IPMAL KUPANG HARUS LEBIH REPRESENTATIF DALAM MENCIPTAKAN SARJANA

IPMAL KUPANG
Karya IPMAL KUPANG Kategori Motivasi
dipublikasikan 25 Januari 2018
IPMAL KUPANG HARUS LEBIH REPRESENTATIF DALAM MENCIPTAKAN SARJANA

IPMAL KUPANG HARUS LEBIH REPRESENTATIF DALAM MENCIPTAKAN SARJANA
(Sebuah Proyeksi untuk Ketua IPMAL Terpilih Periode 2018/2019)

Di era milenial ini pertarungan intelektual menjadi pertarungan yang sesungguhnya bagi para akademisi, ditengah tugas dan tangung jawab sebagai kaum intelejensia para pemuda mahsiswa juga harus andil dalam segala bidang kehidupan demi mencapai jalan sukses.
Secara representatif jalan meuju suskses akan bermuara pada loyalitas seorang pemuda mahasiswa dalam pergerakan sebuah organisasi. Organisasi dipercaya sebagai solusi dalam menciptakan sarjana yang produktif dan itu terbukti dalam setiap generasi dari sebuah organisasi. namun, yang paling utama bagi mahasiswa adalah belajar dan lulus dengan prestasi terbaik dalam kampus atau menjadi bintang kampus.
Keinginan orang tua pada anaknya untuk sukses dalam dunia kampus menjadi hak pendidik bagi setiap orang tua demi amanah spiritualisme dan sosialisme, karena belajar dan lulus dengan perdikat terbaik dalam kampus juga impian dari setiap orang tua.
Konsep keutamaan kampus ditelan mentah oleh banyak orang tua yang akhirnya melepas anaknya kuliah tanpa pengawasan dalam rutinitas kampus sampai pada tingkat kepercayaan. Orang tua yakin dengan kemandirian seorang anak yang sebenarnya ilmunya hanya dirampung dari dunia kampus.
Kampus merupakan wadah akademis unutuk para mahasiswa dalam mengais pengetahuan. Dalam dunia perkulihan mahasiswa bebas untuk aktif menyatakan pendapat dan kritis. Berbagai organisasi intra kampus juga disedikan secara demokratis bagi setiap mahasiswa unutk berkebang dan berkontribusi lebih untuk lingkungan kampus.
Abad ke-21 menjadi tantangan superlatif dalam persaingan bagi setiap sarjan muda demi mendapatkan pekerjaan. Sarjana yang bermodalkan ijaza, sarjan yang hanya kuliah wisuda dan pulang kampung, adalah agitasi bagi kehidupan masyarakat kampung, karena sarjana yang diciptakan hanya dalam dunia kampus saat ini telah penuh hidup ditengah kampung dengan penganggurannya hingga sampai mendominasi kerusakan moral dalam masyrakat karena beban psikologi dengan tidak kunjung dapat pekerjaan.

Persoalaan dasar dalam tulisan ini adalah ketika kampus menyedikan ruang pendidikan bagai mahasisa, haruskah organisasi menjadi refrensi pembentukan karakter dan kedewasaan diri setiap mahasiswanya???
Secara garis besar keutamaan berorganisasi dapat memberi seorang mahasiswa akan lebih kreatif berkembang, lebih percaya diri, memiliki nilai lebih dalam melamar pekerjaan juga eksis dikenal orang karena terciptanya jejaring.
Jika fungsi organisasi membumi pada jiwa setiap pemuda mahasiswa akan lebih efektif identitas seorang sarjana dimata masyarakat karena pastinya dia akan menjadi pembeda dalam progres kehidupan beragama dan berbangsa .
Dari dua sub persoalan di atas antara kampus dan organisasi, penulis mengeritisi beberapa persoaaln dasar yang secara sadar secepat mungkin ditindaklanjuti pengurus IPMAL Kupang (Ikatan Pelajar Mahasiswa Lamahala) periode 2018/2019: 1. Menurunnya animo organisasi setiap kader IPMAL, 2. Gaya berfikir yang salah dalam menetukan identitas (mahasiswa namun lupa dengan eksistensinya, banyak kader IPMAL yang kuliah karena ikut teman dari tempat kampus hingga program studinya).
IPMAL Kupang merupakan organisasi lokal yang sudah teruji loyalitasnya dalam segala bidang pekerjaan pada pra pengkaderan dimasa emasnya. Tentu, kita sama-sama tahu apa perbedaan generasi saat ini dalam pandangan kualitas dan loyalitas kader dengan para senior alumninya.
Menindaki dua persoalan diatas pengurus periode ini seharusnya lebih efektif dalam merubah Mandset kader dengan penawaran program kerja yang mileneal sehingga dapat mengembalikan semnagt organisasi setiap kader IPMAL, kedua, pengurus harus merubah cara berfikir setiap kader IPMAL dalam identitas diri pada pola pikir dan pola tindak, ketiga, pengurus berperan penting dalam memediasi mahasiswa baru untuk menetukan pilihan tempat kuliah hingga program studi demi keberpihakan pengurus dalam menciptakan peluang kerja bagi setiap kader IPMAL setelah lulus sarjana.
Kesimpulan : ketika orang tua menginginkan anaknya sukses dalam kampus ternyata dalam organisasipun diajarkan dengan semangat insan akademis, bahwa organisasi dan kampus adalah satu kesatuan sebagai jembatan meuju sukses masa depan. Jika IPMAL membumikan semangat tersebut maka akan lahir generasi milenial yang sama-sama kita impikan. (kampus adalah guahira peradaban dan organisasi adalah laboraturium kemanusiaan)

(Kupang, 04 Januari 2018 )
(Syahril @rizona)

 

  • view 125