Masa Depan Perdamaian yang Diusahakan Peace Train Indonesia

Inspirasi News
Karya Inspirasi News Kategori Agama
dipublikasikan 09 November 2017
Masa Depan Perdamaian yang Diusahakan Peace Train Indonesia

Perdamaian menjadi kebutuhan bagi manusia di dunia, tak terkecuali Indonesia dengan latar belakang bermacam perbedaan yang rawan akan gesekan. Apalagi belakangan isu SARA kembali  mengemuka dan memecahbelah masyarakat. Hal ini rupanya yang menjadi kegelisahan Anick HT, Frangky Tampubolon, Ahmad Nurcholish, Johan Edward, dan Destya Nawriz untuk kemudian menggagas sebuah gerakan bertajuk Peace Train Indonesia.

Peace Train Indonesia dibentuk sebagai program traveling lintas agama dengan menggunakan kereta api, menuju ke satu kota yang telah ditentukan. Di kota-kota tersebut peserta akan mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah-rumah ibadah, dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai aktor penting toleransi dan perdamaian antar agama. Mereka juga akan berproses untuk saling belajar, berbagi cerita, berdialog, bekerjasama, mengelola perbedaan, berkampanye, dan menuliskan pengalaman perjumpaan dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan.

Sebuah ide mulia untuk menjembatani perbedaan dengan jalan saling mengenal untuk bisa saling memahami dan menyayangi tersebut akhirnya terselenggara nyata pertama kali pada 15-17 September 2017. Peace Train angkatan pertama berkesempatan mengeksplorasi isu-isu toleransi dan destinasi berbasis perbedaan di Semarang di antaranya yaitu Masjid Nusrat Jahan Ahmadiyah, Vihara Tanah Putih, Gereja JAGI, Pura Agung Girinatha, Klenteng Tay Kak Sie, dan Gereja Katholik Santo Yusuf. Tidak hanya itu para peserta ini juga sempat mengeksplorasi Kota Lama Semarang. Perpisahan kemudian  ditutup dengan manis di malam kesenian persembahan dari berbagai komunitas pendukung pluralisme Semarang bertempat di Gereja Katolik Santa Theresia Bongsari.

“Perjumpaan semacam ini menjadi sangat penting agar generasi muda kita dapat saling mengenal, terutama terhadap pelbagai keragaman agama serta keunikan dan kekhasan di dalamnya sehingga memungkinkan mereka untuk saling memahami, menghargai dan menghormati yang pada tahap selanjutnya dapat saling bekerjasama mewujudkan perdamaian, “ujar Ahmad Nurcholish, salah satu penggagas program ini.

Setelah Semarang, Surabaya (juga beberapa tempat di Sidoarjo dan Gresik)  menjadi kota selanjutnya yang menjadi saksi perjalanan Peace Train Indonesia pada 3-5 November kemarin. Angkatan kedua kali ini diikuti oleh 20 peserta dari berbagai agama yang berasal dari Medan, Riau, Jabodetabek, Salatiga, Cirebon, Rembang, Makassar, Banjarmasin, Papua, Sidoarjo, Lamongan, Surabaya dan Malang. Acara pelepasan menuju Surabaya pada Jumat (3/11) lalu dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai agama termasuk Michael Wattimena, Ketua Umum GAMKI yang juga anggota DPR RI. Peace Train Surabaya kali ini semakin banyak mendapat perhatian media massa lokal dan nasional, misalnya ada yang  menulis tentang perempuan berjilbab dan lelaki berpeci mengikuti ibadah di sebuah gereja di Gresik.

Kota berikutnya yang menjadi rencana tujuan perjalanan Peace Train Indonesia adalah Yogyakarta pada Januari 2018 mendatang. Dan sebagai bentuk inovasi serta pergerakan yang lebih luas lagi kemungkinan moda transportasi lain pun akan dipertimbangkan, seperti yang diutarakan oleh Anick HT yang juga sebagai salah satu penggagas Peace Train Indonesia.

 “Tidak menutup kemungkinan bahwa ke depannya nanti jika program ini pun semakin berkembang, akan ada pula Peace Ship Indonesia (menggunakan kapal laut)  atau Peace Plane Indonesia (menggunakan pesawat),”tutupnya.

Foto

 

 

  • view 38

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 bulan yang lalu.
    Semoga peace train semakin menyemarakan persatuan dan melengkapi kesatuan antar agama yg satu dengan agama lainnya. Dan tidak menutup kemungkinan bisa saling berkolaborasi dengan JBFT (Jakarta Barrier Free Tourism) menyemarakan keanekaragaman rumah ibadah dengan melihat aksebilitas bagi warga disabilitas dalam beribadah tentunya. Salam Akselerasi dan Hormat untuk Bapak Anick