Persekusi dan Upaya Mengancam Kebebasan Berpendapat

Inspirasi News
Karya Inspirasi News Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Juni 2017
Persekusi dan Upaya Mengancam Kebebasan Berpendapat

Setelah tersebar video seorang remaja berusia 15 tahun yang menjadi korban persekusi atau pengejaran oleh sebuah kelompok, berbagai pihak mengecam tindakan tersebut. Hal ini terjadi setelah remaja tersebut menulis sebuah status di akun Facebook pribadinya yang diduga menghina pimpinan kelompok yang bersangkutan.

Terkait hal tersebut, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait yang dikutip Detik.com meminta kepada kepolisian untuk mengusut kasus yang diduga dilakukan sekelompok orang dari FPI tersebut. Ia juga menyebut tindakan tersebut cukup berlebihan karena ada tindak kekerasan berupa pemukulan di kepala dan tindakan verbal yang ditujukan kepada korban. Sebagai lembaga perlindungan anak, Arist menyatakan bahwa pihaknya siap memberikan pendampingan hukum dan terapi psikososial bagi korban. Ia juga menegaskan akan segera meminta pimpinan FPI untuk menghentikan tindakan persekusi terhadap masyarakat khususnya anak. Tindakan ini juga ditakutkan akan menimbulkan dampak psikis bagi korban yang menyuarakan pendapatnya.

Sementara itu, ditulis oleh Okezone.com, Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah memerintahkan kepada seluruh jajaran kepolisian untuk tidak gentar menindak oknum yang melakukan tindakan main hakim sendiri. Perintah tersebut sebagai bentuk respons terhadap tindakan persekusi yang banyak terjadi. Ia juga memerintahkan jajarannya agar menindak tegas perbuatan tersebut dengan hukum yang berlaku. Tito juga mengingatkan kepada seluruh pihak bila ada yang dianggap melanggar hukum untuk dilaporkan ke pihak kepolisian agar segera dilakukan proses hukum, serta tidak main hakim sendiri.

Dilansir dalam Kompas.com, Koalisi Anti Persekusi yang terdiri dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang meliputi LBH Jakarta, LBH Pers, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan lembaga lainnya menilai tindakan persekusi belakangan ini semakin marak dan mengkhawatirkan. Tindakan ini bahkan dianggap sudah mencapai tahap mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi. Ketakutan akan ancaman persekusi nantinya akan menyebar dan menjadi teror yang akhirnya melumpuhkan fungsi masyarakat untuk saling berbicara dan berdebat secara damai. Koalisi Anti Persekusi bahkan mencatat, jumlah korban persekusi semakin bertambah dalam beberapa bulan terakhir terdapat 59 orang yang dilabeli penista agama atau ulama.

Koalisi Anti Persekusi juga memberikan imbauan kepada para korban persekusi untuk melapor ke nomor hotline dengan nomor 0812-8693-8292 atau dengan mengirimkan email ke antipersekusi@gmail.com. Koalisi Anti Persekusi menegaskan akan menjamin kerahasiaan data diri korban.

  • view 106