Materi atau Tuhan Dan filsafat fisika bagian III

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 23 Agustus 2016
Materi atau Tuhan Dan filsafat fisika bagian III

Dalam pembahasan sebelumnya kita telah mendiskusikan mengenai filsafat fisika bagian dua, dalam strukturnya alam,jiwa,tuhan. ketiga hal ini kita membahasa dengan keterkaitannya,bahawa alam sebagai materi fisik,dan jiwa yang mempersepsinya,kemudian tuhan yang non materi filsafatnya,fisika dan filsafata kita hubungankan dalam metode teoritas,untuk menemukan sesuatu yang tetap dengan kemungkinan-kemungkina ilmiahnya,persoalan ini kita telah membahasa di bagian dua diskusi kita. Sekarang kita akan merujuk pada pembahasan selanjutnya.

Secara fisik kita melihat benda-benda yang ada di sekitar kita,atau kita melihatnya dengan indra penglihatan kita,misalnya benda bersegi tiga,apakah benda yang bersegi tiga tersebut yang kita lihat dengan pengamatan kita,kemudian kita pahami benda tersebut,akan tetapi apakah dipahaman kita juga berbentuk segi tiga?, tentunya kita hanya memahami benda tersebut,yang tidak berbentuk segi tiga,ini merupakan pahaman saja,bentuk bentuk itu kita tangkap sebagaimana yang ada di realitas,bahwa ukuran dan beratnya tidak terkait dengan apa yang kita pahami,karan ukuran dan berat benda tersebut,tidaklah berefek di pahaman kita. Misalnya juga kita melihat air panas,tentunya esensinya tidak terkait dengan apa yang kita lihat kecuali kita menyentuhnya,kita hanya melihat dan tidak terkait dengan fisiknya tersebut. Maka secara indrawi kita melihat bentuk tersebut akan tetapi aspek materialnya tidak ikut dalam pahaman kita,dalam keterkaitan ini ilmuan mengatakan bahwa materi disebut bentuk fisiknya dan bentuk disebut korporealnya  mereka memahami seperti itu. Jadi apa yang kita tangkap itu terbagi menjadi materi secara fisik dan materi secar korporeal, korporeal terkait dengan aspek aspek fisik misalnya gelas ia mempunyai dimensi yang kandungannya adalah beratnya,warnanya  dengan hal ini kita tidak berhubungan secara fisik kita hanya melihatnya. Kemudian muncul pertnyaan dari manakah kita menangkap korpeoreal bentuk-bentuk seperti itu,maka mereka mengatakan bahwa ada makna atau pahaman,sehingga orang-orang selalu mengaitkan realitas tersebut dari makna.

Pemaknaan ini yang menarik objek-objek tersebut,jadi ketika ada objek yang sama secara fisik yang ditangkap dimensi korporealnya sebagai kaitannya diluar karena itu dibentuk oleh pemahaman yang sesuai makna yang ditangkap,jadi kbenda yang kita lihat tidak akan bisa ditangkap secara bentuk jika kita tidak mempunyai pemahaman tentangnya. Ini merupakan gambaran idealisnya,jadi apapun yang kita lihat dan kita tidak mempunyai pemahaman mengenai hal tersebut maka sesuatu itu pasti tidak memiliki bentuk dalam pamahan kita,karana banya hal yang kita lihat di realitas alam ini,kita tidak mempunyai pahaman tentangnya yang bisa kita sebut pra konsepsi. Jadi apakah yang kita lihat tersbut kita bisa menyembutnya sesuai keinginan kita?,tentunya tidak demikian,kecuali kita diberi tau pertama kali mengenai apa yang kita lihat, dalam pembahsan yang lalupun kita telah membahasan sebagaian hal ini,di bagian dua dalam tulisan sebelumnya.

Sekarang kita akan memasuki subtansi pembahasan. Jadi seandainya kita coba pisahkan antara apa yang kita rasakan tersebut  dan kita mencoba untuk diam terhadap yang kita rasakan dan tidak mengatakannya,kapan kita mengatakannya itu masuk dalam imaji dan pemaknaan. imaji dan pemaknaan tidak ekuivalen dengan apa yang kita rasakan,apakah pada dirinya yang kita rasakan itu benar-benar sesuai apa yang kita katakana,tentunya tidak demikian,filsafat barat masuk pada kata hermeneutika . sebagaiman yang kita bahas sebelumnya bahwa melihat tidak ekuivalen dengan apa yang kita tau,melihat untuk menjadi konsep tidaklah lansung secara seketika,tentunya kita harus diberi tau apa sesuatu itu,konsep dibentuk dengan informasi primer tanpa informasi primer kita tidak mengetahui hal tersebut,kita Cuma melihat tanpa mengetahui. Ini yang menjadi pijakan bahwa didalam fisika ada objek-objek fisik ,filsafat mengatakan bahwa materi itu apa yang kita rasakan,dan yang kita katakan,yang kita model,batasi itu bukanlah filsafat. Panas itu bukanlah materi,dan yang kita ucapkan itu hanya batasan,karna mentakan itu bukanlah materi itu sendiri,itu hanya pikiran. Maka apa yang dikatan materi oleh barat itu adalah pikiran dalam pandangan filsafat,dan yang kita sebut materi dalam filsafat apa yang kita rasakan,bukan yang dikatakan ini merupakan titik penekanannya.

Perlu di ingat bahwa,bukannya kita menolak materi atau apa yang dikatakan,persoalnya adalah apa yang kita katakana itu hanya batasan bagi sesuatu yang lain,menarik dalam pembahasan ini bahwa bertemunya  filsafat dan fisika memang ada objek-objek fisik yang objektif,yang kita rasa. Artinya materi itu disebut alhayulah maddah (materi awal) istilah dalam filsafat,materi awal ini yang kita tidak katakan ia penerima berbagai forma. Maka ada yang kita rasakan,misalnya kita sebut panas dan ada yang kita rasakan kita sebut dingin dan ada yang kita rasakan yang disebut air. Jika semua kata ini kita tidak gunakan atau kita buang maka bagaimana dengan pada diri sesuatu tersebut ia bukanlah apa-apa,jadi apa yang kita katakan membatasi diri sesuatu itu,artinya kalau kita melepasakan semua kata itu yang ada hanya sesuatu pada dirinya  disini kita bertemu pada Kant sesuatu pada dirinya,hanya saja Kant dalam hal ini tidak menyingkap hal itu,filsafat islam akan menyingkap hal ini yang disebut sesuatu pada dirinya. Ini pembahasan yang subtansial dalam kajian falsafatuna tentu tugas kita saat ini bagaimana mentasdik non materi pada materi,sekarang ini kita telah mentasdik filsafat pada materi.

Maka judul tulisan ini materi atau tuhan,materi kita sebut primer dan tuhan sesuatu pada dirinya,dan pada materi ini ada kata yang kita letakkan padanya,jadi apa yang kita sebutkan pada benda-benda itu tidak ekuivalen dengan apa yang ada pada materi tersebut,karena penamaan tersebut buakanlah realitas objektif pada dirinya materi primer tersebut. Karena apa yang kita lihat kemudian kita konsep dan kita letakkan penamaan pada materi itu,akan tetapi bagaiman dengan diri sebagaimana materi tersebut? Pada dirnya. Tentunya seperti yang dikatakan di awal bahwa kata tidak ekuivalen dengan materi. Sekarang dalam kajian kita untuk lebih subtansial kita berpusat pada sesuatu pada dirinya,meminjam istilah Kant,bukan berarti kita sepakat apa yang dikatakan Kant,sebab sesuatu pada dirinya yang dikatakan Kant tersebut tidak bisa ia singkap,kembali lagi pada analitik, (lihat bagian pertaman pada tulisan ini) disitu kita telah membahasa Kant. Dalam kajian filsafat islam kita ingin menyingkap sesuatu pada dirinya itu, dalam pembahasan ini kita telah sampai pada materi utama yang disebut materi primer,jadi materi ini menjadi pijakan antara saintifik dan filsafat namun dalam hal pandangan sains materi hanya sampai pada hal-hal yang eksperimen,yang tersusun dan terbagi akan tetapi filsafat islam kita sampai pada materi primer yang utama tidak berkaitan dengan fisika,dan kita masuk pada apa yang dikatan Kant sesuatu pada dirinya yang ia sebut metafisika,tapi filsafat islam berbeda dengan hal itu,apa yang disebut Kant metafisika itu dalam flsafat islam mandangnya fisika inilah titik perbedaannya.

Fisik (sesuatu pada dirinya),materi filsafat dalam hal ini sesuatu yang membentuk sesuatu. Misalnya ada sesuatu yang kita sebut air,kemudian sesuatu yang kita sebut air ini dibentuk oleh dua unsur sesuatu yaitu H2 dan O2,jika kita melepaskan penamaannya dan kita kembalikan pada dirinya maka ia hanya sebagai sesuatu dan yang membentuk materi sesuatu diluar sesuatu itu seperti contoh air di atas,karena yang membentuk air diluar air itu sendiri.  Sekarang pertanyaan kita adalah apa yang membentuk materi dari materi primer tersebut?,karena kita telah sampai pada materi awal primer. Jika demikian maka tidak ada lagi yang membentuk materi primer karena ia merupakan materi dasar,bukan materi ilmiah yang dikatakan barat,tapi materi filsafat,dengan demikian kita kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak ada lagi diluar materi atau tidak ada lagi diluar fisika dalam pengertian primer,karena diluar dari fisika hanya pemahaman idealiasme. Untuk itu sebab materialnya,materi primer tidak ada lagi,maka tanggung jawab kajian kita sekarang bagaimana mengetahui sebab efisien,kita pahami bahwa sebab sebab efisien dan sebab material adalah sesuatu yang terpisah dari dalam pikiran kita,akan tetapi dalam realitas sebab efisien dan sebab material tidak menyatu tapi bersama.berbeda dengan barat ia menyatukan keduanya,untuk hal ini penekanan kajian kita materi atau tuhan berakhir pada materi primer yang tidak ada lagi diluar materi,atau diluar fisika,untuk pembahasan sesuatu pada dirinya kita akan membahas pada kajian yang lain yaitu materi dan filsafat,kita cukupkan pembahasan materi atau tuhan. mudah-mudahan kami diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa melanjutkan kajian ini,tentang sesuatu pada dirinya materi dan filsafat,di pembahasan berikutnya.

  • view 201