Dinyatakan Tersangka atas Keluhan yang Ditulisnya, Benarkah Acho Bersalah?

Inspirasi News
Karya Inspirasi News Kategori Lainnya
dipublikasikan 07 Agustus 2017
Dinyatakan Tersangka atas Keluhan yang Ditulisnya, Benarkah Acho Bersalah?

Komedian yang lahir dari ajang Stand Up Comedy, Acho resmi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus melakukan pencemaran nama baik terhadap Apartemen Green Pramuka City. Ia ditetapkan tersangka setelah menulis kritik terhadap pengelola dan manajemen apartemen tersebut, yakni PT Duta Paramindo Sejahtera.

Dijelaskan dalam Kompas.com, kritik tersebut ditulis Acho dalam blognya muhadkly.com pada 8 Maret 2015 silam. Setidaknya ada empat hal yang dikritisi Acho terhadap apartemen yang dibelinya pada Februari 2013 lalu. Pertama, soal sertifikat yang tak kunjung diterima olehnya dan para penghuni lainnya. Padahal, pihak pengelola menjanjikan sertifikat akan diberikan setelah dua tahun oleh para penghuni tower apartemen pertama. Acho menulis,

“Hingga tulisan ini ditulis (re: 8 Maret 2015), sertifikat masih tak kunjung datang, padahal para penghuni tower tahap pertama sudah tinggal di sana hamper tiga tahun dan banyak yang sudah lunas.”

Kedua, perihal sistem parker di apartemen yang ditempatinya tersebut. Dalam blognya, dia menulis bahwa dia dan penghuni lainnya dibebankan tarif parker mobil hingga Rp200.000 perbulan.

“Namun, sebagai member kia hanya boleh parker di basement 2, jika berani parker di area lainnya, maka akan dikenakan lagi biaya parker regular yang perjamnya Rp3.000 pada jam tertentu.”

Basement dua, lanjut Acho, merupakan area parkir paling bawah dengan kondisi saat itu berdebu lantaran baru selesai dibangun. Selain itu, karena semua mobil penghuni diparkir di sana, maka menurut dia, kondisi basement dua tersebut sempit dan penuh. Ketiga, berkaitan dengan iuran pengelolaan lingkungan (IPL). Ketika tulisan itu dirilis atau pada Maret 2015, pihak pengelola Green Pramuka City menaikkan biaya IPL hingga 43 persen menjadi Rp 14.850 per meter persegi dari sebelumnya Rp 9.500 per meter persegi. Itu artinya, Acho mesti membayarkan biaya IPL sebesar Rp 490.050 per bulan.

"Luar biasa, padahal fasilitasnya standard aja. Saat tulisan ini dibuat, belum ada fasilitas istimewa seperti sauna, tempat gym, lapangan tennis, golf dll, silakan buktikan sendiri.” Hal keempat yang diakunya merupakan hal paling mengesalkan adalah adanya biaya untuk melakkukan renovasi terhadap unit apartemennya. Di mana unit apartemen yang dibeli pasti hanya mendapatkan unit kosong, dan menurut Acho tak salah jika ia ingin melakukan renovasi seperti memasang pendingin ruang, peralatan dapur, TV dan wallpaper.

"Pengelola Apartemen Green Pramuka City justru mewajibkan kami membayar sejumlah uang yang mereka sebut “biaya izin” atau “biaya supervisi” ketika kami membawa kontraktor dari luar. Padahal jelas-jelas di buku house rules yang mereka buat, biaya-biaya itu tidak ada, syarat renovasi yang sah itu cuma bayar Rp 1 juta buat deposit dan uang sampah Rp 500.000,” Sedangkan, pengelola mengeluarkan daftar harga untuk renovaso dan meminta bayaran sebesar Rp30 juta bila menggunakan kontraktor dari luar.

Sementara itu, dikutip Detik.com, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menganggap tidak ada potensi pelanggaran dari keluhan Acho di blog pribadinya. Apa yang ditulis Acho menurutnya adalah sebuah upaya untuk merebut hak-haknya yang dilanggar pengembang apartemen. Menurut Tulus tindakan Acho sesuai dengan aturan UU Perlindungan Konsumen pasal 4, bahwa konsumen berhak untuk didengar pendapat dan keluhannya. Termasuk menyampaikan keluhan dan pendapatnya via media massa, dan media sosial. Ia juga mengecam kriminalisasi yang dilakukan developer untuk membungkam daya kritis konsumen. YLKI juga kecewa dengan tindakan polisi yang bertindak cepat jika mendapat ajuan dari pihak pengembang dan lamban jika mendapat aduan masyarakat.

Berikut kronologis kasus yang menimpa Acho dari unggahan keluahannya di media sosial. Liputan6.com menjabarkan kronologis tersebut.

8 Maret 2015
Acho menulis di blog muhadkly.com soal janji apartemen Green Pramuka.

5 November 2015
Danang Surya Winata (kuasa hukum dari PT Duta Paramindo Sejahtera) melaporkan Acho ke polisi dengan dugaan melakukan pencemaran nama baik sesuai Pasal 27 ayat 3 UU ITE dan Pasal 310-311 KUHP.

26 April 2017
Acho menerima panggilan dari Cyber Crime Polda Metro untuk diperiksa sebagai saksi kasus pencemaran nama baik Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat 3 UU ITE dan atau Pasal 310 & 311 KUHP, yang dilaporkan oleh Danang Surya Winata selaku kuasa hukum dari PT Duta Paramindo Sejahtera.

9 Juni 2017
Acho menerima surat panggilan polisi untuk diperiksa sebagai tersangka.

22 Juni 2017
Acho mengirim surat ke pihak pelapor agar kiranya mau bertemu untuk melakukan mediasi sesuai arahan penyidik. 

2 Juli 2017
Karena surat tidak direspons, lalu Acho berusaha menelepon Danang dan mengajak bermediasi, namun ditolak.

17 Juli 2017
Acho kembali datang ke Polda untuk pengambilan sidik jari dan foto tersangka.

 

  • view 68