Kosmologi dan Realisme Cinta

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 14 Juli 2016
Kosmologi dan Realisme Cinta

Sebagaimana dalam kosmologi perempuan  kita menemukan bahwa realism atau nilai pengetahuan itu yang dikehendaki oleh alam secara alamia bahwa manusia itu berpasangan. Dan kecenderungan berpasangan itu ialah watak feminism,maka dari itu apa yang dituntut manusia untuk bisa bersama-sama dengan pasangannya itu bukan semata-mata masalah material tetapi memang alam menghendaki  eksistensi manusia  berhubungan dengan pasangan. Karna realisme dalam kosmologi itu adalah pasangan dan yang mengerakkan pasangan itu ialah seksual  padalah dicari merupakan hal yang non-material,tentu tidk semua yang material itu berhasi sampai kepada non-material dan tidak semua seksualitas itu sampai kepada cinta dalam pengertian yang hakiki.

Bahwa memang hal-hal yang material seksualitas ini adalah basis dari gerak menuju kepada cinta tetapi dalam pendekatan Mulla Sadra tetap saja seksualitas itu akan bermasalah pada problem epistemologinya,jika objek-objek atau hal-hal yang dikaitkan dengan relasi seksualitas tersebut tidak mengkondisikan hubungan itu dalam hubungan yang lebih tinggi. Maka dari itu pandangan dunia islam menawarkan presfektif yang lebih tinggi hubungan dalam seksualitas itu misalnya dalam pandangan dunia islam keluarga dipandangan sebagai institusi seksualitas yang memiliki satu visi untuk membangun sakinah,mawaddah,warahma karena itu seksualitas dalam keluarga itu berbeda dengan seksualitas diluar dari keluarga. Mungkin secara sikologis seksualitas dalam keluarga itu lebih memiliki suasana kemantapan tidak was-was,sedangkan diluar dari itu ialah keraguan . ini satu aspek, jadi secara sikologis institusi keluarga ini dalam pandangan islam kita ini memerlukan pikirran yang kritis untuk melihat persoalan keluarga bukan semata-mata persoalan individu,membangun keluarga dalam prespektif kosmologi, jadi kalau keluarga memiliki watak kosmologi tentunya berbeda keluarga yang hanya peosesi dalam keluar yang hanya dijalaninya saja. Hipotesis tentang cinta ini dalam pemikiran Sadra bahwa cinta ini memiliki basis objektif,sedangkan seksualitas itu memang aspek subjektif (daya tarik) atau hasrat . sedangkan dalam filsafat cinta dia punya keharusan objektif,karena kualitas cinta itu berpengaruh terhadap objek yang dicintai,kita tidak bisa mengatakan bahwa cinta itu kebaikan hanya dilihat dari luar akan tetapi cinta itu punya muatan di dalam dirinya maka semua tingkatan eksistensi itu punya muatan tersebut,salah satunya mempunyai muatan hewan misalnya seks,tetapi ditingkatan manusia yang melebihi fisi hewan yang kapasitasnya berhubungan dengan pemiiran maka seks itu mampu bertrnsformasi sebagai persoalan pemikiran bukan hanya sebagi hasrat.

Artinga manusia berfikir keras atas masalah seksualnya,pikiran-pikiran tersebut pada tingkatan hewan itu adalah hal yang sempurna tapi pikiran itu pada tingkatan manusia itu tidak sempurna. Jadi kerika manusia setiap harinya berfikir tentang seksualitas maka hasrat dalam struktur Sadrian itu tingkatan yang sempurna pada hewan tapi kekuranga pada tingkat manusia,maka berputarnya manusia pada tingkatan hasrat itu adalah kesempurnaan pada tingkatan material.  Dan jika hal tersebut tidak selesai maka akan memunculakn persoalan material,logikanya hasrat ini merupakan logika material oleh karena itu realismenya memang harus diselesaikan. Dan manusia bersentuhan dengan tingkatan yang lebih lanjut ketika mereka membawa itu kepada intitusi ialah keluarga, didalam relasi fisik yang selalu muncul ialah watak kekurangan tabiatnya hasrat adalah kekurangan,cinta yang katanya menyempurnakannya dan menjaga agar kekurangan yang ada pada hasrat itu tidak mengganggu cinta. Maka dari itu hasrat (seksualitas) haruslah dipenuhi sebab secara material (fisik) itu kekurangan. Maka pertanya kita adalah bagaimana seksualitas itu menjadi cinta? Karna cinta yang menurunkan feminitas.  Maka dari pandanga kosmik tumpukannya ialah seksualitas ,kemudian dalam tahapan lebih lanjut  bahwa manusia itu tidak akan sempurnya hanya dengan seksualitas  sebab ia hnya kondisi material manusia,maka dengan itu secara realis ia harus dipenuhi sebab jika tidak terpenuhi,maka perjalannya tidak akan lanjut sampai kepada manusia ,jadi yang terjadi hanya perjalanan hewan,untuk mengaitkan kepada manusia maka seksualitas ini adalah kekurangan ,jadi problemnya ialah apa yang menyempurnakan seksualitas ? 

seksualitas pada kondisinya ia juga akan berhenti dia tidak akan aktif seterusnya ,dia menerima fasifitas karena watak dasarnya feminim jadi betapa besar usaha manusia untuk mencapai hal ini ia kan selalu terhambat ,pada hal perjalanan manusia merupakan perjalan ingin sampai kepada puncak ekstase,secara filosofis itu puncaknya adalah tuhan. Mestinya,jika seksual adalah puncak saat manusia melakukan hal tersebut secara seksual dia sudah harus menyaksikan tuhan,karena dalam riwayat dikatakan itu adalah surga artinya bahwa jika itu surga  kita memang harus ketemu tuhan dalm Imam Ja’far Sadiq itu sudah kenikmatan surga. Ada kerumitan ketika sesorang pindah dari seksualitas ke cinta,ketika seksualitas itu tidak mengalami puncak, karena itu patut diduga bahasa cinta kaum muda yang belum menyentuh hasrat itu hanya basa-basi itu hanya kecenderungan hasrat tapi,itu cinta pada tingkatan paling rendah. Maka yang bisa mengatakan cinta ini adalah orang yang telah mencapai ekstase seksualitas,baru dia bisa berbicara cinta,kita tidaklah pembahas suatu hanya sebatas kenikmatan,kita mengkonstruksi persoalan ini sebagai perjalanan artinya kita harus berfikir keras ketika kita akan sampai pada fase tersebut. Ketika kita sampai pada tingkatan tersebut digambarkanlah pada prosesi pernikahan dalam berbagai simbil-simbol,jadi apa yang dicapai seksualitas yang ditarik dalam kepentingan keluarga ialah perjalanan untuk kesempurnaan manusia,seksualitas kita pandang tidak dalam institusi keluarga akan menimbulkan problem secara sikologis ini tentunya dalam kosmologi,sebab kosmologi berkaitan denga spritualitas, seksualitas tentunya merupakan kecenderungan manusia namun dalam hal itu ada kasih sayang yang ingin diberi kepada yang dicintainya,kasih sayang tersebut dalam konteks ini (spiritual) dan menuju kepada cinta (tuhan) menjadi fana dan menciptakan suatu kehidupan (wujud) baru .

  • view 212