Pelajaran dari Glasgow dan Sleman

Iqbal Nur Rachmatulloh
Karya Iqbal Nur Rachmatulloh Kategori Bola
dipublikasikan 03 September 2016
Pelajaran dari Glasgow dan Sleman

Di Bulan Agustus ini, ada 2 kelompok suporter sepak bola yng sengaja melanggar regulasi operator liga setempat. Yang pertama. Adalah Green brigade yang merupakan bagian dari kelompok suporter Celtic FC, mereka membawa puluhan bendera Palestina saat timnya berhadapan dengan Be’er el sheva – tim asal negara zionis, dan hasilnya mereka didenda UEFA karena tuduhan membawa isu politik di stadion

Yang kedua adalah suporter lokal yang menamakan dirinya Brigata curva sud atau yang biasa disingkat menjadi B.C.S, mereka adalah suporter PSS Sleman, di laga home mereka “nekat” menyalakan flare dan smoke, sanksi komdis ISC pun jelas menunggu tim berjuluk Super Elang Jawa tersebut

Peraturan, pada prinsipnya adalah alat yang dibuat demi keteraturan hidup manusia, seperti traffic light yang efeknya begitu terasa bagi keteraturan lalu lintas

Tapi manusia adlah manusia, ia lahir sepaket dengan keinginan dn kehendak-bukan robot- yang hanya bisa taat peraturan tanpa esensi. 2 kelompok suporter tadi setidaknya menunjukan pada kita bahwa tidak selamanya taat pad peraturan itu baik.

Poinya adalah: buat keputusan dan terima konsekuensi , pada kasus pertama Green Brigade yang dibantu suporter Celtic lainya, justru bisa mengumpulkan dana bantuan bagi Palestina yang jumlahnya lebih dari denda yang harus dibayar kepada UEFA. Bagi PSS Sleman, aksi bakar flare dan smoke biasanya hanya diganjar denda yang jumlahnya “hanya” puluhan juta, bukan masalah bagi sebuah tim yang dari setiap laga homebase-nya, mendapatkan laba kotor 400-600  juta.

Jadi, berontaklah selagi perlu dan mampu

  • view 167