Sebuah Transformasi Sosial Berbasis Kebudayaan

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Budaya
dipublikasikan 19 Oktober 2016
Sebuah Transformasi Sosial Berbasis Kebudayaan

Apa yang menjadi fenomena sekarang ini dalam struktur masyarakat Indonesia dewasa ini,kita melihat ada yang melenceng dari sejarah berdiri bangsa kita. Bukan hanya itu pancasila sabagai asas bernegara kita dan sistem yang ada di dalamnya tidak lagi menjadi patokan hidup bernegara baik di kalangan pemimpinnya maupun masyarakatnya.bukankah poin-poin dalam pancasilah merupakan cerminan bagi masyarakat Indonesia yang kaya dengan budaya,etnik,suku dan agama.

Pancasila sebagai cerminan masyarakat Indonesia ingin memberitahu kita bahwa di dalam keberagaman yang kaya ini,kita bisa hidup bermasyarakat saling bahu membahau dan membentuk struktur tatanan social yang berbasis kebudayaan. Dalam hal ini pula pancasila memberitahu kita mengenai bagaimana dalam bersosial masyarakat kita bisa belajar bagimana dalam menyentuh hubungan social tersebut dengan fitrah kita kemanusian sebagai alinea kedua pancasila,di sisi lain dengan kemanusiaan tersebut kita menyentuh masyarakat dengan keadilan dan berdab. Secara tidak langsung ketiga kalimat tersebut,kemanusia,adil dan beradap kita membentuk masyrakat yang saling menghargai perbedaan dan membentuk persatuan bangsa kita tercinta ini.

Bukan hanya itu beberapa poin dalam pancasila secara keseluruhan,ingin mengatakan untuk masyarakat Indonesia bahwa kita saling menghargai perbedaan dalam bernegara,dan menghargai hak-hak masyarakat dan juga bertanggung jawab atas keseimbangan social masyarakat baik dalam segi ekonomi,politik,social,pendidikan dan lain sebgainya yang berhubungan dengan persatuan Indonesia. Maka pancasila dengan selogannya berbeda-beda tetap satu tujuan yaitu persatuan Indonesia.

Hal ini yang ingin di jelasakan oleh pancasila,akan tetapi dalam fenomena sekarang ini pancasila bukannya di amalkan melainkan fenomena yang terjadi ialah keluar dari jalur pancasila baik dikalangan pemimpinnya maupun masyarkatnya,bukan hanya itu pemimpinnya yang kerap menyebut pancasila sebagai pemersatu bangsa,kerap kali mereka yang menzholimi pancasila itu sendiri. Bermodalkan seruan pancasila ia kerap melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan janji politiknya,mereka hanya mementingkan kalangannya untuk kebutuhan materialnya bukan untuk meletakkan pancasila dalam sistem politik  mereka, hal ini tentunya sangat prihatin.

Cerminan tersebut pula,ada sebagian masyarakat yang juga sangat anti terhadap pancasila,mereka berusaha ingin menggatikan pancasila dengan pandangan kelompok mereka sendiri,bahkan meraka tidak tinggal diam,mereka melakukan terobosan menyimpang yang tidak sesuai dengan konteks Indonesia,mereka memaksakan pandangannya terhadap masyrakat Indonesia,jika terjadi perbedaan pandangan dari mereka,maka  akan melakukan aksi anarkisme guna memaksakan pandangannya.Dalam konteks yang terjadi saat ini kiranya para pemimpin bangsa dan masyarakat indonesa berbenah diri untuk membangaun kembali cita-cita para pendahulu bangsa ini. Apa yang terjadi saat ini adalah cerminan dari kurangnya pemahaman kita masyarakat Indonesia mengenai ketakwaan kepada sang pencipta,ketakwaan kepada sang maha kasih,hal menjadikan ketidakadilan dalam tatanan social,baik dalam social kemasyarakatan maupun dalam kepemimpinan. Ada baiknya dalam hal ini kita patut bercermin dari etnik budaya masyarakat yang ada di desa-desa, meskipun jauh dari lingkup perkotaan modern mereka dalam membangun struktur social masyarkatnya saling bahu membahu guna membentuk masyarakat yang di cita-citakannya,dalam hal ini pemimpin dalam masyarakat tersebut bisa mengakomodir masyarakatnya,untuk bagaimana saling membantu untuk tujuan bermasyarakat.

Seperti yang kami jelaskan tadi bahwa fenomena yang terjadi saat ini ialah kurangnya ketakwaan kepada sang pencipta,kurangnya pemahaman mengenai ketakwaan,akibat dari ini untuk membentuk pola masyarakat dengan landasan keadilan tidak tercapai,karena dalam gerkan social para pemimpin kita tidak menghadirkaan tuhan atau ketakwaannya untuk berhubungan dengan masyarakat,begitupun sebaliknya,maka dari itu kami akan mengaitkan dalam hal ini kepemimpinan yang bertakwa dalam hubungannya dengan gerakan social,seperti yang kami jelaskan tadi bahwa etnik budaya dalam kepemimpinan di pelosok desa sangat patut di ambil contoh dalam ketakwaan seorang pemimpin dan relasi antara masyarakatnya,maka dari itu kami akan mengurai kepemimpinan Ammatoa salah satu desa di kajang Sulawesi selatan. Meski dalam sejarah budaya bugis di setiap daerah ada yang namanya pemimpin Ammatoa orang yang di tuakan,sebagai pemimpin untuk masyarakat disetiap daerah yang dipimpinnya,akan tetapi seiring berjalannya  arus modern Ammatoa tidak lagi dipandang sebagai pemimpin disuatu daerah di tanah bugis,dalam arus modern ini Ammato kian redup bahkan di setiap daerah tidak lagi dipergunankan kepemimpinan tersebut,kecuali yang eksis sampai saat ini ialah di daerah kajang Sulawesi selatan yang tetap mempertahankan kultur kepemimpinan Ammatoa.Untuk lebih jelasnya sehubungan dengan pembahasan ini,kita memulai dari takwa dari sudut pandangan islam.Bagaimana takwa ini dengan hubungn individu manusia dan relevansianya ketika ketakwaan ini diletakkan dalam social masyarakat.

Pemebahasan mengenai takwa,yaitu hubungan vertical antara tuhan dan manusia. Hubungan ini bukan saja hanya pemahaman atau pengakuan  manusia bahwa kita ini mahluk bertuhan,akan tetapi takwa ini merupakan bagaimana untuk mendekatkan diri kepada sanga maha mutlak, bagaimana segala sesutau di alam ini kita bergantung kepadanya,bahwa ketergantungan ini bukan  untuk membatasi manusia,akan tetapi ketergantungan ini ialah agar manusia mencapai puncak penghambaannya  agar terhidar dari perilaku yang tidak sesuai dari sisi kemanusiaan. Takwa juga berkaitan dengan karakteristik spritual manusia,karakteristik pemikiran,karakteristik ahlak dan perbuatan-perbuatan manusia (Nahj al-Balaghah). Untuk itu dari uraian ini betapa pentingnya manusia untuk bertakwa karena takwa menyentuh langsung sisi kemanusiaan,bukan pengklaiman bahwa kita bertakwa tapi takwa juga berpengaruh dari perilaku dan pola pikir kita sebagai manusia penghamba.

Muthahhari dalam penjelasan menganai takwa itu sendiri bahwa takwa berasal dari akar kata “waqyan” berarti menjaga dan memelihara, artinya bahwa kita menjaga diri kita agar tidak terjerumus dari sifat hawania,kita menjaga diri kita dari perilaku yang tidak baik dan tetap menjaga diri dari lingkup ketakwaan kepada sang maha mutlak,dan juga dalam memelihara diri kita agar kita sendiri tidak mendahulukan nafsu hewania kita,akan tetapi kita memelihara ketakwaan kita agar menjauhi diri kita dari kemaksiatan (dosa). Dalam hal ini takwa berarti perlunya kita melakukan penyucian diri untuk mendekatakan diri kita kepada sang maha mutlak,takwa bukan hanya pengklaiman manusia bahwa ia bertuhan,akan tetapi takwa menjadikan kita bagaiman kita bisa menghindari perbuatan-perbuatan tercela yang tidak diridohi oleh Allah SWT. Takwa juga berarti kita menjauhi larangan-laranga Allah dan melakukan yang di perintahkannya Amar ma'ruf nahi munkar.

Betapa agungnya takwa ini  jika kita sebagaimanusia bisa sampai kepada puncak ketakwaan,untuk menjaga diri kita dari perbuatan tercela,dan takwa sebagaimana kita bisa mengendalikan perilaku kita dan pemikiran  untuk keseharian kehidupan kita,artinya kita hidup dalam perilaku yang telah diserukan oleh Allah yaitu perbuatan yang baik,terhadap sesama manusia,dan bagaimana kita bersikap adil dalam perbuatan kita. Ketakwaan merupakan subjektif manusia bagaimana ia sampai kepada puncak ketakwaan,akan tetapi takwa,jika hanya pada subjektifitas manusia dan tidak kita letakkan ketakwaan di lingkup social kita maka ketakwaan itu bukanlah makna hakikatnya. Maka kita bertakwa kepada sang maha mutlak bukan berarti kita hidup menyendiri dan tidak ikut dalam relasi social,akan tetapi kesempurnaan takwa ialah ketika kita mampu membawa ketakwaan kita ke kehidupan social kita dan melakukan kebaikan,bersikap adil kepada sesame manusia. Untuk itu orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang niscaya perbuatan sosialnya ialah keadilan kerena ketakwaanya tersebut telah membuat ia berlaku adil.

Andaikan para pemimpin kita dan masyrakat Indonesia mempunyai sikap kesadaran diri untuk bertakwa maka keterjagaan bangsa kita dalam kehidupan sosialnya akan sampai pada cita-cita pancasila. Sehubungan pembahasan ini bagaimana seorang pemimpin itu bertakwa dilihat dari sisi keadilannya dan perilakunya sebagai sosok pemimpin dimasyarakat,kita telah meyinggung pembahsan tadi persolan kepemimpina Ammatoa yang patut kita ambil contoh dalam kepemimpinannya terhadap masyarakat.

Dalam konteks masyarakat kajanga daerah sulawasi selatan kabupaten bulukumba ada seorang yang disebut sebagai Ammatoa yaitu pemimpin di daerah tersebut dan masyarakatnya sangat patuh kepada pemimpinnya. Tana toa dalam artinya tanah yang tertua maka Ammatoa sebagai bapak tertua atau pemimpin,menjadi seorang pemimpin di masyarakat kajang ini tidak mudah dan mempunyai kriteria tersendiri. Menjadi pemimpin atau Ammatoa tidaklah dipilih oleh masyarakat melainkan dipilih oleh orang-orang tertentu yang juga disakralkan artinya dalam bahasa umum pemilihan Ammatoa tersebut dipilih ole ulama-ulama yang mendapatkan berkah dari Tu Rie’A’ra’na,maka menjadi pemimpin dalam masyarakat kajang bukan sekedar menjadi bagian dari wilayah  akan tetapi juga capain spiritual,dan juga dilihat dari keturunannya juga perilakunya dalam kehidupan keseharian,bisa dikatakan calon Ammatoa mulai ia belum dewasa sampai pada umur matang untuk di angkat sebagai Ammatoa akan di ukur bagaimana perilakuknya dan ketakwaanya kepada Allah sang pencipta maka poin pertama untuk menjadi pemimpin dikalangan masyarakat kajang ialah ketakwaan, tanpa ketakwaan maka tidaklah di angkat sebagai pemimpin.

Ammatoa dalam sistem social masyarakat kajang ialah penegak hukum,dalam hal ini ketaan hukum merupakan landasan mereka untuk menjaga struktur masyarakat,bukan hanya itu hukum ini adalah ketentuan dari pasang ri kajang. Masyrakat mengenal pasang ini yang bersal dari Ammatoa yang melalui orang-orang terdekatnya atau orang-orang yang lebih tua, ada beberapa poin dari pasang tersebut,1.tidak boleh mengganggu kepercayaan orang lain,2.tidak boleh berbohong,mencuri dan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kemanusiaan,3.tidak boleh membunuh orang lain kecuali terpaksa untuk membela diri,4.harus sabar,5.harus saling menghargai sesama manusia,6.harus sopan dan rendah hati,7.harus patuh dan rela membantu sesama manusia,8.patuh kepada pemerintah adat dan Ammatoa.Beberapa poin diatas adalah landasan sistem bermasyarakat yang digunakan dalam keseharian mesyarakat kajang,dalam aturan tersebut tidak boleh dilanggar demi kelangsung hidup social masyarakat,apa lagi pesan ini lansung dari tetua mereka yang tentunya sangat dipatuhi. Dalam pesan atau bahasa kajang pasang tersebut bukan hanya pesan biasa akan tetapi pesan tersebut merupakan kesakralan dalam masyarakat kajang,itulah mengapa dalam tatan sosialnya sangat tersistem kerena mereka satu pandangan yaitu patuh kepada aturan yang berlaku dan juga Ammatoa yang sangat di hargai karena ketakwaannya apa lagi dalam pemilihan Ammato,dipilih oleh orang-orang yang disakralkan. Dalam kepemimpinan Ammatoa mempunya prinsip hidup bersosial yaitu tanah kamase-mase (dalam kawasan adat),artinya bahwa hidup yang lebih dari sekedar cukup, hidup yang cukup itu apabila makanan ada,pakaian ada,pembeli lauk ada,sawah dan ladang ada dan rumah yang sederhana ada.dalam hal ini masyarakat kajang telah menumbuhkan prinsip ini dalam kesehariannya, tentu dalam hal ini Ammatoa sebagai pemimpin juga menerapkan hal ini,mereka masyarakat kajang sangat petuh terhadap pemimpinnya kerena ahlak dari pemimpinnya tercermin dalam aktifitas sosialnya,pasang dan Ammatoa dua hal ini sangat menentukan hidup sosila masyarakat kajang eksistensi sesungguhnya dapat dikaitkan dengan kitab suci dan Rasul dalam agama-agama samawi.

Sistem sosial  bagi  masyarakat kajang  sangat  ditentukan  oleh  tingkat  “kesholehan” yang  bersangkutan  yang  telah  menguasai  penuntun  (Kajang:  Patuntung)  yakni  berupa pesan-pesan leluhur (Kajang: Pasang ri Kajang) yang berintikan pada prinsip  “Kamasemasea”  (kebarsahajaan),  baik  dalam  pemahaman  substansi  maupun  dalam  wujud kehidupan  sehari-hari,  termasuk  dalam  pembentukan  rumah,  sehingga  rumah  bagi mereka adalah  yang sederhana saja,  (Kajang: Balla situju-tuju) dan dalam bentuk  yang seragam, guna menghindari adanya perasaan lebih atau kurang diantara warga Komunitas Ammatoa  Kajang.  Bagi  Komunitas  Ammatoa  Kajang  rumah  bukanlah  merupakan “kebutuhan”  karena  yang  menjadi  kebutuhan  mereka  justru  bagaimana  menjalankan hidup sebaik-baiknya sehingga selamat di akhirat,  (Usop  dalam Aminah: 1978).

Begitupun dengan gaya hidup mereka mempunyai prinsip kesederhanaan sebagaimana aturan-aturang yang terdapat dalam pasang rikajang, pasang tersebut menjadi ciri khas masyrakat kajang yang menjadi epistemic mereka dalam bersosial,sehingga tingkah laku mereka sesuai dengan ajaran pasang rikajang,mereka meganggap tidak perlu hidup dalam berlebihan karena hidup berlebihan akan menimbulan konfilik di antara masyarakat yang pada akhirnya menimbulkan ketidakharmonisasian dalam hubungan social mereka. Dalam hal ini mereka menghindari hidup yang mewah.

Hal yang menarik juga dalam kepemimpinan dan social masyarakat kajang ialah keseimbangan kosmik mereka,maksudnya dalam struktur social masyarakat kajang sangat menghargai warisan nenek moyang mereka yaitu alam semesta yang mereka tempati,mereka meyakini bahwa alam ini merupakan warisan nenek moyang mereka yang harus ia jaga kelestariannya dan keseimbangannya,tidak boleh merusak dan apa lagi mengabaikannya. Terbukti bahwa masyrakat kajang sangat memelihara hutan mereka yang sampai saat ini masih dijaga sabagai salah satu sumber kehidupan mereka. Dalam pengelolahan hutan juga tidaklah sembaranga, ada atutan yang harus di penuhi sebelum mengambil hasil hutan tersebut, dengan seizin dari Ammatoa selaku pemimpin adat. Jadi keputusan akhir boleh tidaknya masyarakat mengambil kayu di hutan ini tergantung dari Ammatoa. Pun kayu yang ada dalam hutan ini hanya diperbolehkan untuk membangun sarana umum, dan bagi komunitas Ammatoa yang tidak mampu membangun rumah. Selain dari tujuan itu, tidak akan diizinkan.namun tidaklah semua kayu di hutan boleh di tebang,hanya kayu tertentu yang bisa di tebang untuk kebutuhan masyarakat.

Syarat utama ketika orang ingin menebang pohon adalah orang yang bersangkutan wajib menanam pohon sebagai penggantinya. Kalau pohon itu sudah tumbuh dengan baik, maka penebangan pohon baru dapat dilakukan. Menebang satu jenis pohon, maka orang yang bersangkutan wajib menanam dua pohon yang sejenis di lokasi yang telah ditentukan oleh Ammatoa. Penebangan pohon itu juga hanya boleh dilakukan dengan menggunakan alat tradisional berupa kampak atau parang. Cara mengeluarkan kayu yang sudah ditebang juga harus dengan cara digotong atau dipanggul dan tidak boleh ditarik karena dapat merusak tumbuhan lain yang berada di sekitarnya.

Apa yang patut kita contoh dalam kepemimpinan Ammatoa dan masyarakatnya ialah mereka sangat menghormati pemimpinnnya,mereka percaya bahwa pemimpinnya Ammatoa bisa membawa mereka sampai kepada sang pencipta,terbukti bahwa pemilihan Ammatoa bukanlah dari kalangan biasa,akan tetapi pemilihannya melalui kesakralan orang pilihan yang menurut kepercayaan mereka bahwa orang tersebut membawa pesan dari Allah, juga dalam kriteria Ammatoa seperti dijelaskan di atas bahwa poin pertama ialah ketakwaan kepada sang pencipta,juga perilakunya,ibadahnya,karna kriteria ini menurut kepercayaan mereka bisa membentuk masyarakat yang adil makmur karena ketakwaannya kepada sanga maha mutlak, apa lagi dengan aturan yang telah di tetapkan dalam masyarakat kajang,mereka sangat patuh dengan aturan yang di buat tersebut,karena menurut kepercayaan mereka aturan itu ialah sacral pesan lansung dari pencipta alam ini melalui tetua mereka.

Maka dari itu kepemimpinan Ammatoa itu sendiri ialah berdasarkan ketakwaan dan ketakwaannya ini ia letakkan di alam dalam sistem kepemimpinannya,melalui keadilannya terhadap masyarakatnya,bukan hanya itu,keadilannya juga bukan hanya kepada masyrakatnya akan tetapi juga terhadap alam ini,bahwa sumber daya yang ada di wilayah mereka seperti telah kita jelaskan bahwa ada aturan tertentu yang tidak boleh dilanggar untuk mengambil sumber daya alam mereka,ini merupakan salah satu sifat keadilan terhadap kosmik.

Dengan kepemimpinan Ammatoa dalam struktur social masyarakat kiranya kita bisa mengambil contoh apalagi untuk pemimpin bangsa ini,bahwa untuk menjadi pemimpin dalam bernegara harus ada ketakwaan kepada Allah SWT,dengan ketakwaan ini meniscayakan perbuatan keadilan  social di masyarakat,alhasil masyarakatpun akan melihat perilaku pemimpinnya dalam mengakomodir mereka,seperti kepemimpinan Ammatoa. Maka masyarakat akan mematuhi aturan yang di tetapkan oleh pemimpinnya karena mereka percaya atas ketakwaan dan keadilan pemimpin tersebut,jika demikian pancasila sebagai asas Negara bisa diterima di masyrakat dan tak perlu adanya konflik seperti sekarang ini karena kesadaran bernegara muncul dengan sendirinya. Karena pemimpin mencermikan sifat pancasila dalam perbuatannya,karena masyarakat sadar dengan pemimpin mereka bisa dipercaya untuk keberlangsungan hidup social mereka sperti dalam masyarakat kajang. Untuk itu kiranya kita sadar dalam bertakwa kepada Allah guna menyelamatkan kita dari sifat hewania kita agar dalam relasi social kita bisa meletakkan keadilan untuk keberlangsungan social masyarakat tentunya dalam bernegara,seperti yang dikatakan al-Quraan: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs Al hujarat :13).

  • view 181