Perjalanan seorang pewaris

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 18 September 2016
Perjalanan seorang pewaris

perjalan yang panjang bisa di katakana memaksakan intelektual,ini subjektifitas saya,mengapa demikian?karena kita terlalau lartidur dengan nyayian pengetahuan yang entah kita dari mana objektifikasinya,apa nilainya,bagaimana proses perjalanan pengetahuan itu sampai pada kita bisa mengamininya,selama ini kita hanya mentasawur sebuah informasi yang tanpa ada validitas pada informasi tersebut,hingga kita menilai sebuah informasi yang kita tangkap tanpa ada klarifikasi. Hebatnya lagi kita mentasdiknya di ide,bukan pada alam itu sendiri,akhirnya kita merasa ini lah jawaban yaitu ide-ide itu sendiri,akhirnya kita hidup dalam tataran yang menyedihkan,sungguh entalah kita pada masa itu hidup di dalam ide-ide tersebut,sebab dalam tahapan ide tidak ada beban semuanya sempurna,sungguh kita menyedihkan.Sebagai mahluk berfikir.

ada sebagian dari kita secara tidak langsung menolak fitrah tersebut,mengapa demikian,karena sebuah cerita di atas,kita hidup di alam ide,yang tanpa ijtihad kita lalu mentasdik,bukankah ini sebuah penolakan berfikir?.
Sampai pada suatu keadaan dimana kita di pertemukan pemikiran “BAQIR SADR”, ternyata dalam dialog tersebut terdapat suatu struktur keberfikiran,pada akhirnya kita mulai bagun dari hagemoni ide-ide yang dimana sebelumnya kita hidup karenanya.akhirnya seperti yang penulis katakana di awal bahwa telah lamanya kita hidup di ide-ide tersebut,akhirnya kita memulai membuka cara berfikir kita,dan tentu ini sangat menyiksa batin,mamaksakan intelektual kita,yang sejak dari sebelumnya kita mengistirahatkannya,dan mungkin bahwa ada yang tidak pernah menggunakannya. Pertemuan dengan Baqir Sadr membuat kita memhami sutu struktur dan berusaha menggunakan pola berfikir kita,meski ada dari kita memaksakan memahami hal itu,sebab kita terlalau lama mengistirahatkan intelektual kita,fitrah berfikir.
Dialog Baqir Sadr dengan para pemikir barat membukakan cara berfikir kita,dan mungkin ada teman-teman sekelas mengunakan sutu metode keislaman yaitu ijtihad,untuk memahami dialog tersebut. Karena dialog tersebut bukan hanya dialog antara ibu-ibu rumah tangga,melainkan dialog antara pemikir-pemikir yang di mana pemikirannya sangat berpengaruh di dunia,dan banyak dari kita menggunakan pemikiran tersebut,akibatnya banyak dari kita bangsa Indonesia kehilangan nilai-nilai agama,tauhidnya,dan sikap objektif dalam berfikir. Karena efek penyebaran pemikir pemikir barat yang kita adopsi,kita tidak melalukan budaya berfikir kita sendiri keislaman,dan kita telah lupa bahwa sumbangsi pemikiran muslim mengenai struktur

pengetahuan,sain,social,ekonomi dan budaya, kita lupakan,dan mungkin yang mengerikan lagi bahwa sumbangsi pemikiran ini ada sebagian dari kita tidak ada yang tau,sebab kiblat dari arus pemikirannya adalah barat.
Bukannya islam melarang jangan membaca buku-buku barat,bukan itu persoalannya,yang jadi masalah kita tidak memahami sturuktur pemikirannya,tasawur,doktirn dan nilainya,kita hanya mengadopsinya tanpa ada klarifikasi terlebih dahulu,sebelum ada penilaiian. Akibatnya dari ini semua pandangan dunia kita menjadi materialistic,dan ideologi kita bukan lagi pada memasukkan keislaman di dalamnya melainkan ideologi yang menyimpang. Agama,tuhan dan hari akhir hanya jadi cerita dongen atau mitos yang kita pahami.

Kita hanya mewaris pemikiran barat,karena kita terhegemoni dengan teknologinya,maka dalam pahaman kita baratlah yang menjadi kiblat pengetahuan,bukan itu persoalannya,kita tidak menolak barat dengan teknologinya,akan tetapi prinsip keberfikiran dari barat,dan nilai pengetahuannya kita tolak,sebab menjadikan manusia itu penuh denganharapan kosong,dan tidak mengenal lagi dirinya,agamanya dan Tuhannya,ketiga hal ini di dalam pemikiran barat di kesampingkan,menjadi sekuler,dan radikalisme pengetahuan yang entah objektifikasinya dari mana,pengetahuan di tempatkan dalam ide-ide tersebut,tidak tidak lagi bersma kita,akan tetapi tuhan jauh dari kita,ia di kesampingkan,suatu saat ketika ita membutuhkannya ia akan di ingat,artinya determinisme material. Kita tidak lagi mempunyai pandangan dunia sebgaiman adanya,alam,sejarah dan manusia,akan tetapi pandangan kita hanya materialism individualistic,ideologi kita bukan lagi sebagai man mestinya,tapi sebagaiman kita bisa mengumpulkan kekayaan dan memikirkan diri sendiri,akibat dari ini ada pemotongan struktur social. Gerakan kita bukan lagi gerakan nubuah tetapi gerkan radikal,bukan lagi gerakan intelektual keislaman tapi gerkan penjajahan,akibat kita tidak memhami pandangan dunia dan ideologi keislaman dalam
gerakannya social dan individu kita sendiri.

Kerena dalam awal pemikiran sebagian dari kita tidak memhami struktur konsep,dari manakah konsep tersebut?,inilah landasan awal pengetahuan,dan labih mengerikan lagi konsep dengan sendirnya kita tasdik di pahaman,buakan di kembalikan lagi dari landasan konsepsi tersebut,nilainya kembali pada subjektifitas manusia,ini awala dari individualistic,kemudian kkurangnya dari kita tidak memahami doktrin tersebut,kita hanya mengambil doktrin ini tanpa filter lagi,kerna landasan konsepsi awalnya tidak kita pahami,akhirnya hidup menjadi makna-makna,tanpa ada objektifnya,begitupun dengan nilai,apa nilai tersebut yang menjadikan pengethaun kita mempunyai obktektifikasi?,objek pegetahun kita harus lah dikembalikan kepada sumber pengetahuan awal, yaitu alam sebagai lansannya,bukan kembali kepahaman seperti Barkeley,yang menjadi semua yang ada ini hanya pahaman,begitupundirinya ketika dinilai dengan manusia,Barkeley hanya pahaman buak relaitas di alam. Akibat dari in semua,sekali lagi bahwa tasawwur,doktirn dan nilai, kita kembalikan lagi kepada alam agar bernilai dan objektif bukannya kembali kepada subjektifitas.

Pertemuan dengan diaolog Baqir Sadr,membuka cakrawala berfikir kita,bahawa ternyat ada struktur keberpikiran manusi untuk sampai pada pengethaun objektif,bukan subjektif,kita bisa menarik arah dari ketiga struktur pemikiran tersebut,mengnai ekonomi,politik,agama,budaya,sampai kapada pencipta itu sendiri. Peradaban islam telah banyak meawarisi intelektual yang banyak mengubah pola pikira masyarakat baik muslim maupun non muslim sendiri, bukan hanya Negara lain,bangsa kita sendiripun banyak intelektual yang mewarisi pemikirannya seperti,Gusdur,Kuntowijoyo,Cak nun dan masih banyak yang lain,begitupun juga di luar dari denara kita seperti Muhammad Iqbal,Baqir Sadr,Fazlur Rahman,dan lain sebainya. Cuma yang ironis dari ini ialah kita tidak mau mencari sejara peradaban islam,kita apatis dengan ini semua,karena hegemoni barat yang telah berakar kuta di kalangan masyarakat kita sendri.

Maka dari itu siapa yang akan melanjutkan estafet intelketual kita,siapa yang akan melnjutkan gerakan nubuah yang telah ribuan tahun diperthankan oleh pemikir muslim,untuk itu kita yang telah ,ulai mengkaji hal ini kiranya kita juga janagn telarut dalam pemikiran saja,bukan itu,akan tetapa harus ada aksi di alam,untuk bagaiman akar radikal ini kita bisa lawan denganpemikiran kita,pemuda-puda kita banyak yang telah terhegemoni dengan pandangan dunia barat,akibatnya gerakan keislaman menjadi mandeg jalan di tempat. Dari hal ini banyak yang menjadikan pemikirannya menjadi radikal,mensesatkan sesama manusia,kafir,dan sebagianya,seolah merekalah yang ahlih ibadah dan telah mempnyai jaminan dari tuhan,pahamana mereka ini ingin meniscayakannya ke alam yang tidak mempunyai kriteria objektif,mereka ingin masyarakat kita semua satu pahaman,yaitu pahaman mereka itu sendiri,ini laha kesalahan berfikir mereka yang tidak mempunyai landasan ilmiah dana rasional,konsepsi,doktrin dan nilai. Akan tetapi mereka telah diracuna pahaman radikal tersebut.

Sudah saat kita mengubah cara pandang kita mengenai alam ini,masyarakat,dan bagaiaman kita menjaga keutuhan Negara kita,dana melawan pahaman radikalisme itu. Mari kita meleaskan kehidupan kita di ide-ide tersebut,dan objetifikasi pemikiran kita melalui struktur tasawwur,tasdik dan nilai, dialog Baqir Sadr ini sangat menarik untuk sebuah gerkan intelektual,dan juga pemikir muslim lainnya yang telah memberi sumbangsi pemikirannya dengan beberapa bukau-bukunya. Pertayaan selanjutnya,apakah kita akan mewarisi peradaban intelektul muslim?,tentunya untuk mewaris hal tersebut,kira di lakukan sebuah pembelajar,pengkajian,dan ijtihad,artinya belajr bukanlah satu tahun atau beberapa bulan saja,melainkan kita belajar sampai kita menghadap sanga pencipta,membentuk sutu pola peradaban belajar,agara cara pandan kita mengenai dunia ini bukan lagi ide atau sekularisme,melainkan pandangan dunia tauhid,gerkan kita gerkan nubuah,bukan gerakan radikalisme. Kita sebagai pejalan intelektuak dana pewaris pemikiran keislaman,satu hal yang sebagain cukup sulit dilakukan parapewaris intelektual ialah pernikahan,mungkin dalam hal ini kita punya subjektif dalam menaggapi,akan tetapi gerakan nubuah dan intelektual sekiranya akan rapu dan kering tanpa pernikah,atau tanpa perempuan di sampingnya,poin terakhir ini saya hanya ingin menegaskan bahwa mari kita memikirkan masing-masing persoalan ini. Wasalam

  • view 162