Dielektika Hegel

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Tokoh
dipublikasikan 28 Juli 2016
Dielektika Hegel

Pembahasan mengenai dialektika,tak lupa kita mengakat nama besar yaitu Hegel,bisa dikatakan ialah yang memprakarsai dialektika dan pengaruhnya cukup besar dikalangan pemikir. Tritunggal/kontradiksi,pertentangan internal,ada tiga poin yang menjadi landasan pemikiran dialetikanya yaitu,tesa antitesa dan sintesa.

Dalam poin pertama tesa disebut sebagai ide umum tentang keberadaan sesuatu atau sesuatu pada sesuatu,disini Sesutu tersebut bukan Sesutu pada benda-benda partikular,melainkan sesuatu tanpa membagi. Kemudian poin kedua  antitesa disebukan ia bukanlah sesuatu misalya pulpen dan kertas,disini dua benda tersebut keberadaan kusus bukan ide umum sesuatu dalam tesa,seabab dalam tesa itu merupakan ide umum,dan didalam antisa kita menyebutkan sesuatu itu dilekatkan pada dua benda tersebut yaitu partikular,lanjutnya sintesa antara penggabungan tesa dan antitesa atau sesutau dan bukan sesuatu jadi sesutua berkontradiksi dengan yang bukan Sesutu karena di ambil dari dua poin tesa dan antitesa.

Ini merupakan siklus pemikirakan Hegel yang sangat berpengaruh di dunia pemikiran sampai saat ini,terutama Kar Marx,kalau bahasa Muthahari penegasa,penafian dan penafian dalam penafian Hegel memahami konsep kontradiksi sebagai bagian konsep dialektika karena menurutnya kontradiksi merupakan landasan pikiran dan segala Sesutu yang terjadi,dalam pikiran atau diluar pikiran ,adalah fenomena dialektika yang berjalan sesuai dengan prinsip kontadiksi (muthahari metoodologi realisme). Puncak kontradiksi ketika sampai pada sintesa yang menafikan prinsip identitas,pengingkaran yang diingkari atau pengingkaran terhadap pengingkaran dari antitesa tersebut,menurut pahaman Hegel bahwa di alam ini penuh dengan afirmasi dan negasi.

Jika kita anlisa pemikiran Hegel dalam kehidupan sehari-hari bahwa kebenaran selalu bertentangan tidak akan mendapatkan kebenran yang independen,karena afirmasi dan negasai selalu menyatu,Hegel menarik dialektikanya kepikiran,karena realitas absolut ada pada pikirannya dan realitas eksternal merupakan manifestasi dari pikira,sebenranya kontradiksi intenal Hegel merupakan kontradiksi internal,maka dari itu Marxisme menariknya ke alam dan mengatakan,dialktika Hegel adalah diatas kepala namun kami menaruhnya diatas kaki.

Kalau dalam prinsip gerak pemikiran Hegel menganggap alam senantiasa bergerak,pada titik ini para filsuf muslim sependapat dengannya,namun berbedada dalam pahaman mengnai gerak,Hegel mengatakan bahwa ketika realitas misalnya gelas,gelas tersebut mempunyai kontradiksi didalamnya sehingga gerak terjadi,gelas ketika bergerak menjadi pecah (kaca) itu disebabkan dua realitas yang terjadi pada objek gelas tersebut yang dibahasakan kontradiksi internal,antara gelas dengan pecahnya,jadi gelas dengan pecah terjadi bersamaan(eksis) hingga menjadi proses sebuah gerak. Paham Hegel mengenai gerak sebenarnya ia tidak bisa membedakan mana potensi dan aktualitas,sebab gerak  gelas menkadi kaca (picah) bukan sesuatu yang eksis,yang disebutnya dialektika kata Baqir Sadr ketika gelas menjadi pecah itu aktualitas gelas tersebut bukan kontradiksi,gerak subtansi bahasa sederhananya bahwa ada kemudian meniada,makna dari gerak tersebut gerak esensi atau berubahan sesuatu misalnya pada gelas pecah menjadi kaca (ada dan mediada) maksudnya gelas meniada ketika ia telah pecah dan menjadi kaca. Dan Hegel keliru dalam hal ini,dan berkata dalam pandangan  filsuf muslim gerak itu statis,sebab dasar gerak dari Hegel antitesa,dan pandangannya mengenai realitas adalah sintesa,dan kontradiksinya termaksud sinte

  • view 234

  • rahmatullah usman
    rahmatullah usman
    1 tahun yang lalu.
    terimakasih kawan, kawan juga menulis mengenai isu pemikiran ,mari kita buka cakrawala berfikir kita yang realisme,bukan yang idelisme seperi pemikira barat yang tidak bisa temukan titik ojektif seperi Marx dan hegel dan pemikir barat yang lainnya,akhirnya berujung pada idelaisme,saya juga sering memperhatikan tulisan para pengguna disini,akan tetapi sebagaian tulisan berbau idealis,ia menikmati pemikirannya di pamahan,hingga terbagi dualitas,memisahkan dirinya dari alam ini,kalau ditarik dalam teologi,dulitas sangat berbahaya sebab berujung pada tuhan yang menjadi dua, itulah konsekuensi berfikir yang dualitas,salam dari ku kawan

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    asyik, ada yang mulai masuk ke isu-isu serius, tapi tetep cool.... lanjut Om...