DHUHA DI MADINAH

Muhammad Iqbal
Karya Muhammad Iqbal Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 September 2018
DHUHA DI MADINAH

Ramadhan pagi di kota Madinah memiliki ciri khas tersendiri, udara yang panas namun sedikit tidak terasa karena sejuknya perilaku orang-orang di kota, apalagi jika sudah memasuki Masjid Nabawi, panasnya cuaca benar-benar hilang dengan adanya penyejuk ruangan yang memenuhi tiang-tiang masjid yang mulia ini. Di pagi itu entah mengapa telingaku seakan dibisiki sebuah doa, doa yang sangat tidak asing kudengarkan sebelumnya:

اللهم طهر قلوبنا من النفاق وأعمالنا من الرياء وألسنتنا من الكذب...

Sejak keluar dari hotel hingga memasuki pintu masjid Nabawi, doa itu terngiang dengan jelas di telinga. Entah apa sebabnya.

.

.

Masjid Nabawi di waktu dhuha Ramadhan sedikit lengang, mungkin orang-orang masih tertidur lelah karena memanfaatkan sebaik mungkin malam-malam di bulan Ramadhan untuk beribadah dan tilawah, maka ayah dan ibuku mengajakku untuk memanfaatkan kelengangan ini dengan shalat dan berdoa di Raudhoh, lalu dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sayyidina Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam, ya mungkin memang dhuha waktu yang paling tepat, karena kelengangan akan menyebabkan kita bisa berlama-lama berdoa di raudhoh tanpa perlu takut diusir karena harus bergantian, dan bisa berjalan dengan tenang tanpa perlu berdesakan ketika ziarah ke makam manusia yang paling mulia Shallallahu'alaihi wasallam

.

.

Lagi, doa "اللهم طهر قلوبنا من النفاق وأعمالنا من الرياء وألسنتنا من الكذب" berlalu di sekitar hati, sambil berjalan menuju Raudhoh aku berusaha mengingat sebenarnya siapa yang sering melafadzkan doa seperti ini, setelah berusaha sedikit berkeliling dan menggali memori aku pun ingat, ya, itu adalah doa yang sering dibacakan oleh seorang ustadz tamatan Suriah yang mengajarkan hadits-hadits Sayyidina Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam, Ustadz Ahmad Slamet Ibnu Syam namanya. Suara beliau dan nasihat beliau pun terbayang di pikiranku, hingga aku pun bergumam: "ah, andai saja bisa bertemu beliau di kota suci ini"

.

.

"Subhanallah!", ucapku dalam hati ketika kaki melangkah memasuki area Raudhoh ada sesorang berjaket dan berpeci hitam yang sedang shalat, ya, ternyata ustadz Ahmad Slamet ada disitu, entah mengapa aku ingin terbang rasanya, baru saja terpikirkan sosok beliau tiba-tiba beliau ada di depan mata, ini seperti mimpi!. Sedikit sabar, aku tunggu beliau untuk rukuk, itidal, sujud, duduk diantara dua sujud, kembali sujud, hingga akhirnya membaca tahiyat akhir dan menolehkan kepala ke kanan dan kiri seraya mengucapkan salam, tanda shalat selesai. Spontan langsung aku duduk dihadapan beliau, meraih tangan beliau untuk dicium dan berkata: "Assalamualaikum ustadz, saya santri DaQu", dengan ekspresi kaget bercampur raut wajah yang sedikit terburu-buru, beliau berkata: " MasyaAllah, ente disini, doain saya ya...", beliau beranjak pergi dan hatiku sumringah mendengar kalam beliau.

.

.

3-4 hari berlalu, saatnya pindah ke kota Makkah untuk melaksanakan ibadah inti dari perjalanan ini, umrah. Setelah menjalani semua proses seperti ihram, thawaf dan sai secara sempurna, aku dan ayahku mencoba menandai suatu tempat di lantai 2 masjidil haram untuk selalu itikaf dan shalat di tempat yang sama hingga akhir perjalanan kami di kota suci ini. Selama di tempat itu aku dan ayah duduk-duduk bersama seorang polisi baik hati dari negeri Qatar dan bapak tua dari Mesir, setiap hari.

.

.

Entah zuhur di hari ke berapa kami di Makkah, tiba-tiba aku lupa jalan menuju lokasi yang sudah aku dan ayah tandai, dengan sedikit panik, aku kelilingi lantai 2 masjidil haram yang berlantai warna putih itu. Namun mengejutkan, tiba-tiba aku kembali bertemu Ustadz Ahmad Slamet! Kudatangi beliau dan kucium tangannya, kali ini beliau ingat siapa aku: "MasyaAllah, ketemu lagi, sini duduk dulu kita ngobrol...". Cukup lama, sekitar setengah jam aku, beliau dan seorang teman beliau bercengkrama, hingga akhirnya duduk-duduk itu diakhiri dengan foto bersama.

.

.

Ya, berawal dari 2 pertemuan singkat di kota suci, semenjak itu beliau sering memanggilku ke kantornya, sekedar ngobrol dan bercanda atau bahkan makan bersama. Ketika mengabdi bahkan aku diajak kemana pun beliau mengangkat kakinya, sebuah rezeki yang tidak terkira, karena dengan membersamai beliau lah aku mendapatkan banyak hal yang tidak bisa kudapatkan dengan duduk di kelas atau masjid. Dengan keilmuan yang tinggi  namun rasa rendah hati yang selalu membersamai, beliau selalu berhasil membuat semua orang senang untuk mengobrol dan akrab. Masa-masa yang indah, apalagi beliau selalu memaafkan aku yang sering kurang adab dihadapan beliau dan tetap membiarkanku untuk membersamai beliau

.

.

Waktu berlalu hingga akhirnya aku ingin melangkah menuju jenjang kuliah. Cukup lama berdiskusi dengan beliau masalah kemana aku akan melangkah, akhirnya beliau berkata: " Ente kalo mau kayak saya, belajar deh di STAI Imam Syafii Cianjur, bahkan ane jamin ente bisa lebih hebat dari ane, gausah ke ******* ya, cobain dulu daftar di Cianjur ". Mengiyakan apa yang beliau nasihatkan, aku mendaftar dan ternyata diterima, berkat doa dan dukungan beliau serta orang tua pastinya. 

.

.

Ini lah aku sekarang, Alhamdulillah masih bertahan di STAI Imam Syafii Cianjur memasuki tahun belajarku yang ke 4. Selama 3 tahun sebelumnya aku selalu menyempatkan waktu setiap bulannya untuk mengunjungi beliau di pesantren, melepaskan rindu sekaligus berterima kasih karena sudah diarahkan ke tempat yang luar biasa, bagaimana aku bisa 24 jam bersama dengan guru-guru mulia lainnya. Beliau lah yang merubah pola pikirku, cara pandangku, memberikanku semangat untuk belajar sungguh-sungguh. Namun hari ini, sepertinya sulit untuk menemui beliau setiap bulannya, beliau pamit pergi meninggalkan pesantren yang sudah beliau tempati sekitar 6-7 tahun, Daarul Quran.

.

.

Dimana pun guruku berada, guruku tetaplah mutiara, berharga dan mahal bagi semua. Untuk sementara, biarlah doa menjadi pengganti menatap wajah teduhnya, jika sebulan sekali tak bisa, masih bisa diusahakan 6 bulan atau pun 1 tahun sekali saja. Sosokmu tak akan pernah sirna wahai guru, dimana pun, kapan pun, dengan siapa pun diriku duduk, aku akan menceritakan pada orang-orang tentang sosok dirimu, agar kita semua bisa mencontoh ilmu dan akhlakmu. Salam dari murid yang malu menampakkan air matanya di depanmu.

.

.

Patria Jaya,  01-09-2018, 11.06 Waktu Mengumpulkan Koper Untuk Menuntut Ilmu

  • view 148