Dimanakah Pucuk Kebahagiaan

Intan Setianingrum
Karya Intan Setianingrum Kategori Renungan
dipublikasikan 26 Juli 2016
Dimanakah Pucuk Kebahagiaan

Dimanakah Pucuk Kebahagiaan

Burung berkicau, angin berhembus, bunga bermekaran, ranting pohon hijau menyapa, sejuk dipandang, bahagia terasa, semua terasa damai, semua terasa tentram, senyuman selalu ada di tanah surga ini.

Kita terlahir di atas tanah yang subur, dibawah langit yang biru dengan pelangi berwarna warni. Kita semua terlahir dari proses yang sama dan menjadi insan yang sama dimata Yang Maha Pencipta, hanya saja derajat keimanan yang membedakan kita, dan bukan yang lain ! Dari sebuah persamaan akan memunculkan perbedaan, dan dari perbedaan yang kecil hingga yang besar akan menimbulkan kesenjangan.

Perbedaan kesederajatan akan yang miskin dan yang kaya, antara yang terkenal dan yang biasa, antara yang cantik dan yang kurang cantik dan antara yang tampan dan yang kurang tampan dan masih banyak lagi. Hal inilah yang terjadi dalam masyarakat sekarang ini. Bukankah sudah dijelaskan dari masing-masing agama yang mereka taati bahwa setiap manusia diciptakan sama hanya keimanan yang merubah kedudukan kesederajatan.

Entah mengapa di dunia ini banyak sekali orang memandang sebelah mata sesuatu yang kecil, sesuatu yang buruk rupanya, sesuatu yang terdengar biasa, dan sesuatu yang tidaklah terkenal. Padahal sesuatu yang disepelekan justru akan lebih unggul dari mereka, lebih bijaksana dari mereka, lebih bisa menghargai yang lain dibandingkan dengan mereka. Hanya saja latar belakang yang mengurung mereka dalam keadaan tersebut.

Kita berada didunia nyata didunia yang mengharuskan kita untuk saling sosialisasi, untuk saling tolong menolong dan untuk saling menghargai satu dengan yang lainnya. Agar muncullah sikap kekeluargaan dalam diri kita. Betapa indahnya negara ini jika kita hidup saling tolong menolong, adil, dan bijaksana dalam bertindak.

Membahas masalah negara tidak ada habisnya. Selalu ada masalah yang muncul setiap saatnya. Indonesia adalah negara kepulauan, negara yang beraneka ragam suku, ras dan negara yang kaya akan kebudayaannya. Dan kita adalah negara merdeka.

Merdeka bagi mereka yang merasakan kemerdekaan, mungkin itu yang dikatakan sebagian masyarakat yang dipandang sebelah mata. Kita semua sama yaitu rakyat Indonesia, kita semua Bhineka tunggal ika. Semua masyarakat berhak mendapat fasilitas dalam bidang kesehatan, pendidikan maupun pekerjaan. Banyak diluar sana mereka yang memiliki kemampuan justru tidak mendapatkan kesempatan, justru keturunan dari kolongmeratlah yang mendapat prioritas utama.

Misalnya dalam dunia industri kebanyakan mereka merekrut pegawai dari orang-orang yang mereka kenal, orang-orang dari keluarga terpandang, sedangkan manusia yang kompeten namun tidak berlatar belakang dari keluarga terpandang dan tidak kaya justru tidak dipilih. Jika hal ini terus dibiarkan maka yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin menjerit. Selain itu ketidak adilan juga terjadi diinstansi sekolah, pemerintahan, bahkan kepolisian juga terjadi. Faktanya ketika disuatu perjalanan terdapat orang yang melanggar tata tertib lalu lintas kemudian ditilang oleh pihak kepolisian yang akan memberikan sanksi berupa denda dan ketika orang yang ditilang mengatakan bahwa dia memiliki seorang ayah polisi dan memiliki jabatan yang penting maka yang terjadi adalah tidak ada denda yang harus dibayarkan. Lain halnya jika yang ditilang adalah masyarakat biasa, denda tetap denda. Lalu apakah semua anak manusia harus memiliki seorang ayah polisi agar keadilan itu ada? Tidak, meskipun mereka anak jendral, bahkan presiden sekalipun peraturan tetap peraturan. Tidak ada hubungannya dengan silsilah keturunan. Dan kemiskinan itu bukanlah sebuah pilihan.

Selanjutnya ada beberapa dalam bidang kesehatan yang dilakukan oleh pihak instansi adalah mendahulukan mereka yang membayar terlebih dahulu dibanding dengan rakyat biasa yang sakit parah dan butuh penanganan khusus. Mungkin ada beberapa yang melayani namun dengan keramah tamahan yang berbeda dibandingkan dengan mereka yang memiliki uang banyak. Sehingga banyak perumpamaan mengatakan bahwa orang miskin tidak boleh sakit. Sakit itu pun juga bukan suatu pilihan, tidak ada orang yang ingin berduka dengan kesakitan.

Pada saat hari kemerdekaan banyak masyarakat yang merayakan dengan berbagai macam lomba dan disakralkan dalam sebuah upacara. Mereka bahagia dalam keadaan tersebut, yang miskin pun terkadang merasakan apakah mereka benar-benar sudah merdeka? Inilah yang membuat anak bangsa menjadi luntur cintanya terhadap tanah air.

 Kondisi yang tidak seimbang dalam suatu negara juga tampak jelas dibalik ibukota, perbedaan antara  gedung tinggi bertingkat nan mewah dengan segala fasilitas terhadap rumah kumuh yang berjajar dipinggir sungai sangatlah kontras. Belum lagi mereka yang tinggal dikolong jembatan, dipinggir rel kereta api, bahkan didalam gerobak sampah. Hal ini tentu menjadi pekerjaan yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah, agar semua rakyat merasakan kedudukan yang sama dihadapan hukum maupun negara. Karena sudah jelas bahwa negara kita, government of people government by people government to people.

Banyak sekali perbedaan yang seharusnya menjadi sebuah persatuan justru menimbulkan suatu kesenjangan. Permasalahan tersebut terus terjadi setiap tahunnya, dengan pelaku yang sama pula.  Padahal sila kelima menyebutkan bahwa “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Mungkin masalah tersebut dapat diatasi mulai dari diri sendiri, untuk lebih bersikap rendah hati, saling menghargai, tidak membeda bedakan teman, dan tidak mendiskriminasikan seseorang. Karena baik buruknya suatu bangsa tergatung pada tangan siapa bangsa tersebut digenggam.

Perbedaan akan mendatangkan sebuah pertentangan , namun pertentangan tersebut dapat diatasi dengan persatuan, menghidari kesombongan dan menjunjung keadilan. Jika hal ini dapat terlaksana kebahagiaan tawa lepas masyarakat akan terlihat dipucuk kedamaian.

Selain itu pemerintah harus bisa bersikap adil, memberantas KKN, mengawasi secara ketat mafia hukum. Agar semua merasakan kemerdekaan yang sebenarnya.

  • view 161