Ngaji : al-Hikmah al Muta’aliyah

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 13 Agustus 2017
Ngaji : al-Hikmah al Muta’aliyah

 
Pembahasan tentang apa itu hikmah muta’aliyah,sebagaiamana yang telah kita ketahui unsur unsur fundamental yang menyusun,filsafat Sadra terdiri atas tiga,pertama argumentasi rasional,irfan dan al-Quran. Hikmah ini bisa kita artikan teosof (tuhan dan sofia) kita ingin membaca realitas ilahiya itu dengan padangan hikmah muta’aliya,atau teosofi transenden,mutiar-mutiar fundamental yang disusun oleh akal,suhud dan teks al-quran.
 
Oleh karena itu kita bisa  katakana bahwa  ketiga unsur tersebut yang menyusunnya,bisa di-katakan sebagai pemimpin dari sebuah limu dari gabungan ke-tiga unsur tersebut.oleh karna itu seseorang yang telah mendalami hikmah muta’aliya (dari ketiga unusr tersebut),ia bisa dikatakan hakim muta’aliyah (pemimpin dari para intelek). Seseorang yang bukan ahli burhan dan juga bukan ahli irfan dan al-Quran,jika salah satu dari ketiga hal ini tidak ada pada filosof,maka ia bukan dari teosofi trasenden atau Sadrian.
 
Kamudian,tanda atau alamat dari sesorang yang mengusasi hikamah muta’aliyah ini bahwa apa yang di-katakan atau tidandakannya akan mencerminkan apa yang dipikirkan,tidak ada lagi pertentanagn secara teorits dan praktis. Dan untuk sampai pada alam metafisis itu dibutuhkan fitrah kedua,yang kemudian akan melahirkan bentuk kita yang ke-tiga,oleh karena hikma muta’aliyah ini,oleh para intelektual disebut juga dengan hikamah ilahi teosofi teranden,maka seorang filosof yang hikmah muta’liyah itu disebut sebagai mukmin yang hakiki.
 
Kemudian yang ke-tiga,untuk sampai pada mukmin yang hakiki ini,kita harus melakukan gerak substansial dalam jiwa,yang akan kita lalui empat perjalanan,titik penting dari ini harus ada gerak substansi pada jiwa untuk sampai pada mukmin hakiki. Harus ada gerak jiwa untuk sampai pada perjalanan mukmin hakiki,seseorang yang gerak substansialnya yang menuju pada karakter-karakter syaitan,maka ia tidak akan sampai pada makam yang lebih tinggi.
 
Dan tidak akan menjadi hakim muta’aliyah yang sempurna,atau menjadi manusia seutuhnya. Alamat atau tanda lain yang kemudian kita melihat seseorang itu yang seperti hakim muta’laiyah,orang tersebut bisa myaksikan alam yang syahada,artinya tidak ada lagi hijab bagi dia,untuk melihat realitas. Dan musdaq,adalah orang-orang maskumin (seperti apa yang dikatakan imam ali,(tanyalah aku sebelum engakau kehilanganku).
 
Apa yang diungkapkan imam ali,dari meyaksikan alam syahadah dan alam gaib,jadi sesorang ketika melihat alam gaib,maka ia melihat semuanya baik itu alam syahadah,karena manusia yang trasenden ini ia lebih tertarik pada alam yang gaib,karena alam syaha sebagai tanda untuk melihat alam gaib. Oleh karna itu pengikut para hikamh muta’aliyah ini,akan berlomba-lomba untuk mengikuti jalan hikmah ini. kita bisa memenuhi  dahaga intelektual dan spiritual kita.
 
Perubahan substasnsil para pejalan ini,tentu berbeda oleh karna sesuatu yang bergerak itu bisa bergerk sepanjang gradasi wujudnya. perjalan subtansial seorang manusia universal,dilihat dari sisi bahwa eksistensinya itu lebih luas dan lebih tinggi dari pada yang lain. Seseorang yang tidak mempercayai gerak substansial maka tidak akan pernah mengalami perubahan atau trasenden,jadi ketika manusia lalai memperhatikan tajarrud ini,tidak akan menggapai alam metafisis. Oleh karnanya sesorang yang tidak mengenal dirinya (tajarrud) ruhnya non materialitas ruhnya,maka ia tidak akan mampu mengenal realitas sebagaimana adanya.
 
Riadha (pelatihan) yang sebagaimana mestinya adalah pemikiran yang sempurna,berusaha untuk menjalani pemikiran,riadha yang masruh (sebagaiaman mestinya) adalah berusaha berpikira secara sempurna,sebagai sebab untuk sampai pada ma’rifat-ma’rifat,karena berpikir dengan benar itu merupakan suatu pemantik,bagaiamana pengetahaun ilahi itu turun pada manusia (cahaya ilahi akan menyinari kita).
 
Dan nukuip dari ibnu sina: bahwa berpikir itu seperti tangisan seorang bayi,yang memancing firah ke-ibuan untuk sampai pada anaknya,hubungan ilahi itu di-analogikan seperti itu,maka ketika orang berpikir keras,maka cahaya ilahi turun padanya. Ada satu wasiat dari suhawardi: sebelum kalian pelajar hikmah israqiyah,orang harus riadha selama 40 hari. Oleh karena itu berpikir dengan benar jiwa dan akal,untuk pembinaannnya akan sangat berpengaruh pada gerak substansial seseorang,namun hal ini juga dijelaskan di-dalam al-quran mengenai hal ini Dalam sebuah hadis imam Zainal Abidin,bahwa segala sesuatu ini diciptakan menurut kadar eksistensinya.

  • view 31