Catatan Seorang Demontran,Politik Pesta dan Cinta

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Tokoh
dipublikasikan 04 Juli 2016
Catatan Seorang Demontran,Politik Pesta dan Cinta

Menelusuri jejak pemikiran seoarang aktivis yang romatisme,Nama Gie dikalangan aktivis gerakan sudah tidak asing lagi,beliau adalah warisan sejarah pergerakan mahasiswa di masa orde baru,yanga sangat aktif dalam pergolakan politik pada saat itu.Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983). Salah satu buku tersebut adalah kitab acuan para aktivis mahasiswa,baik dikalangan gerakan maupun persoalan romantisme,buku itu berisakan perjalan Gie dalam gerakannya dan kisah romantic dengan beberapa gadis yang di cintainya.
Selain terlibat dalam geraka, Gie juga aktif menulis,Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.
Beliau sangat menentang sistem pemerintahan orde lama pada saat itu,yang di kemudikan oleh persiden pertama Soe Karno,dalam kritkanya tersebut beliau menulis :

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini.
Di saat inilah kegaduhan seorang anak muda yang melihat kenyataan di sekitarnya sangat menyentuh hatinya,akan tetpi tak ,berhenti sampai disitu,Gie bersama teman –teman mahasiswanya,memulai gerakan untuk menentang resim tersebut,konsolodasi yang bentuk pada saat itu, adalah KAMI kesatuan mahasiswa Indonesia),untuk membenutk dan mengumpulakan mahasiswa,tidak lah mudah bagia dia,karna pada saat itu,banyak mahasiswa yang mentang gerakan Gie,katanya Gie terlalu idealis dalam pemikirannya.
Begitupun Gie,juga mengkritik mahasiswa,yang bersembunyi dibalik kekuasaan resim pada saat itu,organisasi yang ada di kampus,yang melakukan politik praktis guna mengumpulkan kakyaan dan kenikmatan orang tertentu,kejadian tersebut terjadi pada saat konsolidasi antar oraganisasi,terjadi berdebatan yang panjang,dan di pimpin langsung oleh Dekan Fakultasnya,perdebatan yang sengitpun terjadi,Gie yang kala itu melihat suasana yang kian memanas akhirnya angkat bicara,dan mengatakan bahawa,oraganisasi mahasiswa saat ini,kita tidak mengetahuai siapa lawan dan siapa kawan,beliau mengkritik HMI,GMKI,PMKRI dan sebagainya,akhirnya terjadi benturan fisik antara Gie dan lawan politiknya.
Akhirnya Gie dan kawan-kawan mengambil gerakan tersendiri dan terpisah dengan gerakan yang lain,Gie dan massanya pada saat itu melakukan aksi untuk menjatuhkan resim orde lama,beliau merangkul para mahasiswa untuk turun kejalan dan mentang kebijakan pemerintah pada saat itu, beliau membawa nama KAMI (kesatuan aksi mahasiswa Indonesia),dengan mengunakan sepeda ontel untuk turun kejalan,aksi ini menurut saya sangat kreatif, lanjutnya beliau menerobaos gedung kementrian dan meminta kementrian untuk keluar dan menandatangani surat pernyataan.
Aksinya pada saat itu berhasil untuk meruntuhkan masa orde baru,dan juga para mahasiswa lawan politik ikut melakukan aksi untuk rasa,selam proses jatuhnya orde baru,gerakan mahasiswa mulai hening,entah apa yang di usungnya,tapi Gie tetap beraktifitas seperti biasanya,beliau aktif dalam pengkajian filem dan membentuk organisasi yaitu MAPALA (mahasiswa pecinta alam),beliaulah pendiri mapala pertama kali di Indonesia,dan sampai saat ini oraganisasi tersebut meluas.
Setelah pergolakan politik orde lama usut,kemudian masuklah pintu orde baru,yang dipimpin oleh Soe Harto,pemerintah barupun di mulai,romantisme mahasiswa dan sistem orde baru sangat hangat pada saat itu,orde baru dalam gerakannya menyentuh gerakan mahasiswa dan mendukung segala aktivitasnya,meraka bak pemuda yang sedang bulan madu,akan tetapi tidaklah berlangsung lama,gojolak politik orde barupun melenceng dari sistem Negara,dengan melakukan korupsi,pembungkawan pendapat dan hirarki kekuasaan. Tak heran dari gejolak tersebut banyak mahasiswa yang mendekat dengan pemerintah orde baru,Gie melihat hal ini,sangat kecewa dengan apa yang terjadi,tapi beliau tidak tinggal dim,Gie aktif mengeluarkan kritikan pedasnya melelui tulisan di Koran-koran,dan melakuakn diskusi dengan teman seperjuangannya,
Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Gieakan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa (Demikian tulis Maxwell)
Dalam gejolak masa itu tak lupa kita membahas percintaan Gie,Salah satu yang sempat menarik perhatian Gie adalah Ker alias Nurmala Kartini Pandjaitan. Ker yang kini dikenal dengan nama Kartini Sjahrir itu mengisahkan kedekatannya,perempuan yang menjadi sandaran hatinya,disaat geojal politik yang sampai menguras pemikirannya,ada perempuan di sampingnya yang menemani Gie dalam mencurahkan perasaannya,mereka berdua sangat akrab dan sering berjalan berdua entah di kampus maupun diluar,sembil nonton dan diskusi,dalam keakraban tersebut,Gie tidak terlalu berani mengungkapkan perasaannya kepada perampuan yang dicintainya,beliau hanya mengungkapkan perasaannya melalu catatan hariannya yang kini di jadikan buku, yaitu (catatan seorang demonstran) dan (Soe Hok Gie sekali lagi), dalam pendapat saya,Gie sangat feminine sola perempaun,dia hanya mengungkapkan rasanya melalua perhatian dan tulisan.
Dan mengajak perempuan tersebut naik gunung,wajar saja Gie adalah anak mapala,dalam resim tersebut cinta dan kritkan Gie terhadap resim orde baru saling berjalan,pada masa puncak kegerahan Gie terhadapa resim orde baru tersebut,ketika pembantai yang dituduh PKI di Bali yang menelan korban sebanyak tiga piluh ribu jiwa,termaksud teman kecilnya hang,para aktivis dan pemerintahan pada saat itu mengetahuai hal ini,akan tetapi banyak memilih bungkam,mereka seolah menutupi kajadian itu,Gie yang tidak terima akan hal ini,beliau menulis kajadia pembantai tersebut,dan ingin menerbitkannya di Koran,akan tetapi pada saat Gie membawa tulisannya tersebut di media,muncul berdebatan antara Gie dangan redaksi,sebab berita yang ingin diterbitkan membahayakan terutama bagi Gie sendiri.
Sebab ketika berita itu di terbitkan aka nada ancaman di sekitarnya (terror),tapi Gie ngoto dalam hal ini,masyarakat harus tau kejadian pembantai tersebut,setelah perbincangan Gie dengan redaksi Koran tersebut,akhirnya tulisan Gie di terbitkan dengan terror yang akan menjadi akibatnya.
Mata hari mulai menampakkan sinarnya,burung-burungpun berkicauan,dan Koran pagi menampilkan halaman pertama tulisan Gie tentang pembantai tersebut,dan menyebar ke public,setelah berita tersebur tersebar,terror yang di kahatirkan akhirnya muncul juga,tempat berkumpul Gie di kampus untuk diskusi,akhirnya di bongkar oleh aparat TNI,dan siaran radio tempat kakanya juga ikut imbasnya,ada beberapa teman dekat Gie yang diambil paksa. Hari hari berlalu dengan ancaman,Gie mulai goyah,ada beberapa temannya yang menghindar dari Gie,sebab mereka takut akan terkena juga ancaman,juga perempuan yang di cintainya itu juga menghindar darinya,Gie dating kerumahnya dan mengetuk pintunya,akan tetapi ia bertemu dengan tante perempuan itu,dan mengatakan bahwa dia tak ingin ketemu dengan Gie,ini akibat berita yang di publikasikan,pada saat itu Gie mulai merasa sendiri,teman seperjuangannyapun banyak yang telah meninggalkan kampus,pada akhirnya Gie menemukan titik jenuh dalam gerakannya,tidak ada lagi canda dengan kawannya dan juga perempuan yang di cintainya,dari hari ke hari,Gie merenug dalam hal ini,sembari di terror,akhirnya ia berniat untuk naik gunung ,untuk melepaskan segala benak pikirannya,kersahan hatinya,apa lagi perempaun yang dicintainya itu tak lagi ingin bertemu.
Sebelum naik gunung Gie menulis sebuah puisi untuk perempuan yang dicintainya tersebut,beliau menitipkan kepada temannya agara di berikan kepada jantung hatinya,sebagai ungkapan cintanya,tulisan tersebut berisi :
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tau
Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa
( Selasa, 11 November 1969 ).
Tulisan inipun adalah sapaan terakhir Gie dengan kekasih hatinya tersebut,meski belia tidak pernah mengungkapkan secara lansung. Dalam perjalan mendaki gunung itu,sebuah kabar duka datang dari semeru,terjadi erupsi merapi dan menelan korban salah satunya adalah Gie sendiri.
Enam belas Desember tahun 1969 lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
Kabar tersebut samapai kedaratan Jakarta, kawan-kawan Gie ,dan Nurmala Kartini Pandjaitan pujaan hatinya,mengetahui kebar duka tersebut,pada akhirnya hanya bisa menitihkan air mata,perjuangan sanga demontran akhirnya selesai di puncak maha meru,Gie telah menjadi sejarah bagi bangsa ini,intelektualnya sangat berpengaruh di kalanga aktivis garakan ,juga di mapala,kita patut erbangga dengan Gie,telah mewarisi tekad dan pemikirannya kepada anak muda saat ini.sayapun juga sangat menyukai gerakan intelektualnya. Akhirnya kenagan itu akan menjadi tonggak intelektual bagi para penikmat SOE HOK GIE.

 

  • view 443