Bila Keputusan itu menyakitkan

Mafida Khoiriyah
Karya Mafida Khoiriyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Bila Keputusan itu menyakitkan

Marah. Marahlah kepadaku bila itu membuatmu bisa membenciku.

Marah. Marahlah kepadaku bila aku telah menyakiti hatimu, lalai dalam janjiku untuk tetap bersamamu. 

Aku tak apa bila kemarahan mu kepada ku akan membuat hatimu jauh lebih baik dari yang kemarin.

aku tahu kau tak akan menangis untuk hal macam ini, aku tahu kau adalah seseorang yang tak pernah mengeluarkan air matamu didepanku.

Kau tahu, Aku pun juga sama sakitnya. Mengambil keputusan yang tak ku inginkan. Keputusan ini pun ku buat dengan hati yang berat, sungguh berat. Berhari-hari aku memikirkannya, berhari-hari pun jua aku merangkai kata untuk mengucapkannya di depanmu. Aku bahkan tak punya nyali. sedikitpun.

"Ada perempuan lain yang kau kenal?" tanyaku kepadamu di kala kau sibuk dengan duniamu

"Ratusan aku mengenal perempuan, Tapi aku tidak tahu siapa jodohku. Dan aku tetap menunggumu" katamu

"kita tahu, bahwa hubungan ini tak akan pernah ada di dalam ajaran kita. Kita sama-sama tahu, bahwa didalam islam telah di larang mendekati zina. untuk apa kita komunikasi? bolehkah aku meminta, coba kita tak usah komunikasi" kau tahu, aku mengutuk diriku dihatiku, 'mengapa aku bertemu dengan mu dikala aku tidak siap, harus berapa banyak aku menyakitimu, harus berapa lama aku menggantung mu dengan ketidak jelasan ini', aku tak akan mampu melihat mu bersedih karenaku, karena itu aku putuskan ini.

"kita harus sama-sama berjuang. Bila tidak berjuang tidak akan pernah bisa" katamu meyakinkanku

"Untuk apa berjuang dalam hubungan ini? apa kau ingin membuat ku buyar dalam studyku. aku ingin menyelesaikan semuanya tepat waktu. aku ingin menjadi wanita karir sebelum aku berumah tangga. Aku belum siap dengan semuanya. Mengurus rumah dengan segala masalah. Aku belum siap menghadapi semuanya. Bagaimana bila kita memilih, aku dengan sendiri mengejar cita-citaku. kamu pun juga. Jika kita bertemu itupun akan bertemu dalam ketaatan"

***

Begitu banyak berkonsep "berjuanglah dengan pasangan mu" Aku tahu bahwa menjadi perempuan harus bisa menerima keadaan baik dan buruk pasangannya, tapi bila aku dengan mu tanpa ikatan resmi. Untuk apa berjuang? Aku takut Allah Murka, dan menguttukku dirimu dan diriku. Sungguh Aku sangat amat takut.

"apa kau mendapat laki-laki lain" begitu katamu disaat aku ingin sendiri dalam ketaatanku, terserah kau mengatakan apapun. Bila ada laki-laki lain untuk apa, buat apa.

Orang- Orang pun berkata "kau tak akan pernah mendapatkan seperti dirinya lagi. Jangan sia-siakan orang yang mencintaimu sekarang"

aku tak akan pernah menyia-nyiakan mereka mereka yang mencintaiku. Barangkali mungkin banyak cobaan antara aku dengan mereka. Tapi, aku tetap menghormati mereka.

Apa kau tau dengan perkataa itu "jangan sia-siakan orang yang mencintaimu sekarang", Bila Allah tak ridha sekuat apapun aku dengan kau menyatukan hati ini, bila Allah tak restu dengan hubungan ini sekuat apapu kau dengan ku mempertahankannya itu akan percuma,

Lalu, untuk apa aku menjaga jodoh orang lain?

Untuk itu Aku rela melepasmu, meski aku telah menyayat hati mu dengan seribu kesakitan.

Aku relah kau mengatakan "karena kau sudah punya laki-laki lain" meski itu tidak dalam diriku. aku hanya ingin kau selamat, dan aku selamat dari api neraka.

Maafkan aku telah membuat mu berlumur dosa selama ini, meski kita tak pernah melakukan hal apapun selain komunikasi.

"Pergilah.. aku tak mencintaimu"

 

 

  • view 260