Kisah-Kisah yang Dilindas Waktu

Iqbal Syauqi
Karya Iqbal Syauqi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 April 2016
Kisah-Kisah yang Dilindas Waktu

Saya agak resah setelah beberapa hari yang lalu saya tidak menulis. Sejenak, perlahan saya cermati satu persatu tulisan yang pernah dibuat, saya baca kembali. Tampak ada perubahan dan pemikiran yang memiliki signifikansi pada isi naskah. Sederhananya, saya agak serius dalam pikiran. Geram dan gemas, mungkin iya. Tak mengapa, mungkin sejenak kita bisa berlalu dari hal-hal berat dan mengingat kembali apa yang ada di sekitar kita.

??????????????? Salah satu hal yang saya sukai ketika tinggal di Ciputat ini adalah duduk-duduk di teras masjid Fathullah UIN Jakarta ketika petang menjelang, biasanya dengan sedikit jajanan dan relaksasi. Beberapa dari kita cukup tahu dari media, televisi misalnya, mengenai aktivitas warga Jakarta yang pulang kerja setiap maghrib. Jalan menuju ibukota akan lebih lengang, dan arah ke ?kota satelit? atau kota sekitar Jakarta akan amat padat dan menjemukan. Inilah hal yang saya nikmati: melihat kendaraan bermacet ria, teriakan sopir angkot menyambut para mahasiswa IIQ atau UIN yang pulang kuliah, klakson bersahutan.

??????????????? Saya merasa kisah ini ada, tapi entah faktanya. Saya lupa kapan tepatnya, pada suatu kesempatan saya duduk di samping pintu masjid. Tiba-tiba ada seorang tua keluar, membawa koran KOMPAS pagi itu. Saya adalah salah satu penggemar koran, terlebih harga KOMPAS cetak agak mahal. Tanpa malu, saya izin meminjam koran pada bapak tua itu. Sebagaimana orang membaca koran, saya cari topik yang saya suka.

??????????????? Bapak itu masih duduk. Agak segan, saya kembalikan koran itu sambil tersenyum simpul. Dia membalas, saya semakin sungkan.

??????????????? ?Asal mana, dik??

??????????????? ? Dari Jawa Timur, pak. Malang,?

??????????????? ?Suka baca koran??

??????????????? ? Iya, pak. Kebetulan saja,?

??????????????? Saya tatap sorot matanya. Usianya tampaknya memasuki kepala tujuh, tapi tampak tegas dan yakin akan kehidupannya. Ini hanya persepsi saya.

??????????????? Ia mengisahkan kegiatan sehari-harinya di Ciputat ini, beserta hal-hal masa lampau yang telah berlalu. Dari logat dan gesturnya saya tengarai dia berdarah Betawi. Ciputat adalah salah satu daerah yang paling sibuk di tepi Jakarta yang maha-sibuk, sebagai akses ke arah Kota Bogor dan Depok, katanya. Selanjutnya, ia juga mengeluhkan tentang berbagai teknologi yang ia sendiri menyebutkan dengan tertawa bahwa ia hanya mampu menekan angka dan menjawab panggilan pada ponselnya. Saya lihat, HP-nya ternyata merk NOKIA lusuh. Disebutkannya bahwa ia dahulu adalah salah satu orang yang pernah mengurusi masjid kebanggaan UIN ini.

??????????????? Tak lama pertemuan itu terjadi, dan saya merasakan suatu kesan saat hendak menulis malam ini. Masa lalu saya di Malang, ada tiga hal yang sulit saya abaikan ketika bersama orang-orang sepuh: mendapat sekantong belimbing dari Mbah Abdul Hamid, dipijatkan ke Mbah Ti Pijat (saya sebut begitu) saat tidak enak badan, serta dibuatkan telur dadar dan ditemani melihat hujan bersama nenek saya, Mbah Siti. Semoga Tuhan senantiasa mengasihi para pendahulu. Nostalgia, dongeng, atau kisah-kisah lampau yang tak mungkin terjamah dalam radar masa kita, tentang sawah menghampar, lampu minyak berkedip, perjuangan akan hidup tanpa teknologi, semua tampak sederhana.

??????????????? Duduk bersama orang sepuh, menjadikan banyak hal yang akan terungkap. Saya beberapa hari lalu mendapati sebuah film dokumenter tentang kejadian pembantaian suatu ormas besar di kurun 60-an. Ada kengerian di situ, dan hanya orang tua yang mampu berkata banyak dalam pikunnya, berceloteh panjang dalam kedamaiannya. Orang-orang tua kebanyakan adalah insan yang telah selesai dalam pencarian dirinya, dan mulai yakin bahwa anak-anak yang akan melanjutkan hidup mesti tahu apa yang terjadi pada masanya.

??????????????? Kembali ke depan masjid. Orang itu berlalu, dan ditinggalkannya koran yang tadi saya pinjam. Saya amati dari belakang, jalannya tenang dan gontang, ia keluarkan korek dan sebatang rokok dari kantong baju kokonya. Koran itu sebenarnya masih tampak amat bagus, belum terlihat tanda-tanda ia dibolak-balik dengan serius. Saat itu masih tahun 2014. Politik sedemikian parahnya, dan dinamika segala hal tak keruan. Agama, budaya, ekonomi, sains, semua berlalu lebih cepat dari umur bapak itu nampaknya. Koran yang tak terbaca itu, banyak mengisyaratkan tanda-tanda. Dunia yang terlalu runyam, atau dia merasa cukup dengan saat ini, mungkin demikian.

??????????????? Setiap orang sepuh memberikan warna sejarah yang tak terbilang untuk anak muda, selucu atau sekeras apapun ucapan dan instruksinya. Begitu pula kenangan bersama pendahulu yang tak akan terabaikan sampai berlalu usia.

??????????????? Mereka seakan ingin mengatakan dengan jujur: tak ada yang baru di muka bumi ini, meski waktu melindasnya.

??????????????? Kisah-kisah di bawah langit hanyalah sejarah yang berulang.

??????????????? Sekian.

  • view 153