Dia

Ira Wahyu  Widya
Karya Ira Wahyu  Widya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Juni 2016
Dia

Dia tidak banyak berubah, masih sama seperti yang 6 bulan lalu kutemui. Hanya saja rambutya sedikit pendek dari yang terakhir kutemui.

Dia tersenyum melihatku. Ah, senyum itu selalu menancap dalam ingatanku. Matanya yang sedikit terpejam saat tertawa, rentetan gigi yang tersusun rapih tanpa harus di kawat, hingga suara tawanya yang seperti tokoh kartun selalu berhasil membuatku luluh dari murung.

Ku tatap dia untuk yang kesekian kali, kuamati. Mungkin saja ada perubahan yang kulewatkan, tapi kurasa tidak. Alisnya tetap sama, tebal dan rapi tanpa ada bekas goresan pensil alis di sana. Terlihat natural, tanpa ada sapuan kosmetik yang terlalu menjajikan banyak hal. Ku tatap seluruh jengkal tubuh yang ehm.. jujur saja selalu ingin ku miliki suatu hari nanti.

Ah, dia memang selalu menjadi perempuan yang berbeda dari yang lain. Tapi tetap sama bagiku, semua ketegaran yang dia miliki juga kemampuannya meredam setiap gejolak dalam dirinya membuatku sedikit iri karena ku akui aku sendiri masih terlalu sering labil dalam hal emosi.

Aku masih selalu menjadi penikmatnya, penikmat kerinduan yang dia ciptakan, penikmat setiap kata yang dia rangkai dengan runtut hingga menjadi sebuah cerita yang selalu membuat rindu akan suaranya yang menggebu-gebu ketika menceritakan tentang harapan yang ingin dia lalui.

Aku masih sama, seorang pengagum yang tidak pernah bisa memahami apa isi otaknya bahkan isi hatinya. Aku selalu menjadi manusia pertama yang mendengar semua ceritanya, namun aku tak pernah bisa mengerti tantang dunianya. Aku belum pernah bisa masuk seutuhnya dan melengkapi sendi bahagianya.

Aku ingin sekali, aku sangat ingin. Maka dari itu ku mohon ajari aku agar bisa masuk ke dalam duniamu dan aku akan menjadi sendi bahagiamu selamanya. Ah, seandainya dia mendengar semua kata hati ini.

*Untuk dia yang sudah mengungkapkan ini dan maaf jika aku belum bisa membalasmu.

 

  • view 178