Lima Buku Terpopuler tentang Korupsi dari GoodReads

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 17 November 2017
Lima Buku Terpopuler tentang Korupsi dari GoodReads

Terinspirasi oleh drama ‘menghilangnya’ tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan KTP elektronik, Setya Novanto, admin redaksi terpikir untuk menghadirkan fiksi dan non fiksi yang paling banyak dibaca oleh pecinta sastra di seluruh dunia.
Sebab menulis fiksi dan non fiksi dengan latar belakang kritik sosial, politik atau pemerintahan merupakan salah satu cara bagus untuk menuangkan gagasan dan kepedulian terhadap kondisi bangsa dan negara. Yuk disimak, kawan inspirator semuanya, daftar di bawah. Siapa tahu akan lahir buku bagus tentang kritik sosial dari tangan kalian sebentar lagi..

  1. The Girl with The Dragon Tattoo karya Stieg Larsson dan diterjemahkan oleh Reg Keeland 
Pasti kalian sudah sering ya mendengar judul yang satu ini sebab telah dibuat ke dalam film. Fiksi ini menduduki tempat teratas sebagai novel yang paling banyak dibaca untuk genre ini.
 
Fiksi ini berkisah mengenai menghilangnya Harriet Vanger, seorang wanita muda keturunan dari keluarga terkaya di Swedia dan mengenai pamannya yang mempercayai Harriet Vanger telah dibunuh. Ada pula Mikael Blomkvist, seorang wartawan yang ditugaskan untuk menginvestigasi hilangnya Harriet. Lalu Lisbeth Salander juga ada di dalam cerita. Ia merupakan seorang peretas berumur 24 tahun yang mempunyai tato dan tindikan tetapi jauh lebih bijak dari orang seumuran dirinya. Ia pun membantu Mikael Blomkvist dalam kasus ini.
 
Tim ini mengungkap fakta di balik keluarga besar Vanger, korupsi yang terjadi di kalangan industrialis di Swedia lalu hubungan tak terduga di antara semuanya.
 
  1. Behind the Beautiful Forevers: Life, Death, and Hope in a Mumbai Undercity oleh Katherine Boo
Di posisi kedua adalah non fiksi karangan Katherine Boo, yang pernah memenangkan Pulitzer Prize, penghargaan bergengsi untuk penulis mau pun wartawan di Amerika Serikat. Buku ini berdasarkan reportase selama tiga tahun tentang dampak perubahan global dan ketidakmerataan terhadap manusia.
 
Annawadi menghuni tempat kumuh dengan latar hotel mewah di dekat bandara Mumbai. Saat India mulai makmur ia pun penuh dengan harapan. Abdul merupakan remaja muslim yang memiliki jiwa mandiri yang melihat ada peluang dari sampah yang dibuang oleh orang kaya. Lalu, Asha, seorang wanita miskin dengan banyak luka di masa lalunya, melihat rute alternatif menuju kelas menengah di India: korupsi politik.
 
Melalui tiga tokoh ini, Katherine Boo mengetengahkan cerita yang mengaitkan satu sama lain menghadapi era yang penuh dengan perubahan.
 
  1. The White Tiger oleh Aravind Adiga
Balram Hawai adalah pria yang rumit. Pembantu. Filusuf. Wirausahawan. Pembunuh. Dalam fiksi ini, Balram berbagi kisah perjalanan hidupnya menjadi orang yang sukses dari sebelumnya tidak punya apa-apa. Yang jadi persoalan adalah cara Balram tidaklah selalu halal. Pertanyaan tentang moral, politik dibungkus dengan teknik penceritaan yang cukup menegangkan sekaligus banyak humor membuat buku ini sangat layak dibaca.
 
  1. The Girl who Kicked the Hornet’s Nest oleh Stieg Larsson dan diterjemahkan oleh Reg Keeland
Lisbeth Salander kembali muncul dalam fiksi ini. Ia dalam kondisi kritis dan dirawat di sebuah rumah sakit di Swedia. Jika dia sembuh maka dia akan dibawa ke Stockholm untuk bersaksi dalam tiga pembunuhan. Berkat bantuan temannya, Mikael Blomkvist, yang juga seorang wartawan, Lisbeth Salander tak hanya bisa membuktikan dirinya tidak bersalah melainkan juga membeberkan pihak dalam otoritas yang membuat orang yang tak bersalah, seperti dirinya, bisa menderita kekerasan dan pelecehan. Lalu Lisbeth Salander pun ingin membalas dendam terhadap orang yang mencoba membunuhnya dan institusi pemerintahan korup yang hampir saja mencelakainya. Lisbeth Salander dulu korban. Kini dia kembali untuk membuat perhitungan.
 
  1. Gone Tomorrow oleh Lee Child
Pelaku bom bunuh diri mudah dideteksi. Mereka memberikan banyak tanda, mayoritas mereka gugup sebab biasanya mereka baru pertama kali melakukannya. Ada 12 hal yang bisa dilacak: tak seorang pun yang pernah bekerja di bidang penegakan hukum akan melupakannya. New York. Subway, jam 2 pagi. Jack Reacher mempelajari sesama pengguna subway saat itu. Lima orang terlihat baik-baik saja. Yang kelima tidak demikian. Kereta pun berhenti di Grand Central Station. Akankah Jack Reacher melakukan intervensi dan menyelamatkan hidup banyak orang? Apakah dia bersalah? Apakah sikapnya akan menyebabkan orang lain kehilangan nyawa mereka, atau bahkan dia sendiri akan mati?
 
 
 

  • view 94