(Sains Dan problem Ketunggalan)

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 20 Mei 2016
(Sains Dan problem Ketunggalan)

Menelah pemikiran Capra dan Wilardjo mengenai dwitunggal yang dua rangkaian tapi hakikatnya satu dan tak dapat dipisahkan,seperti kutub utara dan kutub selatan,Capra seorang fisikan dan pemikir modern mempunyai gagasan-gagasan luar biasa mengenai sains,filsafat dan agama,capra dalam sains memandang fisik sebagai satuan yang kontiniuum. Pemikiran capra yang diulas oleh Wilardjo mengenai dwituggal,seraya capra ingin menyatukan keberagaman menjadi ketunggalan.mengenai hal tersebut ia mengatakan bahwa dwikutub magnetic merupakan contoh dwitunggal yang kedua sisinya berlawanan namun tak terpisahkan,yang bisa disebut dengan kutub utara dan kutub selatan,degan demikian kedua kutub ini tidak dapat dipisahkan dengan cara bagaimanapun,olehnya itu pikiran dapat secara teoritis memahami adanya ekakutub magnetic yakni kutub utara dan kutub selatan yang berada secara mandiri,dan secara eperis belumlah ditemukan.
Mengenai penjelasan Capra tentang dwikutub,mengapa hal yang berbeda ini bisa dihubungkan,apa keterkeitan hubungan ini yang dia katakan saliang berlawanan,tapi tidak bisa dipisahkan,apa yang membuat ia berhubungan,apakah hubungan pada dirinya sendiri atau ada yang menghubungkan diluar dari dirinya,persoalan ekakutub magnetic ini,kata Capra hanya bisa dipikirkan adnya dengan teoritis,belumlah ditemukan secara emperis,akan tetapi mengapa hanya secara teoritis saja kita bisa memahaminya,lantas pahaman teoritis tersebut itu berasal dari mana,kalaulah ekakutub ini belum itemukan secara emperis,mengapa capra bisa mengatakan adanya ekakutub tersebut,dalam hal ini penilaiannya hanya menjadi konsep atau idealism,Capra dalam nilai pengetahuannya itu hanya berdasar ide saja,ia memisahkan alam ini dengan penilaiannya,buakankah fisika dalam kajiannya itu adalah benda atau materi,lantas mengapa penilaian tersebut hanya dikonsep,bukan pada bendanya.
Bukankah Studi mengenai fisika beranjak pada materi dalam materi tersebut ada ataom,kemuadia pertikum,dalam tahap ini dianalisis dengan gerak,kenapa harus dengan gerak karna massa tersebut tidak stabil,sebab masih ada ruang kosong,bukti ruang kosong tersebut,ketika kita membakar sebuah kertas,jika kertas tersebut tidak mempunyai ruang kosong maka tidak akan terjadi pembakaran,misalnya juga dalam tubuh manusia,jika tubuh tak memeiliki ruang kosong,maka tidak akan terjadi pula penyakit masuk angina,jadi adanya kertas yang terbakar dan terjadinya penyakit masuk angina pada manusia karna materi itu mempunyai ruang kosong.
Semua sependapat bahwa dalam fisika objek yang dikajia alalah alam,akan tetapi dalam tahap doktrin semua berbeda,sebab untuk menerima hal itu perlunya neraca,inipun yang dilakukan Capra dalam doktrin dan penilaiaannya ,ia menilai hanya pada pahaman ide,bukan objek benda tersebut. Dalam hal ini Wilardjo juga mengomentari pendapat Capra mengenai dwitunggal tersebut,dalam tulisan Wilardjo ia mengamini Capra bahwa kenyataan yang kita temukan sebgaian kebenaran keilmuan adalah epistemic.tapia ia tidak sependapat bahwa untuk menerima ekstrapolasi Capra yang ekstrim tersebut,yang menafikan adanya kenyataan objektif.
Wilardjo mengatakan ia meyakini kenyataan realitas objektif itu ada,meski kenyataannya tidak terjangkau kalau hanya mangandalkan pemahaman intelektual dan intuitif yang lazim dibidang ilmu. Sebab pengalaman nonintelektual spiritual tidak dapat dicapai pencerahan serta mengalami kenyataan sejati yang benar secara mutlak adalah hal yang tidak dapat dijelaskan secara bernalar.lanjtut kata Wilardjo kita dapat menerima adanya kemungkinan untuk mencapai kebenaran secara mutlak itu dengan iman,sebab iman memang melampaui akalbudi.dalam kaitan pendapat ini mengapa wilardjo memisahkan antara pengetahuan dan iman,apa landasannya ia berkata seperti itu,bukankah pencapaian pengetahuan juga merupakan proses sebuah capaian iman,kalau Wilardjo berpahaman seperti itu,maka apakah iman mampu menjelaskan pengetahuan jika ada keterpisahan,bagaimana menjelaskan yang kita imani tersebut tanpa adanya pengethuan didalamnya,kalau seperti itu bagaiamana mana juga kita mampu menemukan kebenaran objektif hanya dengan sebuah iman,jelaslah bahwa intelektual dan iman tersebut tidak bisa dipisahkan ia mempunyai kesaling hubunugan,dalam hal capaian intelektual, kita mempunyai nerca pengetahuan demi sebuah kebenran objektif,disitulah iman juga dapat dicapai,tanpa adanya pengetahuan,bagaiman kita bisa meyakini keimanan kita itu benar atau tidak,tanpa neraca pengethuan.
Begitupun dalam pandanga Wilardjo dalam dwituggal mengenai alamiah alkitabiah,secara alamiah atau biasa disebut natural,dalam hal ini alam sebagai realitas berupa entitas-entitas yang ada dan peristiwa-peristiwa terjadi,hakikat dan maknanya sering tidak tersamarkan atau tidak jelas,dan ini merupakan penyelidikan keilmuan serta dihayati oleh spiritual. Ia juga mengatakan sebaiknya dalam alkitabiah yang diyakini sabda dari tuhan yang diwahyukan kepada nabi,tidak perlu dibenarkan secara keilmuan sebab hasilnya akan sia-sia,karna keagaman berbeda dengan keilmuan dalam hal ini hanya bisa didekatai dengan hermeutika.
Dwitunggal yang dikatakan Wilarjo yang berupaya menyatukan kedua perbedaan tersebut,tidak menjelaskan dengan spesifik bagaiman kedua hal ini bisa menyatu,sebab ia memisahkannya alam dengan pengetahuannya,alamiah dan alkitabiah tidak ada keterkaitan sisi penilaan,alamiah misalnya yang beliau katakan alam ini samar dan hakikatnya sering berubah,untuk mengetahuinya perlunya keilmuan,mengapa dalam alkitabiah tidak memerlukan pengetahuan,bukankah para nabi juga pada masa hidupnya berada di alam,lantas apa nilai bahwa alkitabiah tidak bisa di kaji dalam pengetahuan,bukankah penilaian pengetahuan itu melalui alam.kenapa dalam hal ini pengetahuan alkitabiah dipisahkan dalam hal pengetahuan.
Tawaran dari wilarjo alkitabiah hanya bisa diketahui melalui hermeneutika,bukankah hermeutik dalam pengkajiannya juga berdasarkan alam,mengenai tanda-tanda,symbol.meski ada juga dalam hal tekstual,tapi tidak terlepas juga dengan alam. Pertayataan ini merupakan pemisahan antara pengetahuan dan agama,dalam urain ini pengethuan Wilardjo tidak jauh beda denga Capra yang berujung idealisme,sebab penilaiannya bukan pada alam tapi hanya di ide,meski ia mengimani Capra dalam objektif pengethuan berlandaskan alam,akan tetapi dalam doktirn dan penilaian hanya pada idealismenya.dan saya pun tidak menolak semua pendapat kedua tokoh tersebut,Cuma dalam hal penilaian saya tidak sependat,ada neraca pengethuan untuk dalam menentukan sebuah penilaian objektif,penilan itu kita turunkan ke alam,bukan hanya menjadi ide.

  • view 119