Banyak Paus Terdampar di Pantai Aceh

Inspirasi News
Karya Inspirasi News Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 November 2017
Banyak Paus Terdampar di Pantai Aceh

Sebuah fenomena tidak biasa terjadi di Pantai Ujung Kareung, Aceh. Lebih dari seekor Paus Sperma (Physeter macrocephalus) terdampar pada Senin (13/11) lalu. Jumlah pasti paus yang terdampar bahkan dilaporkan sebanyak 10 ekor, 4 di antaranya mati.

Dari laman nationalgeographic.co.id dipaparkan sejumlah dugaan mengenai terdamparnya paus tersebut. Di antaranya kutipan penjelasan Whale Stranding Indonesia (WSI) yang menyebutkan bahwa memang sedang ada peningkatan angin matahari serta terdapat kondisi geomagnetik aktif di kutub bumi, dan kemungkinan lainnya yaitu terkait gempa bumi ringan berkekuatan 3 SR di Aceh siang itu pukul 12:49:46 waktu setempat. WSI juga sempat menghimbau kepada para masyarakat dan petugas agar tidak menggunakan tali apa pun untuk menarik hewan secara langsung dalam upaya penyelamatan demi tujuan tidak melukai hewan tersebut.

Menanggapi kasus cukup luar biasa ini, dikutip DetikCom Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Augy Syahailatua berharap Indonesia segera memiliki peneliti-peneliti yang menekuni mamalia laut (paus, dugong, dan lain-lain). Lebih lanjut menurut Augy perlu diteliti soal jalur migrasi, perlu dipastikan perairan pantai Aceh Besar merupakan salah satu jalur migrasi paus atau bukan.

Sementara itu dilansir dari Tempo.co pada 2 November lalu, seorang nelayan Bengkulu, Sukadi, menyatakan dirinya menemukan benda terapung di tengah Samudera Hindia yang diduga muntahan paus. Dosen Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu Zamdial lalu mengomentari bahwa muntahan paus atau ambergris tersebut diduga masih berkaitan dengan paus-paus yang terdampar di Aceh. Zamdial pun kemudian menjelaskan tentang muntahan paus alias ambergris  yang sebetulnya bukan keluar dari mulut paus (Cetacea). Benda yang disebut bisa digunakan sebagai ekstraksi parfum ini sebenarnya keluar dari anus. Ambergris yang ternyata memang biasa dipakai untuk zat pengawet parfum ini harganya sangat mahal karena langka.

 Foto: WWF Indonesia

 

  • view 43