk dengan penelitiannnya. Wajahnya manis tapi hari ini ia merenung.

“ada apa?” tanyaku

“tadi waktu aku berjalan kesini, ketemu sama mbak-mbak”

“hemmm terus?” tanyaku kembali

“dia nanyaian, aku skripsi apa. aku jawab, aku isolat mbak. Dan mbak itu bilang, masak kamu bisa isolat. Dulu aku juga disuruh isolate dan nggak nemuin pereaksi geser. Kayaknya kamu enggak bisa deh nemuin pereaksi geser, coba jal mbak nya bilang gitu. Aku direndahin”

Mak Degg.. rasanya pengen nguntel-nguntel mbaknya,

“enggak apa apa, kan kemampuan mbak nya enggak sama kemampuan kamu. Siapa tahu kamu bisa menemukan pereaksi gesernya. Lanjut aja, kemampuan orang berbeda. Kamu enggak usah dengerin orang yang rendahin. Enggak akan kelar-kelar”

Perlu kalian tahu, bukan saja dokter atau tenaga medis lain yang banting keringat. Apoteker pun sama. Mengejar s.farm pun susah. Belum ke profesi Apa kalian tidak berfikir betapa susahnya kami? Kenapa kalian selalu bilang kami itu rendah? Coba renungkan..

Seandainya kalian berada di posisi kami, ngelab pagi-pagi pulang sore hari makan didepan lab. Malamnya kami capek harus nyari jurnal enggak nemu nemu. Jika terjadi kesalahan penanaman bakteri atau apapun itu akan berefek dengan kita. Kita biasa tumbuh jerawat karena kita numbuhin bakteri staphylococcus, kita diare karena e.coli, dan lain sebagainya. Belum nanti hidung kita terkena aroma etanol? Belum lagi kalau kita terkena api bebas? Kenapa kalian selalu bilang, ah kamu enggak kayak dia, ah gaji kamu nanti kecil enggak kayak mbakmu, ah ini ah itu. kenapa kalian tega sekali? Mengapa kalian tidak mencoba menyamangati kami? Ayo kamu pati bisa, misalnya. Atau, ayo semangat jangan mau kalah.

Barangkali mungkin aku bukan wanita sempurna, aku masih banyak tidak sabarannya. Banyak marahnya, banyak ngomelnya, banyak putus asanya karena ekstraknya jadinya sedikit. Tapi, apa kau tahu? Sekali kau bilang “kau tidak bisa” atau “masak kamu bisa” atau bahkan yang lebih sakit adalah “adiknya lebih pintar dari mbaknya” ada hati yang terluka. Apa kau tahu bukankah Allah menciptakan setiap hamba berbeda-beda? Kemampuan pun berbeda-beda?

Barangkali, memang si x tidak bisa di pelajaran ini tapi ia mampu di pelajaran itu.

Barangkali, memang si y tidak bisa mengikuti kegiatan ini tapi ia mengikuti dikegiatan itu.

Kamu tidak bisa menyamakan seseorang, bahkan kamu tidak bisa menuntutnya untuk sama.

Kita tercipta dengan berbeda, akan tetapi kita sama sama istemewanya. Setiap individu memiliki kelebihan, kekurangan dan keistemewaan. Kamu tidak bisa sepertiku, dan aku tak bisa sepertimu, karena kita tercipta begitu sempurna

Kamu tidak bisa mengucilkan mereka.Kamu tidak bisa membedakan mereka meski berbeda. Lain kali lihatlah diri masing-masing. Kadang, aku juga mengucilkan seseorang lalu kemudian aku sadar. Oh Aku tidak pantas.

  • view 183