Benarkah PT IBU bersalah? Begini Kejelasan dari Polri

Inspirasi News
Karya Inspirasi News Kategori Lainnya
dipublikasikan 25 Juli 2017
Benarkah PT IBU bersalah? Begini Kejelasan dari Polri

Kasus penyitaan 1.161 ton beras di PT Indo Beras Unggul (PT IBU) yang digerebek Satgas Pangan pada Kamis, 20 Juli 2017 lalu menyisakan polemik. Penggerebekan yang dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian tersebut membuat beberapa pihak mempertanyakan di mana letak kesalahan yang dilakukan oleh PT IBU.

Okezone.com mengutip pernyataan Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto yang menyatakan bahwa ada kerugian negara mencapai ratusan triliun dalam kasus ini. Kerugian tersebut dilaporkan Kapolri sejak PT Tiga Pilar Sejahtera (PT TPS) perusahaan induk dari PT IBU beroperasi. PT TPS diduga mengakusisi dan mengambil alih penggilingan-penggilingan kecil di daerah Bekasi, Karawang dan Sragen sejak 2010. PT TPS membeli harga gabah kering panen senilai Rp4600, padahal harga ketetapan pemerintah tertinggi adalah Rp3.700. Selain itu, beras yang dijual PT TPS dan anak perusahaannya yang lain juga tergolong mahal. Berdasarkan data dan fakta, beras produksi PT IBU dan PT SAKTI dengan merek Ayam Jago dijual Rp102.000/5 kg dan merek Maknyuss seharga Rp68.500/5 kg. Dalam kasus ini, semua PT tersebut dianggap mengambil keuntungan yang besar.

Selain itu, PT TPS juga diduga membohongi publik di mana nilai gizi yang dicantumkan dalam kemasan tidak sesuai dengan semestinya. Berdasarkan hasil laboratorium, merek Ayam Jago mencantumkan kadar protein sebesar 14% sementara hasilnya hanya 7,72%. Lalu kadar karbohidrat yang ditulis 25% hasilnya justru 81,47 %, dan kadar lemak tercantum 6% hasilnya lebih kecil hanya 0,38%. Selanjutnya, untuk merek Maknyuss dicantumkan kadar protein sebesar 14% sedangkan nilainya hanya 7,72%. Karbohidrat sebesar 27% padahal hasilnya 81,47%, dan kadar lemak yang tercantum 0% padahal lebih besar yakni 0,44%.

Sementara itu, terkait tuduhan terhadap PT IBU yang menjual subsidi dengan harga mahal dan membeli beras dari petani dengan harga tinggi sehingga mematikan penggilingan kecil dibantah oleh pengamat pertanian, Sutrisno Iwantono. Dilansir Detik.com, menurut Sutrisno, pemerintah seharusnya mendukung peningkatan pendapatan petani. Bila petani sejahtera dan pendapatannya cukup, maka mereka akan terus menanam padi dan kedaulatan pangan Indonesia akan terjaga. Kemudian soal tuduhan menipu konsumen dengan kandungan gizi yang tidak sesuai label, PT IBU membantah tuduhan tersebut. Sutrisno juga berpendapat, akan disebut kejahatan bila ada penipuan label kandungan produk pada  beras yang dijual oleh PT IBU. Menurutnya, harus ada pembuktian apakah benar ada penipuan terhadap konsumen atau tidak. Disebutnya pula, pembuktian tersebut bukan merupakan ranah Menteri Pertanian atau Komisi Pengawas Perlindungan Usaha (KPPU).

Di lain pihak, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman enggan menanggapi pertanyaan mengenai aturan hukum yang dilanggar PT IBU. Ditulis Kompas.com, Amran hanya angkat bicara soal penggerebekan yang dilakukan polisi. Menurutnya, hal tersebut adalah sebuah langkah untuk melakukan kestabilan harga pangan khususnya beras. Ia menilai bahwa saat ini ada kesenjangan keuntungan yang besar antara petani, konsumen dan produsen, padahal pemerintah tengah fokus untuk menjadikan subsidi lebih tepat sasaran sehingga petani benar-benar diuntungkan dengan harga pangan yang juga tidak memberatkan konsumen.

  • view 415