Ketidakadilan Gender Dalam Kumpulan Cerpen Wasiat Kemuhar Karya Pion Ratuloy.

Ketidakadilan Gender Dalam Kumpulan Cerpen Wasiat Kemuhar Karya Pion Ratuloy.

IPMAL KUPANG
Karya IPMAL KUPANG Kategori Lainnya
dipublikasikan 22 Mei 2018
Ketidakadilan Gender Dalam Kumpulan Cerpen Wasiat Kemuhar Karya Pion Ratuloy.

PROPOSAL SKRIPSI

KETIDAKADILAN GENDER DALAM KUMPULAN CERPEN  WASIAT KEMUHAR KARYA PION RATULOLY: KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINIS

 

OLEH

 

ABDURAHMAN HARYADI JUMADI

1422111002

 

 

 

 

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUPANG

2018

LEMBARAN PERSETUJUAN

KETIDAKADILAN GENDER DALAM KUMPULAN CERPEN WASIAT KEMUHAR KARYA PION RATULOLY : KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINIS

 

PROPOSAL SKRIPSI

 

Disusun oleh :

 

ABDURAHMAN HARYADI JUMADI

1422111002

 

 

Proposal ini telah dipertanggungjawabkan di depan dewan penguji

Pada hari :                    ,tgl       ,April, 2018

 

        Pembimbing I                                                                                      Pembimbing II

 

 

Dra. Siti Rodliyah, M. Hum                                                             Siti Susanti M. Djaha, S.S, M.A

NIDN: 0907026902                                                                          NIDN: 0816108902

 

 

Mengetahui

Ketua Prodi PBSI

 

 

 

Dra. Siti Rodliyah, M. Hum

NIDN: 0907026902

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Karya sastra merupakan suatu gambaran atau cerminan kehidupan masyarakat secara sosial maupun kultural pada masa di mana karya sastra itu tercipta. Kehidupan manusia menjadi obyek sebuah karya diungkapkan dengan nilai yang terkandung di dalam kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. (Endraswara, 2003 : 59). Karya sastra mampu menjadikan manusia memahami dirinya dengan kemanusiaannya. Sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia, dan masyarakat melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).

Salah satu betuk karya sastra adalah cerpen. Cerpen merupakan suatu genre karya sastra yang menampilkan kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antara masyarakat dengan orang-orang, antara manusia dengan peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang (Damono, 1978 : 1).

  Karya sastra sering memunculkan perempuan sebagai fokus pembicaraan. Sebuah karya sastra, khususnya yang berupa novel atau cerpen dapat mengenal kehidupan perempuan dengan segala tantangan dan permasalahan yang ada di dalam lingkungan. Dalam realitanya kehidupan telah membuka tabir bahwa unsur feminis telah terkotak sebagai dasar pembagian fungsi antara jenis kelamin dalam berbagai segi. Dengan anggapan tersebut akhirnya  kaum perempuan bangkit dan timbulah suatu gerakan yang disebut feminisme yang menghendaki kesamaan hak dan kewajiban (Endraswara, 2003 :62).

Hal ini tidak terlepas dari perkembangan karya sastra yang banyak mengangkat tema-tema “ketidakadilan gender”, sehingga muncullah aliran kritik sastra baru yang disebut kritik sastra feminis. Menurut Sugihatuti dan Suharto, (2002: 18 ), Kritik sastra feminis merupakan studi sastra yang mengarahkan fokus analisisnya kepada perempuan. Jika selama ini dianggap dengan sendirinya bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra barat ialah laki-laki, kritik sastra feminis menunjukan bahwa perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya.  

Salah satu karya cerpen yang menarik untuk dikaji adalah Wasiat Kemuhar. Wasiat Kemuhar Merupakan sebuah buku kumpulan cerpen karya terbaru Pion Ratuloli yang terbit pada tahun 2015. Buku ini berisikan lima belas cerpen. Beberapa cerpen yang ada di dalam buku ini pernah dimuat di beberapa harian surat kabar lokal seperti Pos Kupang, Timor Express, Victory News dan beberapa media lokal lainnya.

Pion Ratuloly, nama pena dari Muhammad Soleh Kadir, adalah sastrawan muda NTT yang lahir pada tanggal 31 Desember 1986. Menyelesaikan studi sarjana pendidikan di Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Nusa Cendana Kupang. Ia turut memprakarsai beberapa komunitas sastra yaitu Rumah Poetika, Laskar Sastra dan Dusun Flobamora. Novel “AtmaPutih Cinta Lamahala Kupang adalah buku pertamanya. Cerpen Tanam Pinang Tumbuh Gading masuk dalam antologi cerpen Ujung Laut Pulau Marwah, cerpennya termaktub pula dalam buku Kematian Sasando: Antologi Cerpen Sastrawan NTT. Puisinya masuk dalam buku Senja di Kota Kupang: Antologi Puisi Sastrawan NTT. Prolog dan puisi-puisinya masuk dalam buku Tanah Ketuban: Antologi Puisi Penyair Muda Lamahala.

Kumpulan cerpen  Wasiat Kemuhar ini dipilih sebagai bahan analisis karena dalam buku ini banyak memuat cerpen-cerpen yang bertemakan tentang tokoh yang berjenis kelamin perempuan.   Wasiat Kemuhar dipilih menjadi bahan analisis dibandingkan dengan karya Pion Ratuloly yang lain karena Wasiat Kemuhar merupakan karya terbaru dari Pion Ratuloly yang baru dipublikasikan pada tahun 2015. Hal ini menjadi alasan karena belum ada analisis terhadap karya terbaru Pion Ratuloly ini khususnya analisis pada ketidakadilan gender.

Di antara kelima belas cerpen dipilih tiga buah cerpen untuk dianalisis yakni Bermula Dari Rahim Ina Rotok, Aroma Bau Lolon, dan Lelaki Bertahilalat di Pinggang. Ketiga cerpen tersebut dipilih penulis karena lebih mendominasi masalah ketidakadilan gender, seperti tampak pada cerita ketiga cerpen tersebut yakni perempuan selalu mengalami diskriminasi, dianggap tidak penting dalam mengambil sebuah keputusan bahkan ketika perempuan mengalami kekerasan sesksual masyarakat cenderung menyalahkan korbannya karena dianggap perempuan bersolek memancing perhatian lawan jenisnya.

Konsep gender menurut Fakih (1997 :8), dijelaskan sebagai suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Sejarah perbedaan gender antara manusia laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang, sehingga terbentuknya perbedaan gender karena banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial, dan  kultural melalui ajaran keagamaan bahkan negara. Sosialisasi tersebut akhirnya dianggap ketentuan Tuhan, seolah-olah bersifat biologis yang tidak dapat diubah. Sebaliknya, kontsruksi sosial tentang gender dengan dialektika akhirnya tersosialisasikan secara evolusional dan perlahan-lahan mempengaruhi biologis masing-masing jenis kelamin.

Permasalahan yang dihadapi wanita terutama yang menyangkut gender ini merupakan kenyataan sosial yang dihadapi oleh wanita tidak hanya di Indonesia tapi juga diseluruh dunia. Dari kenyataan sosial yang dihadapi manusia khususnya wanita memberikan ilham kepada sastrawan untuk menuangkan ke dalam karya sastra.

Ketidakadilan gender terhadap perempuan dapat disebabkan oleh pandangan masyarakat yang terkadang menganggap kaum perempuan sebagai warga kelas dua sehingga secara tidak langsung dapat memberikan dampak buruk terhadap kaum perempuan. Pandangan tersebut dapat berasal dari budaya patriarki, yaitu budaya yang menyatakan bahwa kaum laki-laki dapat mengontrol kaum perempuan. Pada umumnya, masyarakat Indonesia menganut budaya patriarki sehingga terjadilah pertentangan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam berbagai aspek kehidupan (Syukri, 2002:12).

Gender perempuan  identik dengan lembut, keibuan dan penuh kasih sayang. Feminis tentu saja mendebat keras pandangan realisme yang terus memandang lelaki sebagai faktor utama dan maskulinitas menjadi titik utama bahasannya. Sekarang, tergantung dunia memberikan kesempatan bagi perempuan untuk memberikan perdamaian dunia (Nurgiantoro, 1995:8-9).

               Kegiatan menganalisis karya Pion Ratulolly adalah upaya untuk mengapresiasi karya karya sastrawan muda Nusa Tenggara Timur (NTT). Hasil dari penelitian ini tentunya dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran sastra di sekolah yakni tentang bagaimana memahami masalah ketidakadilan gender yang diangkat penulis dalam karya-karya sastranya.       

Dari latar belakang masalah yang dikemukakan diatas mengenai ketidakadilan gender dalam buku kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar, peneliti ingin mengungkapkan lebih jauh masalah gender dengan tinjauan sastra feminis dengan judul : “Ketidakadilan Gender dalam Kumpulan Cerpen Wasiat Kemuhar Karya Pion Ratuloly : Kajian Kritik Sastra Feminis”.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimanakah ketidakadilan gender dalam kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar Karya Pion Ratuloly”?

1.3 Tujuan Penelitian

   Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ketidakadilan gender dalam kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar Karya Pion Ratuloly.

1.4 Manfaat Penelitian

Peneliti berharap hasil penelitian ini akan mempunyai manfaat baik secara teoritis maupun praktis.

  1. Manfaat teoritis penelitian ini adalah memberikan masukan pengetahuan tentang prasangka gender yang bukan hanya terjadi di dunia empiris namun juga pada dunia literal dalam hal ini karya sastra.
  2. Manfaat praktis, antara lain
  3. Bagi penulis dapat memperkaya daya analisis dalam mengkaji ketidakadilan gender dalam kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar Karya Pion Ratuloly.
  4. b) Bagi Pembaca sebagai bahan pengetahuan bagi penikmat karya sastra khususnya pada penikmat dalam kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar Karya Pion Ratuloly.
  5. c) Bagi pelajaran di sekolah dapat mengambil informasi dalam cerpen ini untuk dijadikan materi pelajaran sastra disekolah.
  6. d) Bagi siswa dapat memetik pelajaran yang berharga dalam cerpen ini.

 

BAB  II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Pendekatan

            Pendekatan merupakan usaha dalam proses penelitian untuk mendekati objek penelitian melalui sudut pandang atau cara pandang tertentu. Pendekatan ini menggunakan pendekatan kritik sastra feminis untuk mengkaji ketidakadilan gender dalam kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar Karya Pion Ratuloly. Dalam analisis gender kritikus harus dapat membedakan konsep gender dengan seks (jenis kelamin).

            Kritik sastra feminis adalah salah satu kajian sastra yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan gender dalam memandang eksistensi perempuan, baik sebagai penulis dalam karya-karya sastranya maupun sebagai pembaca/penikmat.

            Dasar pemikiran dalam penelitian sastra feminis yaitu upaya pemahaman kedudukan perempuan dan peran perempuan seperti yang tercermin dalam karya sastra. Peran dan kedudukan perempuan tersebut akan menjadi sentral dalam pembahasan ini. Penelitian ini akan memperhatikan dominasi laki-laki atau gerakan perempuan.

2.2 Kritik Sastra Feminis

            Kritik sastra feminis merupakan salah satu ilmu disiplin sebagai respon atas berkembang luasnya feminisme diberbagai penjuru dunia. Menurut Sugihastuti dan Suharto (2002 : 27), kritik sastra feminis berawal dari hasrat feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita pada masa silam untuk menunjukan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan.

 Di dalam penelitian ini digunakan kritik sastra feminis karena kritik sastra ini melibatkan wanita dalam kisahnya. Kritik sastra feminis dalam penelitian ini digunakan untuk membahas tentang wanita dalam karya sastra.

Kritik sastra feminis ini juga meneliti kesalahpahaman tentang wanita dan sebab-sebab mengapa wanita sering tidak diperhitungkan, bahkan nyaris diabaikan dalam kritik sastra. Pada dasarnya ragam kritik sastra feminis ini merupakan cara menafsirkan suatu teks, yaitu satu diantara banyak cara yang dapat diterapkan untuk teks yang paling rumit sekalipun. Cara ini bukan saja memperkaya wawasan para pembaca wanita, tetapi juga membebaskan cara berpikir mereka (Pradopo, 1995 : 28).

Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan laki-laki. Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan ini mencakup berbagai cara. Salah satu caranya adalah memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki. Berkaitan dengan itu maka munculah istilah equal right’s movement atau gerakan persamaan hak. Cara ini adalah membebaskan perempuan dari ikatan lingkungan domestik atau lingkungan keluarga dan rumah tangga (Sugihastuti, 2002 :4).

Dalam arti leksikal, feminisme ialah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Feminisme ialah teori tentang persamaan laki-laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, sosial, atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita (Sugihastuti, 2002 : 37).

Dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada wanita. Menurut Fakih (1997 :20), paham feminis itu menyangkut soal politik, sebuah politik yang langsung mengubah hubungan kekuatan kehidupan antara pria dan wanita dalam masyarakat. Kekuatan ini juga menyangkut semua struktur kehidupan, segi-segi kehidupan, keluarga, pendidikan kebudayaan, dan kekuasaan. Segi-segi kehidupan yang menetapkan siapa, apa, dan untuk siapa, serta akan menjadi apa wanita itu.

            Kritik sastra feminis memusatkan analisis dan penelitiannya pada wanita seperti terlukis dalam budaya pria. Teks dibaca sebagai hasil budaya dari sistem patriakal. Para pelopor melihat bahwa sesungguhnya peran dan status wanita itu ditentukan oleh jenis kelamin, itulah sebabnya, dalam konteks politik seksual, perlu dipertimbangkan hubungan antara teks karya dengan jenis kelamin penulisnya (Pradopo, 1995 :36 ).

2.3 Konsep Gender

Kata gender dalam istilah bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, yaitu ‘gender’. Istilah gender pertama kali diperkenalkan oleh Robert Stoller untuk memisahkan pencirian manusia yang didasarkan pada pendefinisian yang bersifat sosial budaya dengan pendefinisian yang berasal dari  ciri fisik biologis. Dalam ilmu sosial orang yang juga sangat berjasa dalam mengembangkan istilah dan pengertian gender ini adalah Ann Oakley. Sebagaimana Stoller, Oakley mengartikan gender sebagai konstruksi sosial atau atribut yang dikenakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia (Nugroho, 2011)

            Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan kata seks (jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya, bahwa manusia jenis kelamin laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jekala (kala menjing) dan memproduksi sperma. Adapun perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki vagina dan mempunyai alat menyusui, Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis perempuan dan laki-laki selamanya. Artinya secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara alat biologis yang melekat pada manusia laki-laki dan perempuan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau kodrat (Fakih, 1996 :7-8).

            Adapun konsep gender yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikontruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan perkasa. Ciri dari sifat itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, dan keibuan sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain. Itulah yang dikenal dengan konsep gender (Syukri, 2002 :8-9).

            Budiman (1985 :12-13), mengemukan bahwa untuk memahami bagaimana perbedaan gender menyebabkan ketidakadilan gender dapat dilihat melalui berbagai manifestasi ketidakadilan yang ada. Ketidakadilan gender dimanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yakni : marginalisasi atau proses kemiskinan, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender.  Budiman menambahkan, dari  perbedaan gender melahirkan ketidakadilan:

  1. Marginalisasi Perempuan

Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan, sesungguhnya banyak terjadi dalam masyarakat di negara berkembang seperti penggusuran, bencana alam atau proses eksploitasi. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki-laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender (Syukri, 2002 : 13). Sebagai contoh, banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti intensifikasi pertanian yang hanya memfokuskan pada petani laki-laki. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang umumnya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. Misalnya,  di Jawa revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang tumbuh lebih rendah dan panennya menggunakan sabit, tidak memungkinkan lagi panenan dengan ani-ani, padahal alat tesebut melekat dan digunakan oleh kaum perempuan. Akibatnya banyak kaum perempuan miskin didesa termarginalisasi, yakni semakin miskin dan tidak  mendapatkan pekerjaan di sawah pada musim panen. Hal ini berarti revolusi hijau dirancang tanpa mempertimbangkan aspek gender.

  1. Subordinasi Perempuan

Secara pandangan gender ternyata dapat menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu makhluk yang emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting (Fakih, 1996 :15). Subordinasi muncul dengan anggapan bahwa peran perempuan tidak penting, misalnya dalam pekerjaan. Adanya stereotipe yang menentukan bahwa tugas utama perempuan sebagai ibu rumah tangga dan laki-laki sebagai pencari nafkah. Anggapan bahwa penghasilan perempuan adalah penghasilan tambahan atau sambilan dan cenderung tidak dihitung, dan tidak dihargai. Dalam rumah tangga masih sering terdengar jika keuangan keluarga sangat terbatas, dan harus mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak-anaknya, maka anak laki-laki mendapatkan prioritas utama. Praktik seperti itu sesungguhnya berangkat dari kesadaran gender yang tidak adil.

  1. Stereotipe Perempuan

                 Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu, stereotipe selalu berdampak merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Salah satu jenis stereotipe itu adalah yang bersumber dari pandangan gender. Banyak sekali ketidakadilan terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan, yang bersumber dari penandaan (stereotipe) yang diletakan pada mereka. Misalnya, penandaan yang berawal dari asumsi bahwa perempuan bersolek adalah dalam rangka memancing perhatian lawan jenisnya, maka setiap ada kasus kekerasan atau pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan stereotipe ini. Bahkan jika ada pemerkosaan yang dialami oleh perempuan, masyarakat berkecenderungan menyalahkan korbannya. Stereotipe terhadap kaum perempuan ini terjadi dimana-mana. Banyak peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kultur dan kebiasaan masyarakat yang dikembangkan karena stereotipe tersebut (Budiman, 1985 : 16-17).

  1. Kekerasan terhadap Perempuan (violence)

Menurut (Fakih, 1997 : 17-20) kekerasan (violence) adalah serangan atau invasi (assault) terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Pada dasarnya kekerasan gender disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat. Banyak bentuk kejahatan yang dikategorikan sebagai kekerasan gender, di antaranya:  Pertama, bentuk pemerkosaan terhadap perempuan, termasuk pemerkosaan dalam perkawinan. Pemerkosaan terjadi jika seseorang melakukan paksaan untuk mendapatkan pelayanan seksual tanpa kerelaan yang bersangkutan. Kedua, tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga (domestik violence). Ketiga, bentuk penyiksaan yang mengarah pada organ alat kelamin (genital mutilation), misalnya penyunatan pada anak perempuan. Hal ini terjadi karena bias gender di masyarakat. Penyunatan dilakukan dengan tujuan untuk mengontrol kaum perempuan. Hal ini dilakukan agar perempuan tunduk dan menurut tanpa reserve pada suami apa pun yang dilakukan suami. Keempat, kekerasan dalam bentuk pelacuran (Prostitusion). Pelacuran merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan yang diselenggarakan oleh suatu mekanisme ekonomi yang merugikan kaum perempuan. Kelima, kekerasan dalam bentuk pornografi. Jenis kekerasan ini adalah nonfisik, yaitu pelecehan terhadap perempuan demi keuntungan seseorang. Keenam, kekerasan dalam bentuk pemaksaan sterilisasi dalam Keluarga Berencana (enforce sterilization). Keluarga Berencana di banyak tempat ternyata telah menjadi sumber kekerasan terhadap perempuan. Ketujuh, kekerasan terselubung (molestation), yaitu menyentuh bagian tertentu dari tubuh perempuan tanpa kerelaan si pemilik tubuh. Jenis kekerasan ini sering terjadi di tempat kerja dan di tempat umum, seperti di dalam bus atau kendaraan umum. Kedelapan, tindakan kejahatan terhadap perempuan yang paling umum dilakukan di masyarakat yakni pelecehan seksual (sexsual and emosional harassament), bentuk pelecehan seperti ini yang banyak terjadi adalah dalam bentuk unwanted attention from men.

Ada beberapa bentuk yang bisa dikategorikan pelecehan seksual, di antaranya:

  1. menyampaikan lelucon jorok secara vulgar;
  2. menyakiti atau membuat malu seseorang dengan omongan kotor;
  3. menginterogasi seseorang tentang kehidupan dan kegiatan seksualnya serta pribadinya;
  4. meminta imbalan seksual, dalam rangka janji untuk mendapatkan pekerjaan  atau promosi;
  5. menyentuh atau menyenggol bagian tubuh tanpa izin yang bersangkutan.
  6. Beban Kerja Perempuan

                  Gender dan beban kerja beranggapan bahwa kaum perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum perempuan. Konsekuensinya, banyak kaum perempuan  yang harus bekerja keras dan lama untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah tangganya, mulai dari membersihkan dan mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari air untuk mandi hingga memelihara anak. Di kalangan keluarga miskin beban yang sangat berat ini harus ditanggung oleh perempuan sendiri, terlebih-lebih jika siperempuan harus bekerja,  maka ia memikul beban kerja ganda (Sugihastuti, 2002 : 21-22).

Gender mengakibatkan beban kerja tersebut sering kali diperkuat dan disebabkan oleh adanya pandangan atau keyakinan di masyarakat bahwa pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti semua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan laki-laki serta dikategorikan sebagai bukan produktif (Fakih, 1997 : 21).

Dari kelima manifestasi ketidakadilan gender tersebut saling  berkaitan dan secara sealektika saling mempengaruhi. Manifestasi ketidakadilan itu tersosialisasi kepada kaum laki-laki dan perempuan secara mantap, yang lambat laun akhirnya baik laki-laki maupun perempuan menjadi terbiasa dan akhirnya dipercaya bahwa peran gender itu seolah-olah merupakan kodrat. Lambat laun terciptalah suatu stuktur dan sistem ketidakadilan gender yang diterima suka dan tidak lagi dapat dirasakan lagi ada sesuatu yang salah. Ketidakadilan terhadap perempuan dalam pembagian kerja dengan hak-hak yang diterima.

Perbedaan itu sangat penting, karena selama ini seringkali mencampur adukan ciri-ciri manusia yang bersifat kodrat dan tidak berubah dengan ciri-ciri manusia yang bersifat gender yang sebenarnya bisa berubah. Perbedaan peran gender ini sangat membantu untuk memikirkan kembali tentang pembagian peran yang selama ini telah melekat pada perempuan dan laki-laki. Perbedaan gender dikenal sebagai sesuatu yang tidak tetap, tidak permanen, memudahkan untuk membangun gambaran tentang realitas relasi perempuan dan laki-laki yang dinamis yang lebih tepat dan cocok dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat.

Perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi bahkan ruang tempat dimana manusia beraktifitas, sedemikian itu rupanya perbedaan peran gender itu melekat pada cara pandang masyarakat, sehingga masyarakat sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana permanen dan abadinya ciri-ciri biologis yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki. Secara sederhana perbedaan gender telah melahirkan perbedaan peran (Syukri, 2002 : 12-13).

  • Pengertian Cerpen

Sumardjo dan Saini K.M. (1994 : 30) mendefenisikan cerpen berdasarkan makna katanya, yaitu cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Kata “pendek” dalam batasan ini tidak jelas ukurannya. Ukuran pendek disini diartikan sebagai: dapat dibaca sekali duduk dalam waktu  kurung dari satu jam. Dikatakan pendek juga karena genre ini hanya mempuyai efek tunggal, karakter, plot, dan setting yang terbatas, tidak beragam dan tidak kompleks.

Menurut Rahmanto dan Hariyanto (1998 : 126) mengemukakan bahwa ciri khas dalam suatu cerpen bukan menyangkut panjang pendeknya tuturan, berapa jumlah kata dan halaman untuk mewujudkannya, tetapi terlebih pada lingkup permasalahan yang ingin disampaikan. Lebih lanjut Rahmanto dan Hariyanto  (1998 : 129) menegaskan bahwa suatu karya sastra dapat digolongkan ke dalam bentuk cerpen apabila kisahan dalam cerpen tersebut memberikan kesan tunggal yang dominan, memusatkan diri pada suatu tokoh atau beberapa orang dalam satu situasi, dan pada satu saat. Kriterianya bukan berdasarkan panjang pendeknya halaman yang di pergunakan, tetapi lebih pada peristiwa yang tunggal, dan diarahkan pada peristiwa yang tunggal itu.

Sumardjo dan Saini K.M. (1994 : 37) meninjau pengertian cerpen berdasarkan sifat rekaan dan sifat naratif atau penceritaan. Dilihat dari sifat rekaan, cerpen bukan penutur kejadian yang pernah terjadi, berdasarkan kenyataan kejadian yang sebenarnya, tetapi murni ciptaan saja yang direka oleh pengarangnya. Meskipun demikian, cerpen ditulis berdasarkan kenyataan kehidupan. Dalam membaca cerpen pembaca tidak sekedar membaca kisah lamunan, tetapi dapat menghayati pengalaman dari cerita yang disajikan serta ikut mengalami peristiwa-peristiwa, perbuatan-perbuatan, pikiran dan perasaan, keputusan-keputusan, dan dilema-dilema yang tampak dalam cerita. Sementara itu dilihat dari sifat naratif atau penceritaan, cerpen bukanlah deskripsi atau argumentasi dan analisis tentang sesuatu hal, tetapi ia merupakan cerita.

 

BAB  III

METODE PENELITIAN

 

3.1 Rancangan Penelitian

            Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar karya Pion Ratuloly. Metode ini bertujuan untuk mengungkapkan berbagai informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal (individu atau kelompok). Keadaan fenomena tidak terbatas, dan tidak terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputi analisis dan interpretasi (Endraswara, 2003 :8).

            Menurut Nazir (1985 : 63)  bahwa metode kualitatif adalah metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu pemikiran atau kelas-kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian kualitatif, adalah untuk membuat deskripsi atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.

            Sejalan dengan Nazir, Moleong (1990 : 6) mengatakan bahwa salah satu ciri penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, dan bukan angka-angka. Dengan demikian penelitian kualitatif bersifat mendeskripsikan data-data tertulis, mengumpulkan masalah, keadaan dan fakta yang ada. Kemudian, data-data yang diambil suatu kesimpulan terakhir.

 

3.2  Data dan Sumber Data

3.2.1 Data

         Data yang diteliti dalam penelitian ini adalah kata-kata, kalimat, paragraf dan kutipan dari cerpen yang berkaitan dengan ketidakadilan gender dalam kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar karya Pion Ratuloly yang berkaitan: (1) marginalisasi, (2) subordinasi, (3) stereotipe,(4) kekerasan terhadap perempuan, (5) beban kerja ganda.

3.2.2 Sumber Data   

          Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar karya Pion Ratuloly, yang diterbitkan di Kupang oleh IRGSC Publisher tahun 2015 dengan tebal buku 134 halaman. Dalam rangka mempermudah penelitian, diambil tiga cerpen dari total lima belas cerpen yang ada di dalam buku kumpulan cepen Wasiat Kemuhar untuk di analisis. Cerpen yang dipilih tersebut adalah Bermula Dari Rahim Ina Rotok, Aroma Bau Lolon, dan Lelaki Bertahilalat di Pinggang.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik secara umum diartikan sebagai proses, cara atau prosedur yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Studi pustaka merupakan langkah awal  dalam metode pengumpulan data. Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data yang diarahkan kepada pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, foto-foto, gambar, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung dalam proses penulisan. Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada (Sugiyono, 2005 : 83), maka dapat dikatakan bahwa studi pustaka dapat mempengaruhi kredibilitas hasil penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini fokus pengumpulan data menggunakan sumber data yakni kupulan cerpen Wasiat Kemuhar karya Pion Ratuloly dengan teknik pengumpulan data kualitatif sebagai berikut:

  1. membaca secara berulang-ulang ketiga cerpen yang menjadi bahan analisis;
  2. memberi tanda pada bagian cerpen yang berkaitan dengan masalah  ketidakadilan gender;  
  3. mengumpulkan data; dan
  4. mensortir data

3.4 Teknik Analisis Data                                                   

  • Prosedur Analisis Data

   Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh penulis setelah menentukan teknik pengumpulan data adalah menentukan teknik analisis data. Terdapat bermacam teknik analisis data yang bisa dipakai dalam melakukan penelitian kualitatif . Berikut adalah teknik analisis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini, sebagai berikut: 

  1. mengidentifikasi semua data melalui membaca;
  2. mengklasifikasi data yang diperoleh sesuai kebutuhan;
  3. menganalisis data berdasarkan kebutuhan secara sistematis;

 

 

  1. membahas hasil analisis dengan kajian kritik sastra feminis terhadap cerpen yang dianalisis; dan

DAFTAR PUSTAKA

 

Budiman, Arief. 1985. Pembagian Kerja Secara Seksual: Sebuah Pembahasan Sosiologi Tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat. Jakarta: Gramedia

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra :Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Depdikbud.

Endraswara,  Suwardi. 2003. Metodologi penelitian sastra: epistimologi, model dan aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Widyatama

Fakih, Mansur 1996. Membincang Feminis: Diskursus Gender Prespektif Islam. Surabaya : Risalah Gusti,

  1. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Lexy J. Moleong. 1990. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja    Rosdak arya

Nazir, Muhammad. 1988. Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghailan Indonesia

Nugroho, D. R. 2011. Gender Dan Strategi Pengurus -Utamannya Di Indonesia.Yogyakarta: PUSTAKA. Jurnal Humanika. No. 15, Vol. 3, Desember 2015 / ISSN 1979-8296

Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra: Metode Kritik dan Penerapannya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Rahmanto, B dan Hariyanto, P. 1998. Materi Pokok Cerita Rekaan dan Drama. Jakarta: Depdikbud

Ratuloly, Pion. 2015. Wasiat kemuhar. Kupang. IRGSC Publisher

Sugihastuti, 2000.  Feminisme dan Sastra.  Bandung: Katarsis.

Sugihastuti dan suharto. 2002. Krtitik Sastra Feminis:Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sugiyono, S. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Sumardjo, Yakob dan Saini, K.M. 1994.Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia

Syukri. 2002. Pemahaman Islam dan Tantangan Keadilan Gender. Yogyakarta: Gama Media

  • view 38