Di Bawah Kenangan Hujan

Ira Wahyu  Widya
Karya Ira Wahyu  Widya Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 15 Februari 2016
Di Bawah Kenangan Hujan

Hujan, tampias, basah, dan dingin.

Bagiku hujan adalah masa dimana hatiku suka iseng mengulik kenanganku tentangmu, mencoba memahami kembali apa yang sebenarnya terjadi di antara kita, ini bukan ulangan yang dapat dengan mudah di remidial ketika mendapatkan hasil yang tepat. Ini tentang semua perbedaan, ya.. terlalu banyak perbedaan yang mencuat, membelah semua yang ingin kita persatukan, dan ternyata kita memang terlalu berbeda. Hujan selalu memunculkan semua hal tentangmu, tentang awal, perjalanan, memahami, mencoba, berusaha, menyerah, berpisah, dan berakhir. Mungkin kau hanya akan tertawa melihat semua logikaku tentang mengenangmu dalam rintik hujan, tetapi semua itu kenyataan.

Akupun berharap ketika hujan turun bersama semua kenanganku tentangmu, rintiknya yang semakin deras akan tampias membasahi sebagian tubuhmu juga hatimu akan kenanganku. Haha, konyol sekali logikaku. Lagipula tidak akan mungkin semua terjadi seperti ekspetasiku. Aku mengerti, tidak mungkin kau akan seperti itu. Hanya akan membuang waktu, tidak berguna, dan aku paham mungkin hanya aku yang merindukan semua perbedaan kita dulu.

Jangan bermain hujan, nanti kau sakit! Kalimat itu yang selalu kuingat darimu ketika hujan, entah apa maksudmu. Tapi kau selalu berkata seperti itu ketika dulu aku mulai berlari dibawah air hujan. Saat kau bertanya mengapa kau suka sekali bermain air hujan, sudah basah, menggigil pula, apa kau tidak takut sakit? Dulu, kalimatmu hanya bisa kujawab dengan senyuman. Karena aku sendiri tidak mengerti bagaimana harus menjelaskan cintaku kepada hujan dihadapanmu. Hingga kini kudapatkan alasan mengapa aku mencintai hujan, mungkin karena aku selalu suka berkhayal bahwa bersama dengan turunnya air hujan yang membasahiku, mereka dapat melarutkan sebagian bebanku dan membawanya mengalir jauh sekali. Haha, tidak-tidak bukan itu. Saat ini ketika aku melihat hujan, selalu aku berbisik di bawah rintiknya agar mereka dapat menyampaikan rindu yang selalu membasahi hatiku, meskipun ini musim kemarau.

Tak kupungkiri, hidupku sedikit hampa tanpamu. Dulu saat hujan, kau akan ada disini meringkuk memeluk tubuhku yang ringkih. Aku memang terdiam kala itu, tetapi perlu kau tahu bahwa perasaan hangat tidak hanya dalam tubuhku karena kehangatan itu perlahan menjalar pula menghangatkan hatiku. Ah, aku memang baru saja memberanikan diri menguraikan semuanya saat ini, mengapa? karena saat itu aku takut terlalu bergantung kapadamu juga hatimu, aku takut jika suatu hari aku tak mampu bertahan tanpamu. Sampai perpisahan itu menjadi nyata dan aku memang bertahan, meskipun ketika hujan dan dingin menyergapku. Hanya selimut saja yang setia denganku.

?

Kudus, 15 Februari 2016

  • view 151