Untukmu yang telah membiarkanku pergi dari hidupmu

Mafida Khoiriyah
Karya Mafida Khoiriyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Untukmu yang telah membiarkanku pergi dari hidupmu

Untukmu yang membiarkanku pergi dari hidupmu

Terimakasih telah pernah membuatku tersenyum sembari menuruni tangga masjid.

Apa kau masih ingat kalimat yang kau lontarkan kepadaku saat kau membalas senyumanku.

“sudah selesai?”

Dan aku pun menjawab “sudah, sekarang kita mau kemana?”

“terserah kamu, hari ini adalah hari jalan-jalan mu”

Atau kau membenarkan kalimat doa yang aku baca, dengan suaramu “bukan begitu, tapi begini”

Kau tersenyum karena aku terbata-bata membacanya.

“Tapi aku ingin belajar” kataku

“iya, nanti kita belajar bersama” jawabmu dengan berjalan, aku pun mengikuti langkahmu

Untukmu yang telah membiarkanku pergi dari hidupmu

Terimakasih telah menjadi bagian yang begitu sempurna,

“kau mau makan apa?”

“aku ingin es krim”

“baiklah nanti kita akan ke kedai es krim”

Padahal, kau tidak bisa memakan es krim. Dan memaksakan badanmu untuk mengikuti pola hidupku yang selalu sembrono.

Untukmu yang telah membiarkan ku pergi dari hidupmu

Terimakasih telah meluangkan waktumu untuk menemaniku meski hanya sesaat dari seribu rutinitasmu.

“5 menit lagi aku sampai” katamu

“eh nggak jadi” kataku

“kenapa?” tanyamu

“aku sudah dijalan. Hehe” kekehku

“tadi katanya mau aku temenin” protesmu

“kan kamu lagi sibuk sama temenmu.aku nggak mau ganggu,” aku pun tak mau kau salahkan

“kan aku sudah batalkan semuanya” bela mu

Kita tidak pernah bertengkar, hanya salah paham lalu diselesaikan, selanjutnya tertawa kembali.

Indah, sangat indah

Untukmu yang telah membiarkanku pergi menjauh dari hidupmu.

Terimakasih telah membuat badanku menggendut.

Malam itu, kau menemaniku. Kau mungkin saja tahu, aku sedang banyak kegiatan. Tapi, kau datang membawa makanan yang banyak.

“kau tidak boleh stress, apapun keadaanmu kau tidak boleh tertekan”

Atau saat aku berkata “aku ingin makan pisang caramel”

Dan kau mencarikannya untukku.

Untukmu yang telah membiarkanku pergi menjauh dari hatimu

Terimakasih telah membuatku tertawa tanpa takut kau pergi karena tawaku

“kamu tahu surat apa yang aku suka selain al ikhlas?” tanyamu dikala aku memakan makanan yang kau bawakan.

“apa? sttt, biar aku tebak” aku berfikir “annas?” tanyaku

“Salah.”

“al falaq?” aku mencoba menebaknya

“Tidak”

“ih kok tidak. Ad-dluha? Al insyirah? Al kautsar?”

“bukan bukan. Sudah biar aku kasih tahu ya”

“al-lahab, al ma’un?” aku kembali mencoba

“bukan juga. Sudah ya aku kasih tau

“Al…”

“sudah biar aku jawab” potongmu “Al kafirun. Aku sangat menyukainya. Pahala bila membaca al ikhlas adalah 1/3 dari alqur’an, sedangkan al kafirun ¼, jadi kalau aku membaca kedua surat itu sudahbanyak pahalanya”

Aku pun tertawa, “bilang saja kau malas untuk one day one juz”

Kau pun tersenyum

Untukmu yang telah membiarkanku pergi

Terimakasih telah menjadi bagian yang begitu sempurna. Meski Takdir Allah tak sempurna untuk aku dan kamu.

Terimakasih telah menjaga ku seperti kau menjaga mutiara yang berada di dasar laut.

Terimakasih telah membuatku menjadi gadis yang selalu bahagia dan tak pernah bersedih bila didepanmu

 Bila hari itu kau bertemu dengan ku, mungkin saja hari ini kau akan bertemu dengan gadis lain.

Bila hari itu kau berjuang agar mendapatkanku, mungkin saja hari ini kau akan berjuang untuk gadis lain.

Begitulah hidup yang mungkin terjalani dan dijalani

  • view 393