Kalam dalam Kitab Ajurumiyyah dan Belajar Bahasa

Iqbal Syauqi
Karya Iqbal Syauqi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 Maret 2016
Kalam dalam Kitab Ajurumiyyah dan Belajar Bahasa

Manusia lahir, berkembang, tumbuh, dan menjalani hidup dalam interaksi dan komunikasi dengan sesama manusia yang lain. Setiap hari mereka berjumpa, mendengar dan menyampaikan sesuatu, membaca tulisan-tulisan di buku atau koran, ataupun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh para pengajar di kampus maupun sekolah, dan hal terpenting yang dapat memberikan pengaruh dalam interaksi itu adalah bahasa.

??????????????? Bahasa telah manusia pelajari sejak lahir di dunia, dan dikenalnya rupa-rupa suara yang disampaikan ibu bapak mereka dalam timangan masa kecil. Nah, ketika otot-otot lidahnya telah berkembang dengan baik, seorang bayi mulai mampu mengekspresikan kata-katanya sesuai yang ia mau. Seiring bertambahnya umur dan perkenalan sang bayi dengan dunia yang lebih luas, dia akan menyerap banyak hal baru, salah satunya adalah kosakata yang ia ucapkan sehari-hari.

??????????????? Memasuki masa remaja, seseorang akan tahu pentingnya berbahasa dengan baik dan benar. Pergaulan akan semakin luas, interaksi dengan berbagai macam kalangan akan semakin sering terjadi, terlebih dalam persaingan global yang kian cepat ini, remaja dituntut untuk memiliki kemampuan dalam bahasa internasional, seperti bahasa Arab, Inggris, Mandarin, maupun bahasa lokal seperti bahasa Madura, Jawa, dan sebagainya. Sumber-sumber kajian ilmu pengetahuan dalam ilmu alam, sosial, maupun keagamaan yang belum banyak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, turut mendesak banyak orang, terutama para pemuda, untuk turut meningkatkan kemampuan berbahasa. Dalam ilmu sosiologi disebutkan pula bahwa kekeliruan berbahasa akan berdampak besar pada kepercayaan publik.

?

??????????????? Pembelajaran Bahasa berdasarkan Definisi Kalam dalam Matan Ajurumiyyah.

Pelbagai metode belajar bahasa mungkin sudah sering disampaikan pakar pendidikan bahasa, dengan berbagai ragam tentunya. Namun, penulis coba menyinggung suatu definisi kalam yang kiranya unik dalam proses belajar berbahasa, sebagaimana dalam kitab kuning klasik pelajaran tata bahasa Arab, yakni kitab Matan Ajurumiyyah yang dikarang oleh Syeikh As Shonhaji, yang dikenal dengan Ibn Ajurum. Kitab ini sangat populer di pesantren.

??????????????? Kitab itu diawali dengan frasa:

??????????????? ?????? ?? ????? ??????? ?????? ??????

??????????????? ?Kalam adalah lafazh yang tersusun (murokkab), mampu memberi pengertian (al mufiid), dan disampaikan dengan sengaja (bil wadh'i)?.

??????????????? Awal kitab ini membahas tentang pondasi awal dalam bahasa Arab, bahwa suatu ?kalam?, atau bisa diartikan sebagai ?pembicaraan yang utuh dan baik?, harus memiliki komponen kata yang terangkai menjadi kalimat, mampu memberi pengertian, dan diucapkan dengan kesadaran diri sendiri. Penulis menyadari bahwa definisi kalam dalam berbagai tingkatan kitab tentu berbeda, namun sekali lagi, yang dibahas di sini bukanlah pelajaran bahasa Arab, melainkan prinsip pembelajaran bahasa yang disebutkan oleh kalimat tersebut.

??????????????? Kalam, yang dimaknai sebagai pembicaraan, percakapan, dan retorika yang baik, adalah tujuan berbahasa. Seseorang belajar bahasa tentunya dengan tujuan agar dapat menjadi pembicara maupun penulis yang baik, sehingga isi pikirannya dapat ditangkap orang lain, dan haruslah ia memiliki modal ilmu bahasa yang cukup, baik bahasa lokal maupun internasional. 4 hal yang perlu dilakukan agar tercapai kompetensi itu adalah:

  1. Menguasai kosakata dan pengucapannya dari kata lafzhu

Secara sederhana, lafazh artinya kata yang terucap. Sebagai langkah awal belajar bahasa, memperbanyak kosakata, sering mendengar percakapan, sering berinteraksi. Bahasa yang baik diawali dengan perkenalan yang luas pada kosakata, dan praktek pengucapannya. Contoh: Bagaimana mengucapkan kalimat bonjour dalam bahasa Prancis, atau A?f Wiedersehen dalam bahasa Jerman?

  1. Mampu menyusun kalimat dari kata murokkab

Setelah sudah mengenal banyak kosakata, sudah banyak mempraktekkan pengucapannya, coba untuk murokkab, yakni mengumpulkannya dalam satu kalimat. Semisal kita coba menyusun kalimat dari kata bapak, menyapu, halaman, rumah. Kita sudah memahami dan tahu pengucapannya. Lalu kita susun menjadi ?Halaman menyapu bapak rumah?. Tentu ini kurang tepat, tetapi coba saja kita susun. Penyusunan bahasa akan sedikit lebih rumit pada bahasa yang kosakatanya memiliki keterkaitan erat dengan waktu, seperti perihal tenses pada bahasa Inggris dan fiil madli maupun mudlori? dalam bahasa Arab. Tak mengapa, susun saja hal yang diketahui. Biarlah ia benar menurut penyusunnya sendiri.

  1. Membentuk pemahaman dari kata mufiid

Apakah Anda sudah mampu menyusun kalimat? Cobalah untuk menyampaikan dan meminta koreksi dari orang lain. ?Apakah tulisan atau pembicaraan saya sudah bagus? Apakah orang lain sudah faham dengan yang saya sampaikan??. Tentu kita meminta koreksi dari orang yang lebih faham tentang gramatikal bahasa yang sedang dipelajari. Dengan seringnya kita mendapat tanggapan ketika berbahasa, tentu akan meningkatkan kemampuan menyusun kata, mencocokkan dengan kaidah yang ada, serta muncul kehati-hatian dalam memilih kata-kata yang akan disampaikan pada orang lain. Bukankah pada awalnya seorang anak akan berbahasa dengan bahasa yang sering ia dengar, sebelum orang tua atau guru mengingatkannya?

  1. Membentuk kebiasaan dan kesadaran berbahasa, dari makna kata bil wadh?i

Ilmu tanpa praktek adalah nol. Karena pada hakikatnya ilmu bahasa adalah ilmu terapan, yang membutuhkan pembiasaan, maka hendaknya perbendaharaan kosakata yang dimiliki dipraktekkan setiap hari, serta terus diulang dan dicermati letak kesalahannya. Terus mengulangnya hingga menjadi salah satu memori permanen di otak akan sangat membantu proses belajar selanjutnya.

?

??????????????? Belajar Bahasa adalah Anjuran Agama

??????????????? Nabi Muhammad SAW merupakan pribadi yang amat terbuka pada kemajuan umat, salah satunya dalam hal pengembangan dakwah. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa beliau mengutus para sahabat untuk mempelajari bahasa Hebrew atau Ibrani, yang notabene adalah bahasa pokok kitab Injil. Nabi mengutus hal ini agar para sahabat mampu menyampaikan Islam sesuai dengan bahasa kaum yang dituju. Kesamaan bahasa merupakan salah satu pemberi rasa nyaman tersendiri dalam sebuah komunikasi masyarakat. Terlepas dari niat dakwah itu sendiri, tentunya akan timbul interaksi antar kaum yang dapat meningkatkan kerjasama dalam banyak hal, seperti ekonomi dan pembangunan. Agama tidak berhak menghalangi minat belajar seseorang.

??????????????? Ketika Anda ingin lebih mendalami bahasa lebih jauh, prinsip-prinsip di atas akan menjadi hal yang penting untuk tetap dicermati. Penambahan dan praktek perbendaharaan kata, pencermatan dalam penyusunannya, serta pembiasaan diri, adalah prinsip-prinsip belajar bahasa yang diaktualisasikan dalam keuletan dan percaya diri. Belajar bahasa memiliki banyak sekali keuntungan, terutama untuk pemuda yang sedang dalam masa studi sekolah maupun kuliah. Baik melalui kursus maupun belajar otodidak, prinsip-prinsip tersebut amatlah penting.

??????????????? Tulisan ini mencoba memberi sedikit warna dalam proses pembelajaran bahasa kita. Untuk Anda yang saat ini sedang belajar berbahasa, semoga ribuan kebaikan dan kemuliaan sebagai manfaat belajar bahasa, dapat menerangi langkah Anda di masa depan.

  • view 258