Ideologi kaum intelektual berbasis kebudayaan korelasi Ali Sariati

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Tokoh
dipublikasikan 23 Juli 2016
Ideologi kaum intelektual berbasis kebudayaan korelasi Ali Sariati

 

Mengenai hal intelektual,adalah proses pencapaian manusia dalam segi pengetahuan maupun spritualnya,akan tetapi dari urain  ini bagaimana nasib intelektual kita saat ini?,bagaimana sikap praktisnya mengahadapi alam ini?,ideology apa yang di anutnya dalam mengatasi persoalan-persoalan masyarakat?,adalah tanggung jawab intelektual untuk merumuskan suatu metode untuk hal tersebsbut. Intelektual harus peka terhadap realitas namun untuk membangun kepekaan tersebut  tidaklah singkat,perlu dilatih sebagaimana orang latihan dalam bermain musik,dalam kepekaan tersebut ialah mata batin akan di olahnya dalam membaca realitas ,namun dalam pandangan ini mata batin ialah perasaan yang kuat dalam diri kita (huduri),ketika perasaan itu telah membatin dalam diri kita itulah intelektual, orang-orang terdahulu kita dalam tradisi budaya  tidaklah cerdas dalam arti otak,tapi batinnya sangat peka dan cerdas misalnya mungkin ada sebagian dari kita tidak sependapat dalam tradisi uang panai,tapi karna itu kecerdasan artinya bahwa kalau mau menjadi laki-laki untuk melamar jangan hanya membawa badan bawalah juga yang lain,sebab menikah itu butuh persiapan,artinya budaya kita ini walaupun kita tidak sependapat namun jika kita melihat sisi positifnya itu baik.

Apa yang terjadi mengenai budaya kita dahulu karna mereka melihat ke-pekaan persoalan kehidupan tidak hanya terbatas terhadap pikiran,mereka melihat jangkauan kedepan,nah begitupun dengan intelektual kita harus punya persiapan yang matang jangan tergesah-gesah untuk membangun intelektualisme di masyarakat,jadi intelektual harus menjadi gerakan kebudayaan,budaya harus mendukung hal itu,dalam kebudayaan bugis misalnya salah satu budaya yang mempunyai  satu tradisi menulis,dan memiliki huruf budaya tersendiri,dilihat dari ini maka ada peradaban. Begitupun tradisi di daerah yang lain,pasti memiliki peradaban, bahwa dalam ke budayaan Indonesia kita sangat kaya akan peninggalan-penginggal budaya yang sampai saat ini masih eksisis,meskipun ada sebagaian yang telah di lupakan,dan ini peran intelektual harus mengembalikan tradisi budaya kita,mengutip A.M Safwan bahwa budaya itu adalah produk intelektual,dan sampai saat ini kita hanya menikmati budaya tapi tidak pernah mempertanyakan latar belakang kemunculan intelektualnya. Kebudayaan kita dekat dengan jiwa,dan memiliki aspek-aspek intelektual,karna itu kita harus mengkaji hal itu. Sebab sekali lagi budaya itu dekat dengan bahasa jiwa,jiwa ini ada intelektus atau nurani kita menarik tradisi budaya untuk gerakan social,karana masyarakat kita masih kental mengenai persoalan budaya.

Sekarang kita akan mengkaji bagaimana gerakan social Ali Sariati,dalam pemikiran Ali Sariati intelektual itu artinya manusia-manusia yang berpihak,bagi beliau ia tidak percaya bahwa ada intelektual yang bebas nilai dan pengetahuan itu pasti memiliki keberpihakan.dalam tradisi belajar pasti ada unsur subjektifitas,jika akademik berbicara objektifitas,namun di islam tidak demikian karna ada nilai yang dikandungnya dalam aspek pemikiran inilah intelektual. Dalam istilah Antonio Gramsci intelektual organic orang-orang yang berpikira tentang organ artinya satu ke satuan,seorang intelektual dalam ideologi kaum intelektual Sariati itu berpihak berpihak ke mana? Ini masalah yang akan kita bahas,kemudian intelektual dalam bahasa Sariatai, kita harus menstranformasikan ajaran-ajaran Tauhid didalam kehidupan intelektualnya,misalnya dalam gerakan social bagimana Tuhan itu hadir dalam struktur sosial,ideology kaum intelektual membawa kesadaran islam dalam ranah sosial,jadi intelektual melihat sebuah pemikiran apa lagi dalam ideologi pembangun itu melihat pada nuraninya (batin) ,jadi kehidupan social ini bagi intelektual harus melihat persoalan dan jangan ada dominasi,islam itu pembebasan,keadilan kata Sariati.

Lanjutnya adalah semangat Tauhid bagi intelektual artinya membawa islam dalam rahmatanlilalamin bagi semuanya bukan hanya orang kaya tapi bagi orang kecil,bukan hanya orang kecil tersebut diberi sebuah rumah tapi dipahami juga kehidupan mereka,ini lah intelektual,bukan intelektual itu yang suka bagi-bagi uang namun intelektual itu membagi nurani membagi kepekaan sosial dan membantu memehami persoalan masyarakat agar persoalan tersebut dapat diselesaikan. Kepekaan islam itu kebebasan,tidak boleh ada ketertindasan baik pendisan orang kaya dan orang miskin,begitupun sebaliknya, islam punya semngat transformasi dan keadilan maka Tauhid harus ditanamkan dalam kesadaran intelektual dan menggunakan mata batinnya,ia hidup bersama masyarakat senantiasa melihat proses evolusi kebudayaan ,inilah titik penenkanan Sariatai bahwa ideologi intelektual siapapun kita dalam kelompok agama-agama yang berbeda dia senantiasa memiliki kepekaan mentraspormasikan nilai-nilai Tauhid kepada masyarakat.

Tidak terbatas pada orang tertentu baik islam maupun non islam rahmatanlilalamin bermanfaat untuk semuanya,dalam hal ideologi itu mengenai logos tentang idea dalam budaya bugis ideanya adalah sir’I (harga diri) kemudian bagaimana mengideologikan sir’I ini ,ketika merantau ke daerah lain dan dia punya harga diri dia harus menjadi orang bugis yang terhormat, islam juga berbicara mengenai harga diri (himma) ideologi sama dengan hal ini,ketika kita menempatkan sebuah idea itu pada tempat yang tertinggi dan kita harus punya harga diri, jadi seorang memiliki ideologi jangan ideologi itu menyebabkan dia tidak memiliki harga diri,dan kaum intelektual memiliki ideologi apa ideologi tersebut? Adalah keberpihakan dan melihat persoalan dalam analais sejarah yang kuat jangan ahistoris. Kaum intelektual harus punya satu sikap terhadap kekuasaan agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam,bukan meninggalkan kehidupan dan mengasingkan diri,dia harus hidup bersama menjadi bagian dari sosial kehidupannya,jadi peran intelektual harus kembali ke kampungnya dan membangun kampung tersebut dimana kampung saat ini masih didominasi budaya-budaya kekuasaan. Dan kekuasan harus dibagun dengan karakter intelektual,dan karakter tersebut akan berpihak kepada masyarakat.Seorang intelektual mendekatkan diri kepada aspek-aspek kekuasaan bukan untuk menjadi bagian dari kekuasaan akan tetapi dia ikut melakukan kritik terhadap kekuasaan ini titik pentingnya sehingga dalam masyarakat terbaguanlah struktur sosial yang baik,berbasis ilahiya.

 

 

  • view 233