Kamu kah dia?

Muhammad Iqbal
Karya Muhammad Iqbal Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2017
Kamu kah dia?

Syaikh Abdurrazzaq al-halaby, gurunya para ulama syam, yang beberapa tahun lalu meninggal dengan kondisi sedang membaca al-Quran (silahkan cari gambarnya di google) menjelaskan bahwa mimpi adalah 1/46 bagian dari sebuah kenabian. Hal itu disebabkan karena awal mula Rasulullah SAW diutus kenabiannya adalah lewat cara mimpi selama 6 bulan, dan hidupnya Rasulullah SAW di masa kenabian 23 tahun. Maka lahirlah angka 1/46 itu.

Rasulullah SAW pun juga sering bertanya kepada para sahabatnya di pagi hari, "adakah diantara kalian yang bermimpi tadi malam?" sebagaimana yang di sampaikan oleh Syaikh Fawwaz an-namr.

2 hal diatas setidaknya membuatku berpikir tentang apa yang terjadi di mimpiku. Karena bukan hal yang asing kalau mimpi mempunyai arti. Bahkan salah satu ulama legendaris Syam, Syaikh Abdul Ghani an-nabulsi menulis kitab tentang mimpi, juga beberapa ulama lainnya.

Malam ini bulan menyaksikan bahwa aku merindu, diranjang nomor 2, kamar nomor 2, asrama nomor 28 STAI Imam Syafii cianjur, malam itu aku membolak-balikkan tubuhku di atas kasur sambil membaca kitab fiqih kanzu raghibin (terpaksa, karena besoknya mau ditanya dosen), rinduku bukan pada wanita, tapi aku rindu pada guruku ustadz Yusuf Mansur, yang tanpanya aku tak mungkin bisa memulai langkah menuju tangga pendidikan agama.

Akhirnya aku download di malam itu murottal-murottal beliau, syahdu, aku teringat kembali masa-masa di awal pesantren saat gedung belum ada, debu dimana-mana, saat semua kondisi tak menentu itu sirna dengan mendengar suara beliau melantunkan murottal al-mulk yang fenomenalnya, yang mengawal keberangkatan santri dari asrama menuju masjid untuk shalat berjamaah. Kudengerkan murottal-murottal beliau sambil membaca fiqih lalu pindah ke ushul hingga akhirnya tidur datang menyusul.

Murottal itu ternyata mengantarkanku pada alam mimpi, kulihat aku berada pada sebuah bis yang di dalamnya banyak orang yang aku tak tahu mereka siapa dan menuju kemana, yang membuat aku senang adalah di bangku depan ada guruku, Ustadz Yusuf Mansur, senang bercampur malu aku pun menetap di kursi tengah, beda sekitar 4 kursi dari kursi beliau.

Namun tiba-tiba beliau melihat padaku, aku menunduk malu, aku tidak pernah berani memandang wajah ulama, tak kuat, karena ilmu dan taqwa para ulama membuat mereka mewariskan wibawa dari pimpinannya para Ulama SAW. Beliau pun memberi isyarat menyuruhku maju ke depan, perlahan tapi pasti aku maju ke depan dan mencium tangan beliau.

Beliau menyuruhku duduk di sebuah bangku kosong di depan, yang aku heran mengapa aku disuruh duduk di samping wanita berkerudung merah muda, kan bukan muhrim? Bagaimana ini? Melihat aku ragu-ragu beliau memberi isyarat lagi agar aku segera duduk, aku tak mau guruku mengira aku murid yang tak patuh, maka aku pun duduk di bangku itu tanpa melihat wajah sang wanita, si wanita pun wajahnya mengarah ke jendela.

Ustadz Yusuf kembali ke tempat duduknya yang berada di sebelah kananku sementar aku di tempat duduk seberang kiri beliau, wajahku memerah, beberapa tahun terakhir aku suka gemetaran dan salah tingkah jika berada dekat wanita. Entah mengapa. Tapi tak berapa lama ada yang berusaha mendorongku untuk menyapa sang wanita, nafsu dan jiwa saling bertarung di dalam diri, antara takut dan berani, sekalian lama bertarung akhirnya sang berani menang, aku pun mengucapkan salam kepada wanita itu sambil mengumpulkan kekuatan supaya tidak mati. Jengjeng!! Wanita itu berbalik badan dan aku mengenalnya! Kami satu angkatan dan satu almamater, hanya beda lokasi saja, aku kenal baik tapi tak terlalu akrab, yaa biasa saja. Yang aku heran mengapa Ustadz YM menyuruhku duduk di samping dia? Untuk apa? Ustadz YM pun menoleh sambil tersenyum.

Aku mencoba untuk bangun dari kursiku dan ingin bertanya pada beliau apa maksudnya aku didudukkan di sampingnya, namun tiba-tiba aku seperti masuk ke dalam black hole, segalanya berubah menjadi hitam, seperti menembus lorong waktu aku seperti terbang tak berarah hingga akhirnya tiba di ranjangku, aku terbangun, ternyata suara murottal Masjid Jamiah Imam Syafii telah mengetuk ranjangku, mengingatkan bahwa jam menunjukkan pukul 3.50, 30 menit lagi waktunya bertemu Tuhanku.

Aku segera bangkit dari kasurku lalu segera berjalan dalam keadaan setengah sadar menuju ke kamar mandi untuk membersihkan gigiku sambil berwudhu, selepas itu kucari gelas dan air panas untuk menemani munajatku sebelum waktu subuh ini. Kugelar sajadahku di suasana kamar yang masih gelap, aku mencoba tenggelam bermunajat padaNya dengan penuh takut dan harap.

 
Usai mengajak sendi-sendiku beribadah, aku angkat tanganku untuk mendoakan diri, orang tua, guru-guru, keluarga, dan teman-temanku, kuucapkan pada sang Pemilik Alam Semesta agar selalu menjaga aku dan mereka semua, agar selalu dimudahkan segala hajat dan keinginan akhirat dan dunia, agar semuanya bisa kembali duduk bersama di surga bersama Sang Nabi Idola, Sayyidina Muhammad, dan doa-doa lainnya yang kupanjatkan untuk mereka.

Setelah itu akupun berpikir, apa aku harus mendoakan kamu yang ada di  mimpiku? Ah aku bingung, sebenarnya apa arti dari semua mimpi itu? Apakah mimpi itu tandanya bahwa kamu yang di dudukan Ustadz YM disampingku adalah "dia" yang selama ini kucari dan kutunggu? Kamu hafidzah, cerdas, aktif, pandai pula menjaga sikap depan para pria, tak mudah bicara pada pria, siapa juga yang tak mau berbagi hidup denganmu. Ahh sudahlah, aku tak tahu, tulang rusuk tidak akan tertukar bukan? Biarlah aku mengubur dalam-dalam dulu apa yang terjadi dalam mimpiku.
Biarlah tulisan ini kelah menjadi saksi apakah kamu hanya sebuah mimpi biasa yang mampir begitu saja, atau ternyata kamu lah "dia"?

Pesanku untukmu, jika memang kamu yang akan menjadi bagian di hidupku nanti  berjanjilah agar menemaniku  mencari jalan menuju Rabb-ku, temani aku mencari cara agar terkenal diantara para penduduk langitNya, ajari aku untuk menjadikan cintaku padamu sebagai perantara ungkapan cintaku padaNya. 

Untuk yang baca tulisanku jangan baper ya, simpan dulu pipi merahmu, siapa tau jika kisahku hanya mimpi semu pipi merah itu akan bersentuhan dengan mushaf merahku ;)

Cianjur, 13 November 2017. 14.17

  • view 102