Derita dan kasih tuhan

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 13 Agustus 2017
Derita dan kasih tuhan

(Perjalanan Sayr Suluk)
 
Apa kah dalam hidup hanya kita sampai pada badania saja,ataukah ada hal yang diluar jangkauan kita?,apapun itu kita harus mencapainya. Karena fitrah menuntut hal itu,jika manusia hanya sampai pada pengetauan mengenai dirinya yaitu badania,maka selama itu-pun tidak akan mengenal dirinya. lantas kebahagian apa yang dituntut oleh fitrah?,bukankah fitrah menginginkan suatu kebahagiaan yang tidak sekedar sementara,ia (fitrah) ingin kebahagian abadi,jika persoalan kebahagiaan abadi itu tidak ada,maka dalam fitrah itu sendiri adalah suatu kebohongan,atau manusia yang tidak mengaktualkan kesadaran akan hal itu.
 
Dari manusia itu sendiri,mempunyai potensi untuk mengaktualkan apa yang ada pada dirinya,bahkan sampai pada penyaksian pada ilahi,namun hal ini bukan proses yang mudah,ada perjalan untuk menempuh aktualisasi manusia,sampai pada kesempurnaannya,dengan demikian proses esketis dan bimbingan spiritual dan intelektual dibagun untuk mengantarkan pada capaian inteleksi.

 Dengan manusia megetahui potensi dirinya,terlebih dahulu ia harus sadar akan dirinya,artinya bahwa kesadaran diri itu panting untuk bagaimana mana manusia bisa mengetahui potensinya,karena tanpa kesadaran,manusia akan tetap terjebak pada persepsi materinya,karena tidaklah kita pungkiri bahwa manusia pada kesadaran sangat di dominasi oleh kesadaran instingtif, kesadaran ini adalah hawa nafsu yang lebih mendominasi. Artinya semua dari gerak manusia hanya dorongan dari instingtif. Jika manusia hanya sampai pada instingtifnya, maka itu hanya kesadaran hewanianya.

 Untuk itu manusia harusnya memahami instingtifnya,bahwa mengapa ia harus di-dominasi. Jika instingtif ini di sadari oleh manusia atas ke-lalaiannya,maka ia akan mencoba keluar dari dominasi instingtif, maka dari itu tahapan ini merupakan tahap pertama untuk menuju perjalanan,bukan berarti hal yang mudah,akan tetapi secara teoritis dimungkinkan kita bisa untuk melepaskan hal yang instingtif,aspek duniawi yang kita lepaskan menuju spritualitas. Hal ini bukannya kita menolak hal yang material. Akan tetapi bagaiamana kita melakukan sesuatu tanpa di-dominasi oleh  instingtif.

 Untuk itu perlunya kesadaran intelektual dan spiritual,dari sinilah dimulai perjalanan pertama bagiamana mana kita mengolah persepsi kita mengenai hal duniawi,persepsi ini yang paling fundamental untuk menolah imajinasi,karena persepsi ini kita berkaitan dengan hal duniawi secara indrwai,yang sering membuat imaji menjadi hijab untuk sampai perjarjalan awal,dalm istilah Sadra perjalan ini adalah mahlu ke-tuhan.

 demikian dengan perjalan ini bagiamana kita menuju kepada al-Hak, dengan kesadran intelektual dan spiritual yang akan membimbing kita menuju tahap ini,dengan mengola imaji yang menjadi hijab dari yang kita persepsi secara indrwai. Agar kita bisa terlepas dari dominasi instingtif,secara praktis kita bisa melapas hal instingtif ini,seperti katika bulan puas tiba,persepsi mengenai makanan,minuman dan lain sebagainya kita bisa lepaskan,keran imajinasi kita bisa mengolahnya,dari hal ini dimungkinkan manusia bisa melalui proses perjalan pertama ini,menuju tahap selanjutnya.

Dengan penjelasan mengenai perjalan pertama,maka tahap selanjutnya dari tuhan ke tuhan yang dilakukan oleh tuhan itu sendiri. Akan tetapi perjalanan ini dicapai ketika kita selesai dari perjalan pertama. Dan perjalanan ini bukan lagi kesadran mahlu,akan tetapi tuhan sendiri yang memperjalankan hambanya,ini-lah yang disebut ke-fanahan. Peleburan pada ke-kasih abadi,kerindukan akan dirinya dan kerinduan pada mahluk atas dirinya sampai pada puncak pertemuan (fana).
 
Disinilah kerinduan dan kasih sayang antara penghamba dan tuhan  menyatu. Dari sini mahluk menyaksiakn semua yang disifati jiwanya, melalui dirinya (tuhan), tuhan mempersaksikan dirinya pada mahluknya,maka disini-lah letak jiwa yang tenang (nafs mutma’inna),dari perjalanan ini insan kamil cukup ketahap ini,akan tetapi bukan-lah itu tujuan yang sebenarnya,bahwa tidaklah cukup hanya dengan fana.

 Jiwa pada prinsipnya bukanlah tampatnya pada jazad,jiwa ingin kembali ke-asalanya,karena karekter jazad penuh dengan kekurangan,maka ketika jiwa telepas dari asalnya (tuhan),maka jiwa akan mengalami penderitaan,akibat keterpisahan dengan kekasihnya,dan kebahagiaannya.dalam fana bahwa jiwa menyaksikan sifat yang ingin disifatinya,dari kedua hla ini ada pertengahan yaitu sifat itu sendiri,bahwa yang ingin diketahuai bukanlah sifat ataua yang disifati,akan tetapi sifati itu sendiri,ketika sifat dan yang disifati ini dilepas maka akan menjadi peleburan.

 Demikian pada tahap ketiga,bahwa disini merupakan perjalan turunana setelah proses ke-fanaan,akan tetapi tidak terlepas dari tuhan,perjalan tuhan ke-mahluk bersama tuhan,yang di-istilahkan (iluminasi). Yang dipancarkan dari apa yang kita saksikan,pancaran itu  merupakan sinaran dari tuhan,proses turunan ini lansung dari bimbingan tuhan,ia membimbing mahluknya,maka pancaran itu di terima oleh mahluk.  Proses perjalan ini,seperti yang di atas turunana dari ke-fanaan,maka keterpisan kembali dengan tuhan,meski kita ada pancaran darinya,akan tetapi kefanaan dengan telah terlepas,ini merupakan derita dari mahluk,yang terpisah kepada kekasihnya,karena ia (mahluk) melanjutkan perjalanannya,untuk tujuan selanjutnya.
 
Akan tetapi tetap pada bimbingan ilahi,dengan demikian derita yang di-alami mahluk akibat keterpisahan pada ilahi,menjadi proses penantian kembali,kasih tuhan tetap terpancar pada mahluk,namun mahluk sendiri menjadi derita,karena terlepas deri kekasihnya. Perjalanan ini mahluk telah memasuki jiwa ke-Nabian,kemulian,untuk melanjutkan perjalan terakhir untuk berjumpa kembali. Meski derita yang di-alami oleh mahluk,karena ia pernah merasa bahagia saat proses ke-fanaan,dari penderitaan itu merupakan wujud  proses ke-bahagiaan abadinya.Ini-lah tuntutan fitrah ingin mencapai ke-bahagian abadi,dengan derita dan kasih tuhan. penderitaan yang di-alami mahluk,kerena keterpisahan ke-pada Ilahi (kekasihnya) kerena melanjautkan perjalan untuk sampai tujuan akhirnya,yaitu kebahagiaan.
 
 
 

  • view 50