Lelaki yang Gagal Menghadapi Diri Sendiri

Iqbal Syauqi
Karya Iqbal Syauqi Kategori Motivasi
dipublikasikan 11 April 2016
Lelaki yang Gagal Menghadapi Diri Sendiri

Barangkali saudara, keresahan disebutkan hanya milik orang-orang yang tidak atau kurang beriman kepada adanya Tuhan yang mengendalikan takdir dan realita. Keresahan muncul karena dua hal: tidak bisa menerima takdir, atau tidak bisa menyiasati nasib.

                Keduanya bisa berimbas pada gundah tiada berujung.

                Saudara, barangkali kisah-kisah pilu hanyalah milik orang-orang dengan masa lalu. Kelampauan yang tidak sepenuhnya bisa diterima dengan lapang dada hari ini, akan menjadi dilema yang menghambat kinerja dan motivasi dalam perkembangan potensi juga gerak hidup.

                Begitukah? Karena hidup ini tidak ada yang tahu, akan saya sampaikan kisah seorang pria, di sudut warung kopi itu. Ia melamun, meratapi nasib, memandang pertandingan Liga Inggris dengan bisu dan dungu, tanpa sebuah kejelasan yang terlintas di pikirannya.

                Mungkin, jika saya amati, pria itu sedang mengalami krisis motivasi. Kopi-kopi di cangkirnya tuntas dalam sekali teguk – pertanda ada yang kurang beres dalam jiwanya. Saya singgung, keadaan seseorang bisa dilihat dari gayanya saat meminum kopi, antara kalut, damai, gelisah, sampai hanya sekedar haus.

                Kembali ke pria di sudut warung kopi itu. Ia rogoh sakunya, meraih korek dan sebungkus rokok stensilan. Dibakarnya ujung rokok, sial. Dia tidak fokus, yang dia bakar ternyata merembet ke tengah. Jadilah rokok itu terbakar di tengah dan putus. Tentu saya mengamatinya lamat-lamat menjadi antara ingin tertawa, geli, tapi geregetan juga. Menurut saya, jika kita melihat seseorang yang tampak diliputi ketidakberesan dalam dirinya, akan tampak keanehan-keanehan yang ganjil dan tak bebas, meskipun ia bisa tertawa-tawa bersama kita.

                Demikianlah perasaan selalu mudah terasa dan menular.

                Saya harus yakini pria itu bukan sembarang pria sendu yang datang sendiri ke warung kopi larut malam. Berdasarkan keterangan beberapa teman yang pernah saya ajak bicara, ternyata dia adalah pria dengan minat dan kecerdasan yang meluap-luap.

                “Dia sudah pernah menerbitkan buku, dan menjadi ketua sebuah buletin dan portal berita mahasiswa di kampus ini, meski dalam skala kecil,” kata seorang kawan. “Saya pernah baca tulisannya. Melihat biografinya, saya tak yakin pria ini benar-benar berkuliah di jurusan yang ia sebutkan,”. Mendengarnya, saya berpendapat rasanya sungguh naif terasa.

                Saya enggan mendekatinya. Tapi harus saya akui, pada suatu malam akhirnya saya bertemu dia menenteng buku karangan Paulo Freire “Pedagogics of Opressed”. Dia membolak-balik buku, menggarisbawahi beberapa poin, tersenyum dan manggut-manggut sendiri. Saya asyik dengan mi rebus telur yang saya pesan pada abang penjaga warung. Mendadak dia menoleh,

                “Mas, tinggal di kosan sebelah?”

                “Ia mas,” jawabku.

                Dan percakapan kami menjadi ringan, penuh canda – karena ia pun cukup ramah – dan tampak ada sebentuk retorika dan keinginan kuat dari pria itu. Sungguh.

                Tapi jika saya boleh jujur, ada kegamangan di matanya. Kegamangan yang terasa dalam sebuah cita-cita dan harapan. Kegamangan yang terbentur dinding-dinding nasib yang terpaut rasa cinta dan sistem kehidupan.

                Matanya tidak benar-benar menatap mata saya. Dia ragu akan hidupnya sendiri yang tidak sungguh dia yakini ada. Resah.

                ***

                Saya mungkin di tulisan ini tidak membagi sebuah inspirasi untuk memotivasi menuju lebih baik dari hari-hari lalu. Sama sekali tidak. Barangkali sistem kehidupan, rasa cinta yang tulus, minat dan idealisme yang tidak bisa ditahan-tahan, kebosanan terhadap hidup yang terlalu mekanis dan tidak memberi ruang berkembang potensi terdalam seorang manusia, menjadi penyakit krisi motivasi. Terlebih jika hidup terlalu banyak menuntut, dan yang lebih bodoh, ada orang-orang yang mencari tuntutan bagi dirinya sendiri.

                Tapi mau bagaimana lagi, jika memang hidup itu terlalu mekanis dan kebosanan adalah harga yang pantas.

                Saudara, bisa jadi kita punya banyak tanggungjawab dan hal yang harusnya terselesaikan, tapi kita abaikan karena krisis motivasi dan hasrat. Terlalu banyak hati yang dilukai, terlalu banyak akal dan prospek yang dikecewakan, perbuatan yang setengah hati. Tak ada harapan dan keinginan untuk terjun dalam suatu masalah dan tanggungjawab. Kita menyelesaikan apa yang tak ingin diselesaikan, melaksanakan apa yang tak berharapi dituntaskan. Ada tuntutan yang menanti di depan, kantong perjalanan hari ini yang terisi dengan pundi-pundi kegamangan, serta masa lalu yang tidak bisa dimaafkan dan diterima seutuhnya, karena kesalahan-kesalahan besar.

                Tidak ada tempat untuk berbagi masa, dalam tuntutan yang membunuh, dalam harapan yang tak bisa diperjuangkan. Bukankah itu sangat mengerikan?

                Sekian.

                Dan pria itu, berujar kepada saya,

                “Aku, mas, gagal untuk mencintai dan menyiasati nasib. Rindu hanya muak, dan hidup hanya soal hal yang akan berlalu tanpa perlu dimaknai,” ujarnya, saat asap mengepul, gamang.

  • view 172