Kisah Asmara Jadi Alasan di Balik Kasus Order Fiktif Go-Food

Inspirasi News
Karya Inspirasi News Kategori Lainnya
dipublikasikan 01 Agustus 2017
Kisah Asmara Jadi Alasan di Balik Kasus Order Fiktif Go-Food

Sugiarti, terlapor kasus orderan fiktif melalui ojek online, Go-Food yang merugikan seorang warga bernama Julianto Sudrajat akhirnya mengakui perbuatannya tersebut. Sugiarti pun akhirnya mengaku dibantu oleh dua keponakannya untuk mengorder makanan atas nama Julianto. Di sisi lain, cerita kandasnya asmara antara Sugiarti dan julianto juga menyeruak di balik kasus ini.

Dijelaskan Detik.com, Sugiarti sebelumnya mengaku mempunyai keinginan agar Julianto menikahinya. Namun, Julianto menolak permintaan tersebut. Karena merasa sakit hati, Sugiarti akhirnya melakukan perbuatan pencemaran nama baik yang ditujukan kepada Julianto. Selain itu, ia juga melakukan order fiktif yang mengatasnamakan Julianto. Julianto yang seorang pegawai bank swasta terkejut karena banyaknya pesanan makanan dari aplikasi ojek online yang ditujukan ke dirinya. Untuk satu pesanan, jumlah biaya yang harus dibayar mencapai ratusan ribu rupiah. Karena pesanan tersebut terlalu sering datang, Julianto kewalahan memenuhi biaya yang ditagihkan kepadanya yang mencapai jutaan rupiah. Terkait penetapan Sugiarti sebagai tersangka, Julianto mengaku baru mengetahuinya. Ia berencana mendatangi Polres Jakarta Timur untuk memastikan hal tersebut. Ia juga berencana mengonfirmasi hal ini ke kantor tempatnya bekerja untuk memberitahukan bahwa tersangka fiktif Go-Food sudah tertangkap. Pasalnya, akibat pencemaran nama baik yang dilakukan Sugiarti, Julianto terpaksa diberhentikan dari pekerjaannya.

Dalam melakukan aksinya, Sugiarti tidak sendiri. Ia dibantu keponakannya berinisial FH dan R. Kapolres Jakarta Timur, Kombes Andry Wibowo seperti dijelaskan Kompas.com mengatakan, FH dan R akan segera dimintai keterangan untuk mengetahui latar belakang mereka membantu perbuatan Sugiarti. Keduanya juga ditetapkan sebagai saksi atas kasus ini. Polisi akan menyelidiki bagaimana relasi, komunikasi dan niat masing-masing ketika hal ini dilakukan. Apakah mereka memiliki kesamaan niat dan rasa solidaritas sebagai keluarga. Andry melanjutkan, akan diselidiki juga apakah ada tekanan pada mereka karena Sugiarti dianggap lebih senior dibanding dua orang tersebut.

Menanggapi kasus ini, Sindonews.com mengutip pernyataan Pakar Keamanan Siber,  Pratama Persadha yang mengemukakan bahwa titik masalah ada pada verifikasi yang kurang tepat. Menurutnya, siapapun dengan email dan nomor telepon bisa melakukan pembuatan akun baru bahkan mengatasnamakan orang lain. Tambahnya, selain identitas yang harus diisi sesuai KTP, juga perlu diikuti integrasi dengan sistem e-KTP. Di mana satu identitas nomor KTP hanya bisa membuat satu akun. Menurutnya, Go-Jek dan semua transportasi online harus memperketat verifikasi pendaftaran. Di sisi lain, peran pemerintah juga dinilai penting. Pemerintah harus tegas memperketat pendistribusian nomor telepon selular agar satu orang tidak dengan mudah mempunyai banyak nomor.

  • view 131