Jo Verhaar dan Narasi Filosofis kisah dan pengisah Telaah kritis pemikiran postm

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 21 Mei 2016
Jo Verhaar dan Narasi Filosofis kisah dan pengisah Telaah kritis pemikiran postm

 


Filsafat narasi atau narasi filsasafat merupakan deskripsai atau gambaran yang di tulis oleh St.Sunardi,melalu pengisahannya dalam pemikiran prof.Jo Verhaar,ia menarasikan kembali pemikiran Verhaar atas gemerannya dalam filsafat,ia mengawali buku filsafat yang berkesudahan,yang ditulis oleh Verhaar (1999).Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa apa yang menarik dalam perdebatan social filsafat dalam masyarakat pluralistic dan terkhusus untuk pedebatan mengenai hal purnamodernisme,dalam hasil ini memunculkan sikap pragmatis dalam mendekati filsafat.
Bukan lagi sebagai pencarian ‘sofia’,akan tetapi melihat dari zaman yang ia sebutkan sebagai postmodern dengan warna yang mencolok yaitu,pluralistic.Dari tinjauan ini ia mulai menelusuri jejak pemikiran Verhaar yang postmodernis tulen,dan mengaitkan postmodern yang menjadi berbincangan hangat di Indonesia.Yang beranjak dari filsafat berkesudahan,filsafat ini muncul di karnakan kritik atas filsafat yang tak berkesudahan,dari ungkapan tersebut ia ingin mengantikan filsafat yang arti harifiahnya mencari kebijaksanaan,mencari pengetahuan,menjadi basis bahasa dan prinsip pragmatisme,filsafat akan di jadikan sebagai sastra,menurut hemat saya,jika demikan maka apa metode yang di tawarkan oleh Verhaar untuk merumuskan filsafat tersebut yang akan di jadikan sastra,bagaimana hal ini dhubungkan,dan Verhaar sendiri tidak terlalu membahas rumusan tersebut,buakankah sebagian sastra hanya imaji yang di ungkapkan oleh penyair,di bukukan sebagai novelis,yang mengisakan kisah fiksi atau non fiksi,padal filsafat muncul dari pergolakan pemikiran yang gelisah mengenai alam,dan pengetahuan mencari kebenaran objektif di alam maupun di ide,filsafat berupaya dalam studi pengetahuannya menghubungkan alam,manusia dan Tuhan.
Bagaimana nasib filsafat jika di sastraka, apa lagi dengan cerita fiksi yang hanya bermain di imaji,filsafafat akan berakhir pada ide semata,keterpisahannya dengan alam ini.seperti kata Goenawan Muhammad Tuhan itu harus melayang-layang,atau seperti kata komunitas puisi di Makassar dalam tulisannya yang pernah say abaca dengan judul Tuhan yang berdosa,jika demikian adanya filsafat bukan lagi pencarian kebenaran pengetahuan yang objektif,melainkan hanya bersifat frosa dan imaji.
Kemudian dalam pemikiran Verhaar yang di narasikan oleh St.Sunardi merumuskan poin untuk tugas intelektual antihimanistik di zaman postmodern,kemunculan antihumanistik ini akibat kritik terhadap humanisme,poin tersebut yaitu : 1 melepaskan diri dari eletisme social,2.harus dapat hidup dengan skeptisisme atas dasar kekontigenan eksistensi manusia,3.bersedia dialog dengan mereka yang berkeyakinan imani lain dan dengan mereka yang tidak beriman sama sekali. Rumusan ini adalah tugas intelektual yang di ajukan Verhaar,kemudian di tafsirkan kembali oleh St.Sunardi.
-De-elitisasi merupakan elit kelompok kecil,pilihan.Elit social biasanya merupakan hasil dari profesionalisasi ilmu-ilmu. Pada zaman modern ada begitu banyak praktik kehidupan untuk menjadikan elit secara social. Gejala ini sangat paradoksal dengan cita-cita demokrasi. Kritik atas elitisme social juga bisa menjadi kritik atas ideology liberalisme. Dalam paradigm budaya postmodern, tugas negative dari kaum cendekiawan adalah melepaskan diri dari status elitnya.
Peryataan Verhaar dalam poin pertama ini,kita melihat dari segi keraguannya terhadap cendekiawan yang akan terjerumus dalam kekuasaan,ia memeringatkan para intelektual untuk terlepas diri dari status elitnya,atau membuat barisan oposisi,tapi apakah ideal jika para intelektual menjauhkan dirinya dari hal itu,bukankah tugas intelektual itu ikut merumuskan masalah yang ada di ranah social,jika ia menjauh dan tidak masuk dalam kekuasan bagaimana bis ia ikut andil dalam hal mengubah suatu tatan social,bisa saja Verhaar ragu dalam hal itu,akan tetapi para intelektual juga punya cara untuk bagaimana menghadapi kekuasan tanpa menjual diri kepada kekuasaan.
-Skeptis tugas ilmuan yang kedua ialah menjadi seorang skeptis diungkapkan dengan bahasa yang lebih menterang,tugas ilmuwan harus siap menghadapi ketidak pastian dengan gagah berani. Dalam pembahaan ini St.Sudardi tidak mendeskripsikan lebih detail mengnai skeptis yang dinyatakan oleh Verhaar,sebab tidak cukup untuk membahasa pemikiran skeptisnya hanya dengan filsafat berkesudahaan,akan tetapi artikel-artekelnya juga patut untuk kit baca. Dari urain ini ia menawarkan skeptisme untuk para ilmuan agar mendapatkan kebenaran yang absolut, rumusan ini merupakan gagasan yang ia tawarakan,akan tetapi skeptis berlarut larut akan membawa hasil yang tidak objektif,sebab dalam hal analisa kami bahwa Verhaar sangat meyakinin hal ini,bahkan ia melanjutkannya lagi : pencarian kepastian lahir dari keinginan untuk mengatasi skeptisme,keinginan tersebut lahir dari rasa cemas,dalm istilah ‘kecemasan cartesian’ia mengatakan skeptis tidak menjadi soal,karna munusia itu kecil,mahluk terbatas,dan skeptisme menjadi pembuka jalan untuk yang tak terduga dan kepastian dapat saja menutup semua pintu.
Pernyataan ini beranggapan bahwa manusia itu terbatas akan keberfikirannya,untuk mendapat kebenaran yang objektif,ia meragukan keberfikiran manusia bahkan menganggap manusia itu kecil,mngkin Verhaar tidak mengetahui bahwa fitrah manusia ingin selalu mencari kebenaran dana hidupnya,dan manusia sangat ingin mendapatkan mpengetahuan yang pasti dalam proses berfikirnya,meski kadang kita diperhadapkan dengan keraguan,tapi keraguan yang terus menerus juga akan menjadikan manusia terkunci dalam keberfikiranya,apa lagi ungkapannya mengatakan kepastian akan menutup semua ilmu,seakan kita tidak lagi bisa mendapatkan kebenaran yang objektif.kita mampu menemukan kebenaran objektif tersebbut,sebab kita mempunyai akal yang pontesial,selama manusia melakukan aktifitas keberpikirannya dan menggunakan neraca pengetahuan,kita akan mendapatkan kebenaran itu.buakn hanya sebagai skeptis,tapi objektif.
-Dialog untuk solidaritas,seorang ilmua perlu melakukan dialog terus menerus mereka yang berkeyakian imani dengan merka yang tidak beriman sekalipun,pandangan Verhaar dalam poin ketiga ini cukup menarik,ia menyarankan para ilmuan untuk terus berdialog dengan masyarakat tanpa memandang status social agama ras dan suku,pendangan berlandaskan prular yaitu masyarakat politik,akan tetapi ia tidak merumuskan metode untuk bagaimana menghadapi masyarakat yang prular tersebut,ia hanya menawarkan filsafat narastifnya untuk sebuah pandangan ini,tentang pengisah,menghasilkan kisah baru,tentang pengisah oleh pengisahyang dapat membebaskan dirinya dari penguasa.
Jadi hanya kisah yang membuat menemui teman baru di masyarakat prular,narasi yang membuat tujuan berdialog untuk membebaskan diri dari kekuasaan orang lain suapaya dia menjadi teman dan harapan,tapi apakah dia hanya cukup untuk itu,tanpa metode,dan analisis mengenai apa persoalan yang di hadapi masyarakat tersebut,rumusan apa yang kita bawa untuk hal itu,dan dialog apa yang kita tawarkan sebagai jalan untuk memecahkan masalah social ini,hemat saya Verhaar tidak cukup hanya dialog,seperti yang saya ungkapkan di atas,kita perlu metode dan analisis,filsafat itu objektif dalam berpikir,bukan narasi dekskripsi sebagai modal untuk masalah sosia,tapi nilai pengetahuan yang objektif dan berfikir disposesi.

  • view 101