Keruntuhan jurnalisme analisis teori Dudi Sabil Iskandar pendekatan disposesi

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Buku
dipublikasikan 12 Juli 2016
Keruntuhan jurnalisme analisis teori Dudi Sabil Iskandar pendekatan disposesi

Jejak pencapaian mengetahuan adalah sebuah perhelatan panjang,bukan sekedar hanya semangat yang menjadi modal,akan tetapi diperlukan sebuah epistemic guna mengkanter analisi pola berfikir agar tidak terjebak kerancuan atau berkahir pada idealism,skeptisme,relatifitas subjektif.gejolak pemikiran saat ini perlunya mengukuhkan sebuah epistemic atau neraca pengetahuan agar menemukan objekif yang valid dalam pemikiran sipemikir tersebut.

Apa lagi kita memasuki dunia digital,yang informasi dengan mudah kita dapatkan,di media massa,dengan tulisan para junalis,kita tau bahwa perang opini saat ini tidak terbantahkan lagi antar media dan kekuasan politik,akan tetapi dengan kejadian tersebut,tetaplah kita pada objektifitas,memfilter informasi yang kita dapatkan.sebagai mahasiswa ilmu komunikasi yang bergelut di dunia media massa,baik cetak maupun elektronik ,saya tetap mempunyai objektifitas dalam pemikiran kewartawanan,mengapa demikian?,untuk objktifitas pemikiran akan optimis,kiranya calon wartwan,harus menggenggam pemikiran epistemic dalam sebuah perjalanan mencari objektifitas pemberitaan,jika para wartawan atau calon wartawan memiliki sebuah neraca pengetahuan epistemic,maka objektifitas berita yang disajikan tidak lagi berupa politis,atau tujuan tertentu.
Saya telah membaca sebuah tulisan dari Dudi Sabil Iskandar mengenai “keruntuhan jurnalisme”,tulisan tersebut hanyalah sepenggal kekhawatiran; seonggok ketakutan; segumpal kekecewaan terhadap dunia jurnalisme, kini. Dunia yang pernah penulis geluti sekitar 12 tahun; ladang yang pernah diakrabi selama lebih satu dasawarwa. Dalam potretan penulis, dunia yang digadang-gadang sebagai keempat pilar demokrasi diambang kehancuran . Jurnalisme sedang mengalami krisis multidimensi yang menghantam semua stakeholders mulai dari pemilik, wartawan, dan pembacanya.

Dalam pembukaan tulisan tersebut beliau mengatakan,”Apa yang sesungguhnya terjadi pada dunia Jurnalisme kita saat ini? Tengoklah pertarungan media pada pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden 2014. Mereka terbelah secara tajam dan sarkatis, bahkan mengarah ke konflik. Tidak ada lagi penghargaan terhadap profesi agung dan mulia bernama wartawan; Etika jurnalistik hanya bahasa di lanit; kode etik dibuang ke tong sampah; nilai berita diinjak.
Atau saksikanlah puluhan tayangan infotainment sebuah istilah yang salah kaprah, tidak pernah dikenal dalam dunia jurnalisme dan terus dipakai oleh media kita, baik media elektronik maupun media cetak setiap harinya. Publik disuguhi tayangan yang tidak mendidik. Mencampakkan common sense. Jauh dari mencerahkan.”
Dari kekawatiran tersebut Dudi merumuskan tulisannya,dalam tiga bab.Bab pertama membahas indicator keruntuhan jurnalisme dengan poin sebagai berikut:
ini menjelaskan tentang keruntuhan jurnalisme yang menceritakan tentang Jurnalisme bias, Jurnalisme dan ‘amplop besar’, dan Jurnalisme budaya copy paste. Dan ada juga Jurnalisme pembuat heboh yang di dalamnya menceritakan juga tentang kontruksi sosial media massa, konstruksi berita dan era baru konstruksi media Jurnalisme tanpa konfirmasi dan juga menceritakan tentang berita tanpa verifikasi dan filter konseptual. Dan di Bab ke-2 dari buku ini membicarakan tentang indicator-indikator yang menyebabkan keruntuhan jurnalisme yaitu postmodernisme, dalam kutipan buku ini postmoderenisme adalah suatu periode ketidakpercayaan pada narasi-narasi raksasa yang sifatnya universal dan esensial semakin gencar. Kesatuan sejarah digeser dengan kemajemukan dan sejarah local yang tidak bisa diletakan di bawah satu payung narasi besar. Kemudian penyebab yang lainnya yaitu curtural studies adalah kritik atas definisi budaya ada dua konsep.
Pertama adalah ide umum dimana masyarakat atau kelompok memahami ideologynya atau cara-cara kilektif yang di gunakan suatu kelompok untuk memahami pengalamannya. Kedua budaya dimengerti sebagai praktik-praktik atau keseluruhan cara hidup suatu kelompok apa yang dilakukan individu secara material dari hari ke hari. Kemunculan hal-hal baru dalam keruntuhan jurnalisme salah satunya Jurnalisme dan Citizen Journalisme di dalam buku ini di jelaskan Citizen Journalisme yaitu tulisan warga tentang suatu peristiwa yang di publikasikan menjadi bacaan alternatif bagi masyarakat dari bacaan yang di sajikan media tradisonal artinya, peran masyarakat itu sendiri bisa saja menjadi wartawan misalnya ketika ada kejadian atau peristiwa penting dan masyarakat itu sendiri mempublikasikan nya melalui salah satunya media sosial.
Masih banyak hal-hal kemunculan dalam jurnalisme baru dan tulisan ini mendorong kita supaya masyrakat harus melek media dalam penerimaan informasi yang disajikan oleh media. Dan di Bab ke-3 dari ini menjelaskan tentang Jurnalisme dan citizen journalis. Citizen jurnalism yang merupakan gagasan yang di temukan jay rosen, pew research center, dan poynter institute. Dan mereka semua mendikusikan konsep jurnalistik atau publik yang bisa menyampaikan isu-isu yang penting bagi public. Lalu menceritakan juga tentang Jurnalisme dan konvergensi media, ini menceritakan tentang pengabungan antara media-media. Dan juga di dalam nya Jurnalisme dan pencarian core mining, ini menceritakan bagaimana cara penyampaian pesan, atau pencarian pesan, Jurnalisme dan pertukaran makna, Jurnalisme interpentratif yang menceritakan tentang internet sebagai pemicu munculnya situs berita, dan yang terakhir adalah Jurnalisme, agama, dan pertanggung jawaban menceritakan tentang fungsi agama berpengaruh pada jurnalisme.
Saya akan menganalisa dengan pendekatan teori disposes dan doktrin rasional Baqir Shadr,dalam disposesi ada konsep primer yaitu konsep ilmiah yang kita dapatkan memelaui proses alam dengan penginraan kita,dan adapun konsep sekunder hasil pencapaian kita sehubungan dengan alam,kemuan konsep primer menurunkan konsep sekunder yang niscaya tersebut ke alam dalam disposes ada ilmiah dan logis,kemudian doktirn rasional kita yaitu tasdik realitas objektif di alam yang kita akan menilai,nilai tersebut diambil dari tasdik,tasdik mempunyai konsep perimer ilmia dan logis hasil dari disposesi,kemudian teoritis atau metode dan kedisyaan yang akan diturunkan ke alam.inilah singkatan disposesi dan doktrin rasional.
Ini pembahasan yang menarik dalam analisis media,beberakali saya baca tulisan pak Dudi Sabil untuk memahami struktur pemikiran dalam keruntuhan jurnalisme,dalam bab pertama mengenai indicator keruntuhan jurnalisme,saya tidak mendapatkan titik klimas dalam indicator tersbut mengenai keruntuhan jurnalisme,memang yang dipaparkan dudi sabil,ada sebagaian fakta atau fenomena yang terjadi dalam dunia jurnalisme,dan juga pengalamannya semasa menjadi wartawan,akan tetapi kejadian tersebut telah berulang kali terjadi,nah apa kah indikataor tersebut akan benar meruntuhkan jurnalisme,atau akan lebih mengukuhkan kejayaannya, sebab kita tau bahwa media saat ini telah hampir menguasai penjuru Indonesia,apa lagi masyarakat kita,sangat antusias dalam informasi yang di dapat dari media massa,tanpa ada filter terdahulu,atau menelusri informasi tersebut apakah valid atau tidak,masyarakat kita sangat aktif dalam media massa,meski dalam indicator tersebut berupa kejadian yang dialami jurnalisme.
Media punya strategi untuk menjual sebuah beritanya,dan media menguasai alat jejaring social,jika terjadi penurunan sebuah berita,media akan menyusun strategi agar beritanya akan laku,apa lagi dengan berita selebritis atau artis media akan berusa membuat baerita yang fenomenal untuk dipublikasikan,dan sasarannya adalah masyarakat kita,yang sangat aktif dalam informasi media massa,jika diberitakan mengenai artis papan atas, berita persolan pejabat Negara. Media bisa membuat gempar dalam sebuah berita,dengan ia menguasa media massa,yang sangat cepat dalam informasi,akibat dari ini,baritanya akan dibaca dan menghasilakan,sebab objek yang diberitakan adalah artis,dan sasarannya adalah masyarakat awam yang tidak terlalu memahami gejolak media.Hasil dari analisis ini dalam indicator keruntuhan jurnalistik,bersifat idealism dalam padangan saya,sesuai penjelasan diatas,masyarakat kita sangat aktif dalam media social,indicator tersebut bukannya menggugurkan jurnalisme atau media,akan tetapi semakin media membuat berita tersebut,akan semakin laku,media punya strategi ampuh.dan juga pak Dudi dalam tulisannya skeptis dalam etika jurnalis,tapi bagi saya etika jurnalis masih ada yang menjunjung tinggi,selama pemikiran yang realis dianut oleh jurnalis dan calon jurnalis.
Kemudia dalam bab dua mengenai penyebab keruntuhan jurnalisme,beliau mengaitkan dengan posmodernisme dan kultural studies,akan tetapi teori mengenai ini,tidak terlalu menjelaskan pokok persoalan mengenai jurnalisme dengan posmodernisme dan kultural studies,apa hubungan jurnalisme mengenai teori ini,hingga menjadi salah satu factor penyebab keruntuhan jurnalisme,tulisan Dudi tidak menjelsakan unsur pokok keterhubungannya,dan akibat yang terjadi,meski Dudi mejelaskan posmoderen dan kultural studies,akan tetapi beliau tidak menjelasakn akurasi dengan jurnalisme,dan sangat kurang memaparkan contohnya, hanya menuliskan bahwa postmodern,kultural studies dan media massa telah hidup sezaman.Beliau menggambarkan penjelasan umumnya saja,dengan demikian tidak ada objektifitas dari penjelasan tersebut untuk keruntuhan jurnalime,hanya dugaan dan asumsi yang saya pahami dari tulisan beliau,asumsi ini jika tidak ada kaitan primer dan logis maka berkhir juga pada idealisme.
Dalam bab tiga mengenai hal kemunculan jurnalisme baru,kajian mengenai hal ini memang fakta membuktikan ada sebuah trobosan baru dalam media massa,terutama citizen jurnalisme atau masyarakat sebagai wartwan nonforlmal yang juga ikut andil dalam pemberitaan,baik di media maupun jejaring social mereka sendiri,ini adalah sebuah penyeimbangan barita,jika wartwan yang memberitakan tidak sesuai fakta,maka citizen juga bisa memberi sebuah berita yang jika memenag berita itu sesuai fakta,ini merupakan kerjama antara media dan citizen dalam hal berita,apa lagi dalam kejadian tertentu,yang dimana wartwan tidak berada ditempat kejadian,maka citizen bisa memberitakan dan mengirim ke social media.
Bab ini dalam tulisan beliau merumuskan jurnalisme,yang bermunculan dan merupakan metode untuk jurnalisme agar kembali kepada indenpendensinya,dan objektifitas pembirataan yang dimuat,agar tidak tenggelam dalam menyajikan berita yang tidak valid tersebut,beliua merumuskan pemikran jurnalisme dengan perbandingan media baru yang bermunculan,agar tidak keluar dari prinsip jurnalisme itu sendiri. Beliau juga mencantumkan Indonesia bukan negara sekuler. Pun, tidak menganut negaraagama. Di negeri ini tidak ada agama yang diakui atau dinafikan. Semuanya boleh hidup selama menyebarkan kedamaian dan perdamaian. Semua orang boleh hidup di negeri ini dengan ketentuan mutlak mengakui Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945.
Penulis ingin menegaskan bahwa dalam konteks Indonesia, pers atau media tidak hanya bertanggung jawab untuk mentaati kode etik jurnalistik sebagai standar profesionalisme, tetapi juga harus memihak pada nilai agama yang dianutnya. Artinya, selain ada pertanggungjawaban di dunia, pekerja pers negeri ini harus meyakini bahwa mereka juga akan diminta pertanggungjawaban di akhirat, kelak. Inilah karakter sesungguhnya pers Indonesia. 
Sebenarnya perlu saya tambahkan bahwa perjalan pers kita Indonesia bukan hanya agama yang di landaskan,akan tetapi keadilan dalam pemberitaan,dan pola epistemology dan neraca pengetahuan sebagai landasan jurnalisme,untuk pekerjaannya,jika epistemology yang telah dipahami para jurnalis dan calon jurnalis,akan meminimalir barita yang tidak tepat,dan membuat sebuah perubahan pers Indonesia yang kembali kepada indenpendensinya,juga masyarakat yang aktif dalam media massa kiranya epistemology sangat penting dalam membaca realitas alam ini,agar tidak keliru dalam menilai suatu kejadian dan pemberitaan dimedia social.

 

  • view 217