Catatan Gesrek Bocah Skripsi –(Farmasi)- PART III (1)

Mafida Khoiriyah
Karya Mafida Khoiriyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Oktober 2016
Catatan Gesrek Bocah Skripsi –(Farmasi)- PART III (1)

Barangsiapa yang akan menikah, lalu mencari pasangan hidup. Maka, carilah mereka yang lulusan S.farm, Apt. Tenaganya yang kuat akan membantumu mengangkat galon, dsb di rumah tangga nanti itu akan menghemat tenagamu.*langsung ditimpukin mahasiswa fakultas kesehatan lain dan fakultas pertanian dsb. Ekkeke. Mereka akan bilang “enak aja, aku juga berjuang. Terjadilah, katakata. Menantu idaman adalah calon… *isi sendiri.

Sebenarnya dari mana jurusannya enggak perlu. Yang perlu adalah dia jodoh mu yang dituliskan Allah enggak. *ahhaha

Well, masa skripsi yang ada di farmasi itu nano-nano. Mungkin akan sama dengan yang lain, sama sama berjuang menjadi menantu idaman beserta istri sholihah yang punya penghasilan sendiri #eaaaa..

Di part III ini aku akan menceritakan bagaimana perjuangan kita selain revisi proposal yang enggak tau kapan selesainya karena mungkin kita sedang malas ketemu dosen pembimbing, atau udah nyari dosbing ternyata enggak ada malah pulang duluan *siapa yang kayak gini, ahahaha kasian ya udah ditungguin ternyata sudah pulang T.T *curcol wkwk

Selain kita bergelut dengan kertas, yang dapat bidang minat kerjanya di laboratorium akan merasakan hal ini.

Mencari bahan pelarut kesana kemari, gotong pelarut dengan jarak yang jauh, mengusahakan pelarut tidak menguap agar maksimal dalam ekstraksi simplisia dari tanaman yang udah di ACC dosen pembimbing, maka disinilah para wanita strong berada. Kedua tangannya membawa drigen yang berisi pelarut dan itu jumlahnya biasanya puluhan sampai-sampai membawa tiga drigen dengan satu motor, jangan Tanya bagaimana caranya pokonya mah kalau sudah kepepet ada aja idenya. Dan disinilah, bagi yang memilih mereka calon apoteker, jangan menyesal. Mereka akan mandiri gotong galon sendiri, gotong apa apa sendiri karena sudah terbiasa gotong pelarut dengan drigen, tidak punya rasa malu saat bawa drigen di kendaraan motor, dilihatin banyak orang saat gotong-gotong, mereka cuek aja yang penting bisa nyelametin drigen berisi pelarut, jadi jangan khawatir mereka akan menemanimu di masa hidup susah. #ngaahaha

Disinilah proses belajar didalam kehidupan didapat. Disini aku dituntut untuk berkolega dengan semua orang, mulai dari pemilik toko pelarut, karyawannya, tukang parkirnya dan lain sebagainya. Kuncinya hanya satu kita berbicara. Dengarkan bila ada yang bercerita meskipun bagimu itu tidak penting, tetap dengarkan dan kalau enggak paham jawab aja “ooh gitu ya bu” emmm..  dan satu lagi, jangan pernah letih menjadi orang baik, meskipun temanmu itu teman busuk karena hanya menghubungimu saat butuh, sebenarnya tidak ada yang busuk. Kita punya prioritas yang akan diprioritaskan, jadi kenapa kau harus mengatakan teman busuk?

  • view 238