Catatan Gesrek Bocah Skripsi –(Farmasi)- PART II

Mafida Khoiriyah
Karya Mafida Khoiriyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 September 2016
Catatan Gesrek Bocah Skripsi –(Farmasi)-  PART II

Kami adalah bagian segelintir yang sedang memperjuangkan mencari nafkah lahir dan batin untuk calon anak-anak kami #laaah. Sudah idamankah kita? Tentu belum…

bila ada surat dari ibu mertua? kurang lebih jawaban surat kami ke ibu mertua seperti ini.

"Maafkan kami ibu mertua, bukan maksut kami menggantung anak ibu. tapi, kami hanya ingin lulus dan mendapat gelar s.farm ,Apt. itu saja. selebihnya bila anak ibu tidak bisa bersabar tidak apa-apa . kami ikhlas melepaskannya. kami hanya ingin menjadi menantu idaman yang siap bekerja sembari menjadi istri sholihah. maka jadilah kami ibu rumah tangga yang sukses yang membuka apotek" #AHAHAHAHAH. ini selingan saja, tidak seserius itu. aku masih ingin sendiri.

Farmasi dikenal obat-obatan, tapi bukan hanya itu saja. Kau tahu, disini kami di gembleng untuk mengetahui struktur kimia. Memahami dirinya saja susah sekali apa lagi memahami struktur fenol, butanol kaan yaa #malah curhat.  Bukan hanya itu kami belajar untuk memegang spuit, mengambil darah dari mencit, tikus, kelinci. Ada lagi, kami harus menghafal obat-obatan. Sebenarnya nanti kami akan terjun di masyarakat waktu profesi apoteker, S1 hanya perantara saja. Tapi, ya gitu deh, semua orang pada Tanya obat, padahal kami belum belajar seutuhnya baru Cuma kenal paracetamol doang, apa lagi kalau dari SMA. Waduuuh. Akan tetapi, itu adalah suatu pembelajaran. Semakin banyak yang Tanya obat ini apa ya, maka kami pun juga semakin berkembang ilmunya.

Kembali, dengan catatan gesrek bocah skripsi ala Farmasi.

Banyak permasalahan yang harus dipecahkan di masa skripsi. Satu masalah terpecahkan masalah berikutnya akan terus tembuh dan selalu tumbuh, dan benar masalah itu membuat kita belajar.

Saat kita sudah skripsi, saat disinilah kita harus menjadi seseorang yang menjaga kekompakan, menjaga senyuman sembari berjalan, bisa membawa diri, bisa berbagi ilmu yang didapat. Tak ayal, banyak teman-teman yang bergerombol. Meski kita mempunyai sahabat dekat, kita tidak bisa mengandalkan mereka, disaat seperti inilah kita mengurus masing-masing segala kebutuhan kita. sama sepertti kita nanti di akhirat ya, tidak ada lagi yang bersama kita. kita ngurus badan kita sendiri-sendiri. Mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan di dunia ini. *aku banyak maksiatnya huhuhu…

Oke kembali ke skripsi.

Jadi alurnya adalah pengumpulan judul, dari sana kita akan ditempatkan sesuai bidang yang kita inginkan, tapi ada yang dibuang di bidang lain. Apa aja sih bidangnya? Makanya, masuk farmasi aja biar tau dan nggak bakal ngatain “farmasi Cuma jualan obat doang, ga mutu. Mending ga usah sekolah aja” maka abaikanlah orang yang seperti ini, mereka taunya Cuma “ooh sekarang kamu sudah sukses yaa. Selamat ya” alah pret.

Setelah itu kami akan menunggu beberapa bulan untuk pengumuman judul beserta dosen pembimbing.. taraa, disinilah dua dosen pembimbing yang akan mengalahkan apelan pacarmu. Kita harus rajin-rajin ke dosen pembimbing, curhat. Kadang aku juga curhat sambil ketawa-ketawa. Dosennya juga ketawa apa lagi kalau line/SMS  pasti ada kata “semangat ya” atau “gak apa-apa namanya juga masih belajar skripsi” Bu endang dyah..love you *wkwkkw bu mut love you *eheehe

Maka disinilah kami akan di bully adek tingkat karena kita menyusuri jalan sendirian bak jomblo mencari sandaran pundak #halaah. Ya itu karena nyari dosen, nggak ketemu, nyari ke ruangan lain, nggak ketemu. Terjadilah jalan-jalan sendirian seperti jomblo kehilangan arah tapi dengan tujuan.

"mbak , kamu nggak ada kerjaan ya. jomblo sih" sudah biasa di dengar. dan aku menyukai, karena tidak ada kesenjangan antara S1 dengan D3, kita adalah sejawat nanti. ya partner kerja yang menyembuhkan. bila di profesi maka janganlah sombong. sapalah sapalah

Skripsi juga memisahkan kita dengan sahabat terdekat kita, bagaimana sih cara menyiasati kami yang jarang bersama sahabat. Menyisakan waktu sedikit saja untuk mereka.

“hai. Ada waktu? Ketemu yuk”

“ayuk, selesei aku bimbingan ya”,

Yang lain jawab “ayuk, selesai aku ke perpus ya”

“selesei aku nyari pelarut ya”

Disaat itulah quality time 5 detik berlaku, atau waktu ngurus alat, kita bertemu sahabat dekat jangan lupa say halo, dan bertanya “gimana ada apa dengan skripsimu -bukan ada apa dengan cinta lho ya-, kamu punya masalah apa” eh kali aja bisa bantu meringankan bebannya meski kita hanya mengatakan “semangat ya”

Ada banyak masalah di skripsi, setiap individu memiliki masalah yang berbeda pula.

Aku bermasalah dengan optimasi, yang harus membuat sediaan berjumlah 20 sediaan. Langsung calling keuangan : “sepertinya aku butuh uang yang banyak, aku harus membuat 20 sediaan, dan aku harus mengekstraksi daun binahongku membutuhkan pelarut banyaak banget”

Dan sang keuangan berkata “siap, tidak masalah. Asal kamu lulus. Ini sudah disediakan jangan khawatir” rasa sungkan, pasti ada, rasa berkata aku kapan ya bisa seperti mbakku, yang tiap bulan  sudah memberi semua gajinya ke ibu. Disaat itulah rasa egoisku tumbuh, dikala seorang ikhwan datang. Dan aku berkata kepadanya “kamu bisa apa?” dan apa kau tidak berfikir saat berkata “perempuan matre, perempuan carinya yang mapan” jelas, lihat saja sampai sarjana orang tua sudah mengeluarkan uang berapa ratus juta, mbok yo kalian yang para pria itu berfikir, datang-datang bilang “maukah kau susah seneng bersamaku” yo emoh lho ya, liat gadis yang dimanja ayahnya, ayahnya melakukan apapun, terus kamu datang membawa dirinya memisahkan dari ayah ibunya. Ga mikir. Coba mulai sekarang di fikirkan matang-matang saat mendekati gadis. Apa kita bisa membahagiakan dia? Apa dia bahagia bersama ku sama seperti bersama ayahnya” coba difikir matang-matang. *duh kok baper sampai sini. Yok kita lanjutin lagi.

Ada permasalahan sahabatku yang sangat komplek. Anggap ini adalah percakapan kami

Ira : haloo, eh kamu kok nggak ada kabar, kemana aja? Bagaimana skripsi kamu, apa permasalahannya, kenapa kamu nggak sharing? *Ala nada cepat

Sahabatku : kamu mau aku ceritakan, masalahku sangat complex, aku mengambil bidang yang sudah sulit, membuat sediaan di ujikan ke tikus, lalu ditambah lagi dosen pembimbingku minta di uji spektro IR.

Ira : whaatt

Sahabatku : ya mending aku minta nambah lagi ya, sekalian di ujikan ke bakteri nggak buk. Biar saya 4 bidang. Farmakologi dapat, kimia dapat, teknologi farmasi dapat, ditambah biologi dapat.

Wahahhaa, kami pun tertawa sejenak, meski itu berat tapi kita tertawa saja. Entah apa yang kita tertawakan.

Ada juga yang masih belum fix judulnya, ada juga yang sudah janjian dengan dosen ternyata dosen sudah pulang, ada banyak permasalahan. Dan pasti permasalahan itu akan terus ada dan kita tidak boleh menjauhinya tapi menghadapinya

Dan teman-teman jangan lupa firman Allah “sesungguhnya bila terjadi kesukaran ada kemudahan”

Mahasiswa skripsi pun nambah mengingat ke Allahnya, suka berdoa. Keren kaaan.

Tetap kepoin kami para hunter dosen yaa ^^

 

 

  • view 330