sesuatu yang menampa-kan sesuatu

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 13 Agustus 2017
sesuatu yang menampa-kan sesuatu

 
Wilayaha pembahasan wujud mencakup segala sesuatu,ia merupakan paling sederhana,kederhanaan wujud maka ia tidak lagi bisa di-uraikan,wilayah penguraian hanya berupa penampakan esensi,maka esendi bisa dikatakan bahwa ia sesuatu yang ditampakkan oleh wujud yang menampakan. Karena wujudlah yang menampakan sesuatu,sesuatu tidak bisa tampak tanpa adanya penampakan,dari tampak ini-lah kita bisa mngetahui wujud itu sendiri.
Dan ketika esensi yang tampak di-tampakan oleh wujud yang sederhana,maka kebergatungan esensi ada pada wujud,jika demikian maka esensi tidak bisa terlepas tanpa wujud,seperti yang kami jelaskan di-awal bahwa yang menampakkan sesuatu ialah wujud. esensi dengan kebergantungannya pada wujud,maka ia tampak darinya,maka segala sesuatu yang tampak ini,bersandara pada wujud.

Wujud juga merupakan sesuatu yang tersembunyi,ia bisa di-sadari dengan penampakan esensi,akan tetapi wujud ini-pun sesuatu yang bisa pula di-sadari secara langsung  melalui kesadran intelktual manusia,melalui dirinya sendiri (hudhuri),jika kesadran manusia hanya pada esensi atau pandangan material,maka dengan sendirinya wujud itu tidak di-ketahuai,ia hanya bisa di-ketahui jika kesadran manusia sampai pada intelaktualnya,yang mempuni dengan,persespi dengan dirinya sendiri,maka kesadran akan kehadirin dirinya sebagai wujud.

Wujud merupakan suatu yang tunggal,karena ia tidak terbagi, keterbagian hanya pada ensensi banda-banda penampakan,dari penampakan esensi,maka muncul-lah keterbilangan,namun wujud sendiri tidak masuk dalam kategori berbilang,ia hanya wujud yang tanpa terbagi,karena segala sesuatu bersandar darinya. Keberagaman dan ketungglan,unitas dan pluralitas. Wujud dengan cahaya bisa di-artikan,cahaya jika di=lihat secara langsung maka sulit unutk menyaksikan dirinya,kekurangan penampakan pada sesuatu kerna intensitas cahayanya. Kejauhan sesuatu itu mengakibatkan cahayanya berkurang,jika sesuatu itu mendekati cahaya maka ia lebih terang dalam penampakannya.

Dengan demikian wujud cahanyanya sesuatu yang terang,hanya manusia-lah yang menjauh darinya,wujud tidak terpisah dari manusia,wujud selalu bersamanya,hanya kesadran manusia yang tidak ingin mendekat padanya,kecintaan wujud ini-lah ia tetap manmpakan sesuatu yang bergantung padanya,hanya saja manusia yang bergantung ada wujud,yang tidak menyadarinya,kita bergantung padanya,dan sering mengabaikan hal ini,akan tetap wujud itu sendiri,tidak sedetik-pun mengabaikan sesuatu yang di-tampakannya, hanya yang di-tampakannya tersebut yang sering mengabaikannya,dengan kata lain manusia-lah yang mengingkari wujud itu sendiri.

Karena wujud dengan yang di-tampakkan tidak terpisahkan,ia seiring berhubungan,wujud tidak akan melepaskan sesuatu yang di-tampakkan ini merupakan suatu hubungan yang meniscaya,ia sebagai menampakan sesuatu,dan menampakan sesuatu yang tidak ingin lepas darinya,karena hubungan itu-pun ia peperan di dalamnya,ini merupaka cinta yang agung dari wujud untuk kasih sayangnya pada sesuatu yang bergantung padanya (ciptaannya).

Wujud itu sendiri yang tidak tierlpas dari ciptaannya,imemang kerumitan wujud di-ketahui keran jiwa manusia tidak-lah menyadari akan kehadirannya,kurangnya persespsi mengenai-nya,pada-hal wujud merupakan suatu keniscayaan,hudhuri pada diri ciptaannya,maka jiwa yang merasakan dirinya dalah jiwa-jiwa yang suci dan tenang,kehadiran itu bisa dirasakan oleh jiwa yang tidak terganggu oleh hal-hal duniawi,seperti para pecinta (sufi) maka digtum yang terkenal dari sufisme ia siapa yang mengenal dirinya akan menganl tuhannya,karena wujud meniscyakan ada pada diri manusia itu sendiri,tidak pelu membuktikan wuud itu diluar dari manusia,karena yang bisa meyaksikan ke-indahnnya hanya pada manusia dengan jiwa yang tenang.

Dalam pandanga Sadra bahwa imajinasi itu adalah ke-satuan  jiwa itu sendiri,karena dalam hal persepsi jiwalah yang mendorong manusia untuk mempersepsi sesuatu melalui kesadrannya,maka ketika jiwa memperspsi sesuatu ia  terlebih dahulu mengakltual ke-imajinasi,dari apa yang ia persepsikan di realitas. Dari imajinasi inilah memunculkan suatu makna-makna yang bisa meluas,dengan demikian imajinasi suatu tingkatan atau kesadaran dan ke-adaan jiwa,yang di mana jiwa itu sendiri berhubungan dengan imajinasi kemudian membentuk suatu citra atau makna dari makna ini-lah jiwa ingin memberi penamaan dari sesuatu yang di persepsianya. Penamaan itu sendiri bukan muncul dari jiwa itu sendiri,melainkan dari realitas alam,kemudian jiwa mempersepsinya dan memberikan penamaan karena jiwa ingin merepesentasikan mengenai apa yang ingin di namakannya pada objek yang di persepsinya.

Maka ketika kita menamakan sesuatu misalnya keindahan,kita akan menamakan objek yang kita lihat itu sebagai repesentasi jiwa,kita melihat pemandangan kemudian jiwa menamakan dengan ke-indahan. Ini suatu realisme dalam kosmologi karena jiwa sendiri pada karakternya menuntut suatu kepastian. Dari karakter jiwa itu sendiri ketika ia meyakini sesuatu (tuhan) maka kata (tuhan) itu sendiri adalah penamaan bagi jiwa,dari jiwa ini-lah nantinya menghubungkan atara alam dan tuhan,maka kesadaran jiwa-lah yang bisa meyaksikan wujud tuhan itu sendiri,keran bentuk dari jiwa adalah dirinya sendiri (dari diri yang satu).
 
wujud yang memperbarui segala sesuatu tapi ia tidaklah terbaruhi,ketergantungan sesuatu padanya karena ia lah yang mutlak niscaya. Baik manusia mentuhankannya ataupun tidak ia tetap wujud mutlak niscaya,rahmatnya tetap mengalir untuk ciptaannya,meski tidak dipertuhankan ia tetap menabur cinta dan kasih,karena ia tidak akan kekurangan sedikitpun meski tidak ada manusia bertauhid kepadanya,karena sifat maha pemberi dan maha penciptanya.

 Di dalam ma’rifat juga di terangkan bahwa dalam milihat Allah bukan dari segi indrawi,meskipun pada realitasnya kita memiliki mata untuk melihat hal-hal duniawai,namun indera penglihatan tidaklah mampu melihat wujud sang ilahi,karena indra hanya alat yang terbatas pada sesuatu yang indrawi,namun beliau menegaskan bahwa untuk melihat Allah bukanlahpenglihatan indrawi ataupensifatan akal,akan tetapi melalui iman,melihat wujud melalui iman artinya melalui pengenalan diri manusia atsa hakikatnya kesadarannya fitrahnya kepada wujud mutlak,maka disinilah letak hakikat iman yang bisa melakukan peyaksian atas wujud,iman dicapai dari segi pengetahuan,namun pengetahuan tersebut berasal dari yang maha wujud maka,penyaksian melalui diri manusia dengan imannya.

Ilmu hudhuri ini ialah ilmu yang secara lansung dari diri manusia,bukan dari perantara antara subjek manusia dan objek diluar manusia (hushuli),akan tetapi ilmu hudhuri ini realitas objektif lansung dirasakan oleh manusia dari dirinya,bukan konsep penggambaran,atau imaji-imaji negative,keran dalam hal ini ilmu hudhuri bisa juga dikatakan fitrah manusia yang ingin bergantung dengan yang sempurna,dalam peristilahan islam fitrah,maka jelaslah bahwa kalimat yang manegatakan siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya,artinya bahwa pengenalan diri ini merupakan ilmu hudhuri langsung dari manusia tanpa perantara. Ada beberapa untaian kata Imam Ali mengenai sifat kemahatinggian bagi Allah,bahwa ia tidaklah bisa dikatakan kebagaimanaan,atau memisalkannya dan meyerupakannya,beberapa kalimat ini jika dipertanyakan maka akan menjadi batsan baginya,bukankah ia melingkupi segala sasuatu,dan ia tidaklah terbatas,hanya pahaman yang membatasinya,karena segala sesuatu selain dirinya adalah akibat dari dirinya.

Dalam peyaksian tersebut para kekasih tuhan mayaksikan mereka melihat yang bersesuaian dengan jiwa,citra-citra terbentuk dan tamsil yang menjadi realisasinya , dan mareka tau untuk sapa kerinduan itu  . Apa yang ada pada jiwa yang ingin mensifati sesuatu diluar dari dirinya pasti sesuatu tersebut identic dengan apa yang ada pada jiwa,ketika jiwa ingin membuat tamsil (perumpamaan) atau penamaan. Maka apa yang jiwa namakan dan membuat perumpamaan mengenai tuhan dan nama-nama yang indah

untuknya,demikian kesesuaian itu juga ke-indentikan,dalam penamaan diluar dari jiwa ialah perempuan dengan pensifatan padanya. Jika tik adalah pada jiwa ingin mensifati tuhan dan memberi nama-nama yang indah maka hal yang identic di kosmik adalah pada diri perempuan dengan keindahan,ke-agungan,kasih sayang,ke-lembutan dan merenungkan diri manusia adalah sama hal ketika jiwa merenungkan Ilahi,manifestasi tuhan dan sifatnya ada pada diri manusia maka jadi-lah seorang perempua (jiwa) penghamba maka kekasih itu akan menampakan dirinya,aia akan keluar di-balik hijabnya,maka kerinduan itu ada pada pertemuan dengannya,karena ada cinta yang ingin terbakar,karena kerinduan pecintanya.
 

  • view 56