Materi atau Tuhan

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Materi atau Tuhan

Masalah masalah sains berkaitan dengan tuhan merupakan pembahasan yang paling abstrak dikalangan pemikir saintifik terutama barat tentunnya,bahakan tuhanpun ditiadakan dalam pengatahuannya,tuhan dikesampingkan dalam masalah pengetahuan mereka,lantas jika tuhan dikesampingkan dalam pengetahuan,lalu apa nilai dari semua itu?,dan menghasilkan pengetahuan yang tak bernilai dan menemukan titik abstrak para ilmuan sains,bahakan sampai sampai mereka menemukan titik kebuntuan dalam persoalan ini,mengapa demikian,bahwa para ilmua mengkaji alam ini dan menemukan bahawa materi dalam kajiannya menemukan yang nama ruang hampa,atau bahasa enstain substratum,yang tidak bisa mereka ketahui,sampai disini sains seperti yang penulis katakana mengalami kebuntuan, lantas apakah ruang kosong tersebut?,mengapa sampai tidak ada penilainnya,? Dan bagaiman islam memandang sains ini?. Sebelum membahas lebih jauh,mari kita membahas sains atau fisika dalam pengertian barat,dan apa sebenarnya materi itu dalam pandangan mereka.

Lanjut membahas mengenai hal diatas tentunya dalam sejarah sains terah banyak mengalami berubahan dan beberapa penemuan-penemuan oleh para pemikirnya,tentu kita tidak lewat pembahasan ini,terutama mengenai relatifisme,kaum ini mengakui adanya realitas objektif akan tetapi berdasarkan penilaianya mereka mengingkarinya,salah satunya adalah Imanuel Kant. Kant dalam hal ini merumuskan dua pon yaitu analitik dan sintetik,membehas mengenai kedua poni ini yaitu anlitik itu merupakan mensifati benda tanpa meninjau lebih dalam lagi,atau tnpa mengklarifikasi,seperti benda itu memuai dan segitiga itu tiga sisi,jadi suatu penilaian yang tidak ditambahkan pada benda tersebut,berbeda dengan sintetik,putusan ini kita mengetahuai lebih dalam dari benda tersebut,atau penilaian diluar dari benda itu,putusan sintetik ini sperti benda-benda itu berat panas memuaikan partikel-partikel bendawi,dua tambah dua sama dengan empat. Inilah dua putusan yang di kemukan oleh Imanuel Kant, seperti pembahasan ditas kalau kita tarik labih rinci maka putusan analitik satu penilaian yang sifatnya pada benda kemudia putusan sintetik terbagi dua yaitu primer dan sekunder,mengenai primer ini terkait sebelum adanya pengalaman namun tetep ada dalam pikiran dan persoalan ini sudah bisa di nilai seperti dua tambah dua sama sengan empat,dan sekunder terdapat dalam pikiran setelah pengalaman seperti panas dengan batu yang disinari matahari.jadi dalam hal ini ada ide bawaan dan ada pengetahuan yang di ambil dari luar pikiran,tentu tidak serta merta pandangan ini berdiri kokoh,dalam analisis filsafat islam bahwa Kant dalam konsepnya itu sintentik tapi ia berakhir pada analitik.

Kant dalam doktrin emperisnya ada dua putusan seperti yang kita bahas,yaitu putusan analitik (metafisika) sebagaian realitas objektif di akui diluar pikiran,putusan sintetik ada primer dan sekunder,primer matimatika dan sekunder sains alam,kedua hal ini berada di dalam pikiran,kalau kita analisis bahwa Kant dalam metafisikanya sangat realis,karena mengakui sesuatu diluar pikiran,kan tetapi penilainnya berakhir kebuntuan,dan sintetik hanya berakhir ke analitik lagi,karena untuk menemukannya Kant tidak mempunyai neraca pemikiran,karena sintetik ini ide bawaanya yang tidak ada diluar dari pikiran. Dan Kant tidak mampu menjalaskan metafisikanya kerena neraca pengetahuannya adalah emperis,dan tidak bisa ia nilai di alam,Kant berakhir pada idealism menganai pengetahuannya apa lagi persoalan ketuhanan,Tuhan berada dalam pikiran Kant,akan tetapi tidak bisa dinilai,maka ia mengeluarkan digtum sesuatu pada dirinya yang tidak diketahuai,kembali lagi menjadi analitik Sesutu pada sesuatu. Inilah pengetahuan dalam pandangan Kant dan sangat berpengaruh di dunia,mari kita tinggalkan pemikiran kant,kita akan melanjutkan pembahasan ini dalam sekeptisme saintifik,sekeptisme ini dipopulerkan oleh behaviorisme yang mengukur sesuatu dari perilaku manusia,dan titik analisisnya perilaku gerak tubuh,atau bisa dikaitkan denga psikologi,mereka menganalis perilaku manusia dari apa yang ia lihat,bukan kenapa manusia berbuat seperti itu,tanpa ia klarifikasi terlebih dahulu. Mereka memulai dari akibat,bukan dari sebab,ia menggunakan saintifik gerak dalam penilaiannya. Kaum ini menemukan titik pengetahuannya atas dari eksperimen Pavlov yang menyatakan dukungan besar   yang memungkinkannya untuk menyatakan multiplisitas stimultas yang diterima oleh manusia dikarenakan pertumbuhan dan peningkatan stimultan tersebut dengan cara pengkondisian (falsafatuana hal 123). Pernyataan ini menganalisa fisika kemudian memindahkannya ke manusia dengan garak perilaku,tanpa diketahui apa tujuan perilaku tersebut,dan meneliti tentang gerak jadi menilai fisik manusia seperti seperti benda fisika, maka pemikiran behaviorieme ini berakhir pada skeptisme saintifik sebab mendudukkan nilai dikepala karena hanya perilaku manusia yang di analisis,pikiran tergantung stimulasi kondisi ,kondisi yang determinan. Kita tak perlu menghawatirkan ini,selama pemikiran kita masih dalam struktur epistemic tidaklah untuk kawatir dalam hal ini,dan toeri ini juga telah di tolak dibarat, mari kita melanjutkan kajian ini dalam pandangan fisika bagaimana ia memahami materi itu,pokok-pokok pembahasan ini merupakan kesimpulan bahwa sampai kajian yang mendalam secara umum bahawa dunia ini niscaya secara esensial,atau alam ini senang tiasa bergerak,barat maupun muslim sepakat akan hal ini,namun dalam struktur gerak mempunyai pemahaman yang berbeda,seperti tulisan saya yang lalu mengenai gerak subtansial,kita telah membahasnya,namun bagaimanakah materi dalam perspektif fisika?,ini yang akan kita kaji. Apakah sumber utama materi itu yang meniscayakan ia secara esensial? Apakah materi itu ada dengan dirinya sendiri atau ada yang mengadakan diluar dari dirinya?,mari kita ambil contoh untuk tujuan klarifikasi dalam falsafatuna misalnya kursi hanya bentuk yang dihasilkan oleh serangkaian materi  kayu,itulah mengapa kursi kayu tidak bisa ada tanpa ada materi kayu,jadi kayu disebut sebagai sebab materi dari kurs kayu,karena mustahil kursi kayu ada tanpa adanya materi kayu tersebut.

Akan tetapi sebab materi ini bukan sebab hakiki dari adanya kursi kayu tersebut,karena materi dan kursi tidak akan menjadi berupa bentuk kalau tidak ada yang membuatnya yaitu tukang kayu tersebut yang kita sebut sebab efisien,jadi disini kita bisa bedakan yang mana sebab materi dan sebab efisien. Dalam contoh tersebut kita bisa menarik sebuah hipotesa bahwa apakah agen atau sipembuat dunia ini apakah sipembuat dunia ini terlepas dari ciptaannya,seperti yang kita contohkan di atas,ini lah masalah yang akan menentukan tahap akhir dari pertentangan filosofis antara materialism dan teologi, kita telah membahasa sebelumnya bahwa dialektika yang berupaya mencari dan merumuskan persoalan ini dan berakhir kebuntuan dengan teori kontradiksinya,mari kita membahas persoalan ini lebih lanjut dalam sejarah sains ada dua pemikiran yang telah dipelajari selama ribuan tahun,menganai unsur sederhana materi yang tersusun  sangat kecil yang disebut atom. Pemikiran ini pertama kali di kajia dalam sejarah yunani yang mengemukakan bahwa unsur-unsur dialam ini melingkupi air,udara,bumi,dan api sebagai unsur sederhana yang mereduksi seluruh benda kerena unsur-unsur tersebut bahan utama alam ini. Kemudia teori disjugtif merupakan teori atomistic yang di temukan  oleh Demokritus,yang mengemukakan bahwa benda tersusu dari bagian-bagian kecil yang ditembus dari kehampaan,dan menyembutkan bagian-bagian ini adalah atom,dan bagian ini katanya adalah sesuatu yang tak di bagi,jadi dasar dari teori kehampaan itu dari teori demokritus atau yang bisa dikatakan ruang kosong, jadi dalam hal ini atom-atpm itu yang tersusun sangat kecil,kemudian teori berkelanjutan,teori ini dikemukakan oleh aristoteles bahwa suatu benda tidak tersusun dari bagian-bagian terkecil melainkan banda solid yang dibagi menjadi bagian-bagian,terjadilah perbedan pendapat di antara pemikir ini,akan tetapi kita bisa manrik kesimpulan bahwa pahaman kedua pemikir ini ada kesamaan dalam bagian-bagian teori yang dikemukakannya tersebut,kemudian perbedaan pendapat ini berlanjut sekian lama dan menghasilkan penemuan baru elektorn,proton dan neutron,ketiga hal ini saling terkait electron sebagai unsur negative dan proton sebagi unsur positif,dan neutron sebagai penetral dalam hal ini,namun tidak lupa bahwa ada inti atom dalam kaitan hubungan ini,jadi kita bisa berimajinasi mengenai hal ini,bahwa di alam ini ada keterhubungan ketiga teori tersebut,akan tetapi dalam hal ini semua merupakan bagian bagian terkecil yang mempunyi sifat positif,negative dan netral,apakah yang menghubungkan ketiga ini yang sifatnya berbeda-beda,lalu apakh fungsi dari netral itu yang tidak berpengaruh dalam positif dan negative, dalam kaitan ini adalah perbagian,dan setiap bagian itu dapat dibagai hingga unsur-unsur sngat kecil,bahkan sampai tak terbataspun dan menemukan titk yang namanya ruang hampa,nah dimanakah kesederhanaan meteri ini?,dikalangan para fisikawaan?,apa arti materi dalam hal ini,sebab titik temunya ia ruang hampa tersebut bahka Einstein seorang ilmuan tersebsarpun menemukan titiknya pada substratum sama dengan Hegel,substratum ini yang mendasar pada materi yang tidak diketahui,kalau dalam bahasa filsafat nonmateri. Dan paruh abad dua puluh pun para fisikawan menemukan lebih dari seratus partikel elemnter lebih berat dari nucleon sehingga orang mulai curiga bahwa partikel elementar bukanlah bagian terkecil dari benda,neutron,proton dan partikel-partikel elementer bukanlah unsur sederhana dari benda hingga penemuan terkhir adalah partikel-partikel quark,yang sampai saat ini belum ditemukan subpartikelnya,jika demikian adanya lantas apakah meteri itu,yang tak terhingga,sampai titik yang tidak diketahuai lagi oleh para ilmuan fisika?,apa yang menghubungkan materi ini hingga menjadi sebuah sesuatu yang tersusun?,disini munculah berbedaan antara idealism da meterialisme,yang idealism objek realitas hanya ada di idenya dan materialism hanya pada meteri,akan tetapi kedua pedebatan ini tidak menemukan titik hubunganya terjadilah dualitas,lantas bagaiman filsafat islam menaggapi hal ini?, dalam kajian falsafatuna bab 5 akan dikemukan oleh Bab 5 dan 6,akan dikemukakan oleh Baqir Sadr mengenai hal ini,sayangnya dalam kaijian kami belum sampai pada titik temunya,hanya baru penggambaran mengenai pandangan fisikawan mengenai materi,akan kami lanjutkan tulisan ini seiring berlannya kajian kami,insya Allah.

  • view 390

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Daeng Rahmatullah, maaf kalo komentar sebelumnya tersinggungQi.

    Saranji,
    Semangat!

    • Lihat 1 Respon

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Tetep semangat nulis mas. Topiknya menarik kok. Selalu ada benturan antara science dan Tuhan dan itu udah jadi topik debat panjang nggak cuma di kalangan ilmuwan atau pun bukan ilmuwan.

    • Lihat 1 Respon

  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    Setuju sama mas Dinan......paragrafnya TERLALU panjang......apalagi paragraf ke 3 dan ke 4......itu bikin orang jadi malas membaca.......
    .
    .
    Saya baca lewat laptop saja pusing.....apalagi baca lewat HP......
    .
    .
    *Coba deh di edit/sunting lagi paragraf tulisannya.....pasti akan lebih enak dibaca.......
    .
    .
    oh ya, saya juga pernah menulis tentang paragraf yg panjang, itu membuat orang malas membaca tulisan kita......."Mengapa Orang Malas Membaca Tulisanmu?" => https://www.inspirasi.co/post/details/15905/mengapa-orang-lain-malas-membaca-tulisanmu--28--virusmenulis

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Ah,,,

    Ada kata 'mungkin' di awal Cappo.

    Bedakan baca dan lihat.
    Saya cuma lihat saja tidak ku bacai. Jdi bisa kelihatan, paragrafnya panjang, karena sy pake HP, hihi..

    Santai Cappo'

  • rahmatullah usman
    rahmatullah usman
    1 tahun yang lalu.
    kalau tulisan ini tidak jadi anda baca,lantas kenapa anda mengatakan mungkin tulisan saya ini bagus?,kemudian anda juga katakan bahwa pengaturan paragrafnya kurang memadai?,kalau anda tidak baca kenapa anda bisa menilai?,objektifnya anda baca tulisan ini atau tidak,atau anda baca tapi tidak sampai habis?, saya terima saran anda,itu bagus,tapi proposisi kalimat anda dalam menilai itu kontradiksi,karena anda mengakatakan bahwa tulisan ini tidak jadi anda baca,tapi anda menilai tulisan ini. bagamana mungkin anda menilai tulisan ini,tapi anda tidak membacanya? bisakah kita menilai sesuatu tapi sesuatu tersebut kita tidak pernah lihat dan telusuri? dan terimakasih atas kritikannya yang positif.