Musnahnya sebuah Warisan

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Budaya
dipublikasikan 13 Agustus 2017
Musnahnya sebuah Warisan

 
Jika Enstein mengatakan A itu pasti benar,namun jika  al-Ghazali dan Mulla Sadra berkata A,maka belum tentu benar,karena tidak ilmiah. Kalimat ini adalah kalimat yang di tulis oleh William c.chittick dalam bukunya “kosmologi islam dan dunia modern”. Mangacu tema  diatas bahwa dunia modern saat ini telah merasuk para pemikir intelektual terutama intelektual muslim,apa yang saat ini terjadi dalam gejolak pemikiran kita jauh dari intelektual muslim terdahulu. Senada dengan Chittick memaparkan bahwa pengetahuan akaliah merupakan intelektual yang terpuncak bagi manusia untuk memperoleh sebuah pemikiran yang mandiri,sebagai manusia yang sempurna,atas dasar inilah pengetahuan akaliah adalah proses pencarian intelelektual murni.
 
Berbeda dengan pengetahuan nukilan merupakan hasil perolehan dari pendapat orang lain yang tanpa melakukan proses filter terdahulu,pengetahuan ini,hanya berupa pemindahan pemikiran,bukan hasil olahan akaliah dari manusia itu sendiri. Walhasil bahwa munculnya krisis-krisis pemikiran terhadap umat muslim saat ini,di-akibatkan pemikiran tersebut hanya berdasar penukilan bukan hasil olahan akalia sebagai manusia yang fitrahnya memang berfikir.
 
Tradisi islam dalam kanca intelektual membidik empat tema pkok persoalan Tuhan,alam,jiwa manusia dan hubungan antarpribadi,ketiga unsur pertama tersebut pembentuk realitas sebagaimana yang kita presepsi,sedangkan ranah ke empat hasil proses olahan pemikiran manusia yang diperoleh dari ketiga pembahasan tersebut. Sehubungan dengan iini,kita ke empat pokok diatas merupakan struktur warisan pemikiran islam yang saat ini tidak terlalu diperbincangkan,dan dalam intektul saat ini hanyalah problem penukilan,sekali lagi bukan olah akalia manusia itu sendiri.
 
Dalam konteks agama pula penukilan sangat marak terjadi di akibatkan kemalasan kita untuk berfikir, fitrah manusia yang mendorong untuk berfikir tersebut seolah dikesampingkan,akibatnya terjadi kegagalan intelektual hanya perdebatan soal ideologi,bukan persoalan pembahasan pandangan dunia,bukankah warisan pemikiran islam sangat kaya di bidang inteltual,apa lagi di abad ke 13,banyak para filsuf yang menyumbangkan hasil pemikirannya,para filsuf terdahulu melakukan proses intelektual menggunakan akalia atau hasil olahan pemikirannya bukan hasil nukilan.
 
 
Meskipun nukilan itu ada,akan tetapi dalam tataran al-quraan dan hadis,kemudian para filsuf mencoba mencari makna tersebut dari olahan pemikirannya sebagai tabiat manusia,kini kita hanya melihat beberapa penukilan intektual terutama persoalan agama,mereka hanya menukil sebuah kalimat dan tidak mengerti apa yang dikatakan,teks agama sebagai tameng sebuah intelektual. Mereka yang hanya mengucapkan teks seolah kebenaran datang langsung dari tuhan,ucapan mereka tersebut tidaklah boleh dibantah,atau dipertanyakan ulang,walhasil pemikiran muslim saat ini hanya jalan ditempat.
 
Penting untuk menekankan bahwa tidak ada agama yang bertahan hidup  dan berkembang tanpa tradisi intelektual yang hidup. Ini menjadi jelas begitu kita menayakan sebuah persoalan,untuk apa kita hidup,bagaimana intektual kita,apa yang harus kita lakukan sebagai manusia,tentunya orang harus berpikir untuk menjawab persoalan itu,apa lagi dunia saat ini adalah mesin produksi modern.
 
Peran intelektual sangat dibuntuhkan untuk tranformasi pengetahuan,agar kiranya kita tidak meneriama sebuah informasi atau penukilan tanpa ada hasil olahan akalia kita. Tantang tersebasar saat ini menurut pribadi  peunulis,yang di- pahami dari tela’ah pemikirannya,bahwa,kita harus merujuk lagi kepada fitrah manusia untuk berfikir,sebab potensi manusia adalah sama yaitu ke-berpikirannya,bagaimana potensi tersebut bisa di aktualitaskan melalui naraca pemikiran,bukan penukilan.
 
Meski kita butuh bimbingan oleh orang yang ahli dalam bidang intektual tersebut,akan tetapi itu merupakan landasan kita untuk menciptakan sebuah olahan pemikiran baru,para cendekiawan muslim terdahulu yang sangat kaya dalam kasanah intelektualnya.sebab mereka mengandalkan pemikirannya untuk mengolah pengetahuan,kita kehilanga warisan yang kaya dari pemikir muslim terdahulu,bukannya saya mengatakan hilangnya keseluruhan akan tetapi sebagaian dari kita yang hilang ,maksudnya minat dalam mengkaji pemikiran tersebut sangatlah kurang.
 
Kita terlana dari hasil pemikiran nukilan,dizaman ini peran pemikiran yang mandiri sangatlah diakibatkan banyak dari kita yang tidak mempunyai kesadaran untuk menelah intektual kita, kita hanya sibuk melakukan moderenisasi diri kita dan masyarkat kita. Hegemoni dunia barat sangat terinstal dalam masyarakat kita saat ini. Akibatanya tradisi intelektual banyak yang dilupakan dan penukilan saat ini marak terjadi,para akademispun banyak yang tergolong dari indicator ini,setelah ia merasakan parfum dari Paris.
 

  • view 41