Idealisme Barkeley Dalam fenomena kecantika perempuan

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Filsafat
dipublikasikan 17 Mei 2016
Idealisme Barkeley Dalam fenomena kecantika perempuan

 

dalam pandangan Barkeley Adanya realitas ketika kita konsep,manusia mengkonsepsikan alam kemudian di ketahui akan tetapi nilai pengetahuan di alam itu tidak objektif,melainkan yang objektif tersebut ialah di pahaman. Pahaman menjadikan nilai objektif tersebut,sebab landasan awalnya ialah sesuatu yang ada itu ketika di ketahui.
Berkelay tidak menolak alam,akan tetapi nilai keberadaan di alam tersebut tidaklah hakiki,sebab nilainya berada di konsep.
inilah sedikit pandangan Barkeley mengenai nilai pengethuan.

Kita memeasuki era modern dimana mayoritas masyarakat terutama perempuan dalam hal kecantikan mereka sangat antusias untuk mendapatkan wajah yang ideal sebagai eksistensi hidup,untuk mendapatkan hal itu mereka berlomba merebut produk –produk iklan yang di pasarkan.apaun yang di pasarkan oleh periklanan kalaulah itu barang yang kesingnya sangat menarik,meski nilainya belumlah terbukti untuk merubah kecantikan seperti yang ia idamkan.merak hanya berpatokan mengenai siapa model dalam iklan tersebut,dan tergantung mayoritas yang menggunkan produksi iklan tersebut,jadi perilaku kecantikan bukan lagi secara alami,tapi siapa yang menjadi model iklan itu,dan berapa banyak yang menggunakan barang produksi itu.Dalam poin yang saya tarik mengenai kecantikan perempuan modern yang praktis hanya memunculkan sebuah idealisme kecantikan yang dikonstruksi oleh media periklanan,perempuan dalam melihat sebuah model baru yang diperiklankan mereka sangat antusias dan aktif dalam merespon barang tersebut,tak sayak lagi bahwa dalam hal ini,kecantikan perempuan berahir pada idealisme praktis,dalam penilaian mereka sangat ingin mengubah gaya hidupnya dan wajahnya seperti model iklan yang dilihatnya,tanpa menggunakan analisis yang akurat,dan pemikiran yang objektif. perempuan di era modern,bentuk kecantikan tersebut ialah politik praktis dari periklanan,perempuan digunakan sebagai objek mesin produksi yang menghilangkan pemikiran kemandirian perempuan,meraka tak lagi berfikir mengenai barang produksi tersebut,apakah cocok digunakan untuknya ataukah tidak,sebab tidak semua kosmetik itu cocok dengan wajah perempuan,alhasil banyak yang terjebak,akhirnya merugikan mereka sendiri.

Kebanyakan dari hasil tersebut,menghasilkan penuaan pada perempuan dan jerawat di wajahnya,akibat pengaruh mek-up yang digunakan,kecantikan idealismenya menjadi kenyataan yang dikeluhkannya sendiri.Jadi pada saat yang sama industri kecantikan telah mengubah persepsi.Seperti yang dikatakan Dian Sastro perempuan mengenai tubuh dan kecantikannya, maupun citra atau image manusia yang sesungguhnya, dan pentingnya memahami fenomena kompleks industri ini karena pertumbuhannya telah menjadikan Beauty IndustrialComplex sebagai produsen ideologi baru yang sebelumnya diperankan oleh negara, atau institusi agama.Dalam hal ini menunjukkan bahwa kecantikan adalah suatu bentuk konstruksi sosial yangmelibatkan di dalamnya bermain sejumlah politik tertentu, (politik konservasi nilai-nilai patriarkis, politikekonomi, politik nilai yang terkandung dalam suatu masyarakat, politik ras, politik kelas sosial dan politikkebudayaan) yang bermain dalam sistem perindustrian, media massa dan masyarakat patriarkis. Dimana dalam permainan bermacam politik tersebut ada juga berbagai perspektif dalam melihat konsep kecantikan.Perempuan kontemporer memiliki perspektif yang baru dan berbeda dalam melihat hal ini.
Jadi dalam hal ini perempuan diproduksi oleh media praktis guna mempromosikan barang dagangannya,perempuan dibentuk sedemikian rupa untuk menjadi alat praktis mesin produksi industrial.tak syak lagi bahwa dalam analisis saya bagaimana menelah kritis peran periklanan dan media dalam konstruksi kecantikan perempuan,Perkembangan budaya konsumen telah mempengaruhi cara-cara masyarakat mengekspresikan estetika dan gaya hidup. Dalam masyarakat konsumen, terjadi perubahan mendasar berkaitan dengan cara-cara orang mengekspresikan diri dalam gaya hidupnya. David Chaney mengemukakan bahwa gaya hidup telah menjadi ciri dalam dunia modern, sehingga masyarakat modern akan menggunakan gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya sendiri dan orang lain.Definisi lifestyle—gaya hidup saat ini menjadi semakin kabur. Namun dalam kaitannya dengan budaya konsumen, istilah tersebut dikonotasikan dengan individualitas, ekspresi diri serta kesadaran diri yang stylistik. Tubuh, busana, gaya pembicaraan, aktifitas rekreasi, tersebut adalah beberapa indikator dari individualitas selera konsumen.
Jadi gaya hidup merupakan pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lain.. gaya hidup merupakan bagian dari kehidupan sosial sehari-hari dunia modern. Gaya hidup adalah seperangkat praktek dan sikap yang masuk akal dalam konteks waktu.
Gaya hidup adalah salah satu bentuk budaya konsumen. Karena memang, gaya hidup seseorang hanya dilihat dari apa-apa yang dikonsumsinya, baik konsumsi barang atau jasa. Secara literal, konsumsi berarti pemakaian komoditas untuk memuaskan kebutuhan dan hasrat. Konsumsi tidak hanya mencakup kegiatan membeli sejumlah barang (materi), dari televisi hingga mobil, tetapi juga mengkonsumsi jasa, seperti pergi ke tempat hiburan dan berbagai pengalaman sosial.
Jadi perlunya masyarakat tahu terlebih lagi perempuan,mengetahui bagaimana peran industrial dalam memengaruhi konsumen terutama bagi perempuan itu sendiri,bagamana pemikiran dan analisa digunakan sebelum menentukan barang yang ingin dibeli,agar perempuan cerdas dalam memilih produk iklan.Bukannya ketika ada produksi baru yang telah dipasarkan,secara langsung ingin memiliki barang tersebut tanpa ada analisa terlebih dulu,apakah barang itu cocok dengan tubuh saya,jangan samapi digunakan akan menghasilkan kerugian,misalnya keriput di usia muda dan jerawat yang tumbuh,sebab banyak fenomena yang terjadi seperti itu.Kiranya perempuan harus mengetahui peran dan fungsi kosmetik agar tidak terejebak kecantikan idealisme,maksudnya kecantikan idealisme hanya penilaian yang ada dikepala akibat stimulus dari periklanan,bukan objektifitas kecantikan yang diinginkn,bahwa dalam menilai kecantikan yang ada dipahamnnyanya tersebut berbeda direalitasnya,harusnya cantik yang ada di ide juga di realitas itu berhubungan.

Referensi:
Amir Piliang, Yasraf. Dunia yang dilipat : Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. 2004. Bandung : Jalasutra
Paramita Sastrowardoyo Dian. Kompleks industri kecantikan.Skripsi.2007.depok jawabarat: Universitas indonesia

  • view 111