Pengaruh Budaya Pop dalam Masyarakat modern Aku Belanja Maka Aku Ada Studi Ana

rahmatullah usman
Karya rahmatullah usman Kategori Budaya
dipublikasikan 13 Mei 2016
Pengaruh Budaya Pop dalam Masyarakat modern  Aku Belanja Maka Aku Ada  Studi Ana

 

Cogito ergo sum,aku berfikir maka aku ada,merupakan pernyataan filosofis yang pernah di ungkapkan oleh Descrtes di abad 16,ungkapan ini cukup popular dalam pemikirannya,keberpikirannya adalah eksistensi dirinya,ia mengatakan bahwa nilai pengetahuan itu ada pada subjek manusia itu sendiri dalam pikirannya yang secara intuitif,Descartes sendiri tidak meragukan eksistensi alam,akan tetapi ketika pikiran beranjak keluar menuju ke alam maka keraguan itu muncul sebab alam itu berubah tidak tetap. Dari uraian pernyataan Descartes di atas ia mulai menyusun nilai pengetahuan manusia dalam tiga tahapan.

Pertama: ide instingtif atau alamia, ini adalah ide alami manusia yang paling jelas dan objektif seperti ide                 mengenai Tuhan,gerak,perluasan dan jiwa

Kedua     : ide tidak jelas yang datang dari pikiran manusia yang berhubungan dengan alam,yang                                    sebelumnya manusia tidak mengetahuinya

Ketiga      : beberapa ide yang di konstruksi manusia itu sendiri,tidak jelas misalnya manusia berkepala                        dua dan lain sebagainya

Dari pernyataan Descates diatas,ia fokuskan  penilainnya pada ide alami mengenai Tuhan,karena ini ide bukanlah hasil dari pemikiran manusia,ide alami ini adalah realitas objektif yang lebih unggul di bandingkan dua tahan pengetahuan yang di susunnya.Tuhan buaknlah ciptaan dari fikiran karena dia lebih tinggi dibandingkan pikiran manusia,Tuhan dalam pandangan Descartes itu nilainya,ini merupakan ide bawaan lahir manusia.

Inilah struktur dan doktirin panilaian Descartes dalam filsafatnya,yang sangat berpengaruh di eropa pada masa Renaisans,sebagaimana pemikirannya mampu bertahan begitu lama,bahkan sampai pada zaman sekarang ini,pengaruh pemikirannya banyak digunakan dalam proses aktifitas masyarakat modern. Kehidupan masyarakat modern saat ini sangat berkembang pesat,dalam hal memenuhi keinginan untuk eksis. Masksudnya eksis dalam bidang berkomsumsi yang aktif,dan memunculkan slogan ”aku belanja maka,aku ada” ungkapan tersebut sangat popular dalam ketatnya persaingan eksistensi manusia diranah sosialnya dan merefleksikan semangat berkomsumsi masyarakat modern saat ini.

Masyarakat modern adalah masyarakat konsumtif. Masyarakat yang terus menerus berkeinginan berkonsumsi mereka selalu ingin memiliki barang baru yang membuatnya eksis. Namun konsumsi yang dilakukannya buakan lagi kegiatan mendasar manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,melainkan bersal dari kegiatan produksi. System masyarakatpun telah berubah menjadi budaya konsumsi, dan merubah kebijakan atau aturan-aturan sosial yang terjadi di masyarakat sangat di pengaruhi oleh  sistem pasar.

Fenomena yang terjadi saat ini dalam aktifitas sosial masyarakat sangat di pengaruhi oleh produk pasar, yang sangat sulit untuk di hindari,sebab produk tersebut di publikasikan lewat media sosisal,periklanan,dan tv. Kita tahu bahwa hampir seluruh  masyarakat yang ada di Indonesia ini mempunyai handpone yang bisa mengakses media sosial,masayarakat kini dibayang-bayangi oleh n di produk-produk pasar  yang siap memanjakan hidupnya,apa lagi masyarakat yang kehidupannya di kota,hampir di setiap jalan ada baliho periklanan yang siap menjamu mata kita saat melewatinya. Hampir tidak ada lagi ruang untuk menghindar diri dari cengkraman sebagai manusia konsumen,ini merupakan konstruksi  budaya pop yang dengan sengaja di bentuk oleh para produsuksi iklan.

Mengapa tidak, dalam kehidupan masyarakat konsumen, kita tak henti-hentinya di sodori produk-produk pasar yang sangat mengiurkan,dan memanjakan diri atau sangat praktis,misalnya dengan air mineral,makanan siap antar,kosmetik,kafe,pakaian,dan lain sebagainya,kita sangat di manjakan dengan hal seperti ini,masyarakat jadi malas untuk melakukan aktifitas rumah tangga dalam hal membuat makan hanya hal yang mudah di lakukan jadi sulit,karena dalam pemikirannya sudah ada makanan yang siap dibeli dan diantar,begitupun juga dengan air untuk kebutuhan,air yang hanya bisa di masak dengan mudahnya,tapi kita memilih untuk membelinya,bukankah hanya perbedaan wadahnya saja.

Apa lagi denga kosmetik dan pakaian,dalam produk iklan sangat menampilkan pesona penampilannya,kita jadi ingin memiliki benda tersebut meski kita masih mempunyai benda tersebut yang masih bisa di gunakan,terutama kaum perempuan mengenai kosmetik. Padahal dalam periklanan, pemeran iklan tersebut pria dan wanita memang sangat menarik,putih tinggi cantik dan ganteng,jadi dalam promosi produksianya,pemeran melakukan ektingnya dalam menggunakan produktersebut,misalnya kosmetik berjenis bedak atau hembodi,perempuan yang warna kulitnya kurang cerah atau putih dan kurang menarik,setelah memakai produk tersebut dalam satu minggu atau dua minggu wajahnya berubah menjadi cantik dan kulitnya cerah dan putih,ini metode periklanan dalam menggait konsumen untuk membeli produknya,padahal pemeran iklan tersebut memang mempunyai ciri-ciri tubuh ideal dan wajah yang menarik walaupun tanpa memakai produk iklan tersebut.

Jadi secara tidak langsung masyarakat yang melihat iklan tersebut ingin mempunyai wajah,kulit dan tubuh seperti pemeran iklan tersebut hanya dalam waktu kurang lebih dua minggu,begitupun dengan produk media elektronik,setiap ada produksi baru mengenai handpone,dan kecanggihan hendpone tersebut lebih unggul dibandingkan milik mereka,maka keinginan untuk memilikinya  sangat tinggi,bahkan ada yang belum di pasarkan di Indonesia,mereka langsung ke luar Negri untuk membelinya meski hanpone yang ia punyai belumlah terlalu lama.

Masyarakat Indonesia  sangat antusias dalam hal produk-produk baru,sebab untuk eksis di sosial mereka tergantung dengan produksi pasar,untuk membuatnya eksis hanyalah benda tersebut,tanpa ada penilaian onjektif di alam apakah ini merugikan atau tidak,masyarakat sangat kurang dalam memahami  eksistensi dirinya,mereka tidak lagi mempunyai pemikiran yang terstruktur dalam kehidupan sosialnya,sebab penilaiannya hanya berdasarkan belanja,ingin eksis ,”aku belanja maka,aku ada, yang penting jangan ketinggalan jaman.keberlanjaan membuat eksistensi yang objektif,bukan lagi hubungan sosial yang memang muncul dari fitrah manusia itu sendiri.cara mereka yang mengekspresikan gaya hidup,menciptakan budaya belanja yang bukan lagi karena kebutuhan pokok masyarakat,melaikan keinginan yang di dahulukan.

Kehidupan masyarakat kini semakin kabur,eksistensi dan gaya hidupnya bukan lagi hasil berfikirnya,melainkan digerakkan oleh mesin produk yang membuat ia hidup,yang pentin mereka bisa memiliki benda yang di pasarkan tersebut,dan keinginannya itu tercapai,tanpa berfikir mengenai keguanaan apa yang di belanjakan tersebut,ada pernyataan yang pernah saya dengar mengenai hal ini,pernyataan tersebut seperti ini,”yang penting saya bisa eksis,uang uang saya”.tidak jadi persoalan jika memang itu yang terjadi,akan tetapi masyarakat harus tau mengenai konsep nilai guna produk dan kita sebagai konsumsi agar tidak dimanipulasi oleh periklanan,masyarakat juga sebagai konsusmsi harus punya pengetahuan mengenai apa itu konsumsi,di mana letak nilainya,agar kita tidak bergantung kepada produk periklanan yang dalam pemikiran masyarakat membuatnya eksis dan mengurangi perkembangan jangan sampai meluas menjadi ideologi.

Dalam defenisi konsumsi Yasraf Amir Piliang mendefenisikan sebagai berikut

Ada beberapa konseptualisasi dalam istilah konsumsi. Konsumsi, menurut Yasraf , dapat              dimaknai sebagai sebuah proses objektifikasi, yaitu proses eksternalisasi atau internalisasi diri       lewat objek-objek sebagai medianya. Maksudnya, bagaimana kita memahami dan                 mengkonseptualisasikan diri maupun realitas di sekitar kita melalui objek-objek material. Disini terjadi proses menciptakan nilai-nilai melalui objek-objek dan kemudian memberikan   pengakuan serta penginternalisasian nilai-nilai tersebut.

 

Definisi tersebut memberi frame bagi kita dalam memahami alasan mengapa orang terus menerus berkonsumsi. Objek-objek konsumsi telah menjadi bagian yang internal pada kedirian seseorang. Sehingga sangat berpengaruh dalam pembentukan dan pemahaman konsep diri. Sebagai ilutrasi misalnya, banyakmasyarakat terutama  remaja yang merasa dirinya bisa benar-benar menjadi remaja ‘gaul’ jika mereka mengenakan jeans dan model kaos atau baju yang sedang menjadi trend saat itu. Pakaian yang merupakan objek konsumsi, menjadi penanda identitas mereka dibanding karakter psikis, emosional ataupun penanda fisik pada tubuh mereka. Ini hal mendasar  dalam masyarakat konsumen yang memang harus diketahui,agar kita mempunyai nilai pengetahuan dalam berkonsumen,kita dalam meilih produk pasara,harus punya analisa kuat untuk berbelanja,agar barang yang kita beli tersebut berguna untuk kebutuhan,bukan keinginan semata,sebab produksi pasar saat ini tidak melihat kebutuhan masyarakat,melainkan apa yang masyarakat inginkan sesuai hasrat berkonsumennya.

 

Referensi

Amir Piliang, Yasraf. Dunia yang dilipat : Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. 2004. Bandung : Jalasutra

Baqir Shadr,Muhammad. Falasafatuna : Nilai Pengetahuan Descartes.2015. Jogja: Jaringan Aktifis Filsafat Islam (Jakfi)

  • view 102