Eksistensialisme,cinta dan kebahagiaan

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 29 November 2016
Eksistensialisme,cinta dan kebahagiaan

Pembahasan mengenai tema di atas telah banyak di perbincangkan para pemikir barat dan timur,dialektika intelektual muncul dalam pembahasan ini,bukan hanya itu ,dari rumusan pemikiran tersebut banyak aliran yang muncul dan para pengikut pemikiran mereka. Walhasil dari dialektika tersebut perlua ada penalaran pemikiran yang objektif,bukan hanya sekedar pengikut tanpa pengetahuan dan kesadaran atas apa yang kita pilih secera pemikiran,namun kita mengamini pemikiran tersebut atas dasar intelektual yang obtektif.

Eksistensialisme secara umum membahas perosalan keberadaan manusia,dasar sebuah teorinya ialah meyangkut kebebasan manusia dalam peranan kehidupannya. Mungkin dalam tokoh eksistensialisme yang terkenal khususnya di kalangan intelektual kita ialah,Sartre:“Manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup dan berada dengan sadar dan bebas bagi diri sendiri”. Itu adalah salah satu statement dan mungkin bernilai teori yang terkenal darinya.Nietzsche:Menurutnya manusia yang teruji adalah manusia yang cenderung melalui jalan yang terjal dalam hidupnya dan definisi dari aliran eksistensialisme menurutnya adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super dan yang mempunyai mental majikan bukan mental budak supaya manusia tidak diam dengan kenyamanan saja. Martin Heidegger pemikirannya adalah memusatkan semua hal kepada manusia dan mengembalikan semua masalah apapun ujung-ujungnya adalah manusia sebagai subjek atau objek dari masalah tersebut.

Namun dalam hal ketiga pemiki tersebut yang cukup terkenal dan di kajia pemikirannya dikalngan peminat eksistensialisme ialah Nietzsche. Dalam rumusan pemikiran eksistensialisme secara umum seperti yang penulus utarakan di awal pembahsan ia kebebasan,mereka mengatakan bahwa manusia ingin bebas secar paraktis,maksudnya bahwa apa yang ada dalam diri manusia itu tidaklah perlu ada pengekangan,tidak perlu adanya aturan yang seolah ingin menekan kebebasan manusia. Jadi manusia harus mengikuti apa yang ada dalam dirinya,artinya bahwa manusia dalam keinginan hasrat harus terlampiaskan,bukan di intervensi oleh aturan-aturan sosial,seperti hasrat seksual,kekuasan,kehendak ingin melakukan hal-hal apa saja yang kita inginkan,tanpa perlu mengikuti sebuah kontrak sosial.Bukan hanya itu saja,eksistensialisme juga tak ingin ada dikotomi nilai,jadi nilai itu dikandung manusia sendiri,apa yang menurut individu manusia itu berguna baginya,maka itulah nilai yang dikandungnya tak pelrlu melihat hubungan nilai itu kepada manusia yang lainnya,juga tidak ada aturan baik dan buruk,karena semua manusia ingin melampiaskan kebebasan,dari kebebsan itu lah kiranya baik dan buruk itu tidak ada dalam eksistensialisme,jadi semua berpusat pada manusia (antroposentrisme), kembali pada zaman renaisans.

kita dalam memahami eksistensialisme barat,mungkin kiranya kita harus merujuk persoalan teosntrisme,bahwa pada zaman tersebut,kekuasan gereja dan politik sangat mendominasi dan mengatur semua kehidupan manusia,jadi pada zaman tersebut manusia tidak mempeunyai kebebasan untuk kehidupan kesehariannya,baik itu intelektual,agama,budaya,soaial dan fitrahnya sendiri. Kerena semua itu telah di ataur oleh kekuasan gereja,maka apapun yang di kehendaki oleh pihak gereja,maka manusia harus mengikutinya,meski terjadi perbedaan pendapat,tapi manusia wajib untuk mengikuti apa yang di kehendaki oleh pihak gereja yang bekerja sama dengan kekuasaan pada saat itu.Itulah mengapa banyak ilmuan yang dihukum,karena apa yang di temukan oleh ilmuan tersebut bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh pihak gereja, seperti yang dialami oleh Galileo Galile,Akibat pandangannya yang disebut itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia Pemikirannya tentang bumi adalah bulat dan matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran,maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah datar dan pusat alam semesta. Maka pada saat memasuki zaman antroposentrisme,karena keresahan,kemuakan mnusia mengenai agama yang mengatur mereka,jadi berbaliklah masa itu,yang semua berpusat pada manusia.

Manusialah yang mengambil alih kebenaran,manusialah sebagai tolak ukur kebenaran,agama yang di zaman teosentrisme tersebut tidak lagi dibutuhkan,kemerdekaan manusia telah di dpatkan pada masa renaisans,akibat seribu tahun dikekang oleh gereja,maka mereka memberontak perihal kehendak bebas manusia,ia ingin mengaktulkan kehendak (fitrah) manusia,tanpa ada aturan agama,jadi manusia bebas mlakukan apa yangin mereka lakukan tanpa mendang baik dan buruk tergantung subjektif manusia itu sendiri.

Juga mereka tidak perlu ada tuntutan untuk tujuan bersama,seperti agama,budaya,hukum,semuanya persoalan kehendak individu. Tidak perlu ada nilai normative untuk hubungan sosial,juga tak perlu ada tindakan manusia yang dihubunkan dengan raisonl-rasional manusia, karena subjek (diri) itu bebas tanpa aturan,jadi kebebasan diri itu ada pada manusia,maka seks bebas itu pelu karena fitrah ingin melakukan hal itu,kehendak untuk menindas,berkuasa itu juga diperbolehkan tergantung kebebsan manusia (subjektifnya).

Memanglah persoalan fitrah dalam diri manusia yang di tuntut oleh para eksistensialisme barat,juga dalam pemikiran islam sendiri mengakui adanya fitrah tersebut,bukan berarti bahwa diakuinya juga disepakatinya. Eksistensialisme islam mempunyai basis yang sama yaitu kebebasan,namun kebebsan tersebut bukan seperti apa yang di kemukakan oleh ekistensialisme barat,karena persoalan barat ialah dari luar ke dalam,islam memandang kebebsan itu dari dalam keluar.

Dalam pembahasan eksistensialisme islam,moral itu tidak bisa ada paksaan jadi orang membuat suatu moral ia harus tau terlebih dahulu mengapa ia harus melakukan hal itu. Bukan sekedar ingin keluar dalam kebebasan tanpa apa pengetahuan untuk hal itu,karena dalam moral mempunyai tujuan,tujuan tersebut ada pada manusia dan kembali pada fitrahnya,jadi subtansialnya ialah tujuan manusia itu sendiri,apa yang ingin dicapainya,ini yang penulis katakana bahwa dalam pandangan barat ia persoalan kehendak ia keluar terus ke dalam artinya tujuan dulu baru ke fitrah,berbeda dengan pemikiran islam,islam memulainya dari fitrah dan ketujuan.

Islam dan barat dalam pembahasan ini ialah sama dalam basis (fitrah),namun berbeda dalam parktisnya. Karena dalam pandangan islam yang dikatakan ftrah itu ia bukan moral,fitrah masuk dalam non moral,jadi tidak perlu ada penghukuman bagi fitrah,karena ia berisfat alamiah,ketersiksaan barat karena ia menghukumi fitrahnya,ia memaksakan dalam hal hubungannya dengan realitas diluar dirinya. Padahal Moral itu berada pada tujuan dan itu nilainya,bukan berada pada subjektif manusia,karena dalam hal moral kita ingin mencapai tujuan,dan seluruh tujuan itu yang dikatakan oleh (Muthahhari) ada pada sosial.

Seperti yang penulis kemukakan sebelumnya bahwa dalam pandangan islam dari bawah (fitarh) ke atas (tujuan),maka dalam hal ini bahwa fitrah itu bersifat potensi,untuk mengaktual,nanti ketika ia actual diluar diri manusia maka itulah yang dikatakan tujuan. Bukan  dari tujuan baru ke fitrah seperti apa yang dipahami oleh para pemikir barat, karena fitrah itu merupakan realisme instingtif ia sebuah realitas yang memang ada pada diri manusia yang ingin mengaktual,bukan sebagai subjektifitas,maka dari hal itu dalam eksistensialisme islam harus ada jembatan yang menghubungkan antara fitrah manusia dan aktulanya di alam,maka perlu adanya normative dalam hal hubungan ini,karena ada konsekuensi sosial maupun individu jika tidak ada nilai normative dalam aktualisasi fitrah,maka diperluakan agama untuk sebuah jalan menuju pontensialitas dan aktualitas fitrah,agar lebih terarah dan mencpai kesmpurnaan yaitu tujuan,untuk itu pada prinsipnya ialah moral itu dilihat dari luar diri (tujuan) bukan basisnya (fitrah),karena fitrah tidak perlu dihukumi,karena ia bersifat alami.

Cinta dan kebahagiaan

Dalam pehasan menganai hal cinta dan kebahgiaan,ada sebuah dialektika pemikiran bahwa yang manakah terlebih dahulu,cinta atau kebahagiaan?,namun dalam hal ini islam merumuskan bahwa terlebih dahulu ialah cinta kemudian kebahagiaan.dalam hal cinta ia ada di dalam diri manusia,dalam epistemology manusia harus memiliki cinta,untuk mencintai,buak tidak memiliki seperti apa yang banyak orang katakana, dalam [erihal cinta peletakannya ada diluar diri manusia,untuk memiliki objek yang kita cintai,dan basis dari cinta iru sendiri ada pada fitrah.

Cinta haruslah mempunyai basis imajinasi kreatif, seperti imajinasi kreatif Ibnu Arabi yang mempunyai imaji yang sangat luar mengenai tuhan dan cinta,ada makna-makna yang dikandung dalam imaji,yang membuat cinta lebih optimal dalam peletakkannya,sebab cinta yang realis itu ialah pernikahan,maka seksual sebagai jalan spiritual membutuhkan imajinasi yang kuat,untuk sampai pada titik klimas,karena dalam hal perempuan Tuhan bermanifatasi dalam rahimnya,maka kerahiman itu ada kenikmatan,maka imajinasi keretif bagiaman kita sampai pada kenikmatan itu,maka kebutuhan imajinasi menjadi jalan untuk sampai ketahap kenikmatan tersebut,maka pertanyaannya para sufi bahwa cinta,ketika sampai pada seksualitas siapakah yang dinikmati diluar dari matri (tubuh),karena ada sesuatu yang ingin manusi capai dalam hal seksualitas,bukan hanya hasarat, tapi ada suatu peyingkapan spiritual,dan merawat feminitas bersama di alam, maka sampailah pada kebahagiaan, dari cinta inilah kita membangun simbol moral,dan cinta itu tujuan objektifnya dari hasrat,hasrat tersebut ingin disalurkan diluar,maka untuk realismenya adalah pernikahan.

Akan tetapi bukan hasrat yang menjadi tujuan semata,namun ada capaian kesempurnaan manusia (spiritual),maka dalam teori Sadra mengenai cinta dimulai dari hasrat,hasrat menjadi cinta paling rendah dalam teori ini,untuk menjadi sebuah spiritual,maka disitulah peyingkapan ilahi cintanya yang bermanifestasi kepada perempuan,maka dalam hubungan cinta (seksualitas),juga ada etikanya,tidak sembarang dalam melakukan hal itu,meski dalam rumah tangga,karena sekssualitas sangat disakralkan dalam islam,ia merupakan cinta dan kebahagian,untuk membangun kesmpurnaan manusia sampai pada tujuannya,maka cinta dan kahagiaan hanya ada pada institusi keluarga,bukan pacaran atau semacamnya yang dipahami banyak orang,namun cinta yang sesungguhnya ialah kesmpurnaan yaitu sakinah,mawaddah,warahma,dan ketiga poin ini hanya disingkap diperempuan,dalam arti bahwa cinta itu ada pada perempuan,kasempurnaan laki-laki itu ada pada perempuan,karna sekali lagi perempuan sebagai rumah cinta dan kebahagiaan eksistensi sebuah cinta ada pada institusi keluarga.

 

  • view 277