Tentang Rindu Juga Sesalku

Ira Wahyu  Widya
Karya Ira Wahyu  Widya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 April 2016
Tentang Rindu Juga Sesalku

Aku, tidak pernah tingal dan terlahir dari mulut rahimmu. Aku pun tidak pernah mencarimu, bahkan aku tidak yakin kaulah yang mencariku hingga pada detik itu kita bertemu dan memulai semuanya kembali. Kita tidak pernah bersama secara fisik karena jarak yang membentang juga ego terpendam ketika ada rasa rindu. Selama kita bersama, hanya sapaan kabar saja yang membuat kita mampu bicara panjang lebar.

Hadirmu memang mengurangi sedikit beban di otakku namun tidak pada batinku, jujur saja aku tersiksa dengan segala impian yang kau tangguhkan meski tidak secara langsung kau ucapkan. Karena siksa itu aku memilih sedikit menjauh darimu, menjaga jarak agar kau tidak terlalu tersakiti melihat tingkahku. Aku manusia yang kau besarkan, kau do'akan dalam sepertiga malammu. Aku manusia yang kau sayangi melebihi anak yang terlahir dari bibir rahimmu. Aku manusia tidak tahu diri yang lebih sering memanfaatkan kebaikanmu demi hingar bingar duniaku. Maafkanlah aku sebelum kau tahu bagaimana aku sebenarnya, aku tahu semua yang kau berikan padaku sungguh sangat percuma.

Akhir-akhir ini aku sangat tersiksa sampai akhirnya kuputuskan untuk jujur dan kuceritakan semuanya kepadamu, agar kau tahu yang sebenarnya, agar jika nanti kau membenciku aku dapat pergi dengan tenang, agar kau tahu jika aku selalu saja berbohong tentang apa saja kepadamu, ya..apa saja. Namun ketika aku mulai berdiri dihadapanmu,nyaliku menciut, menguap entah kemana. Yang tersisa hanya mata sayu yang terus saja menatapmu, serta jiwa yang begitu dingin karena jujur saja aku merindukan pelukanmu. Yang ada hanya ketidakberdayaanku mengucapkan sepenggal kejujuran tentang yang tengah terjadi saat ini.

Aku menyesal dengan semua yang telah kulakukan, sangat menyesal dan aku sadar penyesalan yang saat ini kurasakan sudah tidak berarti karena memang waktu lebih cepat berlalu bahkan sebelum penyesalan ini terjadi. Aku ingin bertemu denganmu, meminta sedikit waktumu agar aku bisa mengungkapkan seluruh kebohonganku. Aku ingin denganmu,bersandar pada bahu lelahmu menangisi setiap kebodohanku. Aku ingin denganmu, merengkuh tubuh rentamu lalu memasang telingaku agar kudengar semua omelan dan nasihat yang selalu kau ulangi setiap kali kita bertemu. Aku ingin denganmu, meski setelah ini kau akan memintaku pergi. Namun sebelum itu kuharap kau terima semua maafku, Ibu.

  • view 84